Fajar Nugros naik kelas lewat film Terbang

Fajar Nugroho (memegang mikrofon) saat memberikan keterangan pers tentang film Terbang: Menembus Langit di atrium Kuningan City Mall, Jakarta Selatan (25/9/2017)
Fajar Nugroho (memegang mikrofon) saat memberikan keterangan pers tentang film Terbang: Menembus Langit di atrium Kuningan City Mall, Jakarta Selatan (25/9/2017) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Usai menyuguhkan film Moammar Emka's Jakarta Undercover (tayang 23/2/2017), sineas Fajar Nugroho lewat Demi Istri Production siap menghadirkan satu kisah drama tentang perjuangan hidup Onggy Hianata (55) bertajuk Terbang: Menembus Langit.

Bagi Fajar (38), film tersebut seperti ajang naik kelas. "Pasalnya ini film periodik pertama yang saya garap. Sebelumnya film-film saya sesuai dengan apa yang terjadi sekarang," ujarnya dalam konferensi pers di atrium Kuningan City Mall, Jakarta Selatan (25/9/017).

Sejak pertama kali menyutradarai film panjang lewat Queen Bee (2009), sineas asal Yogyakarta ini belum sekalipun menyentuh ranah film yang perjalanan tokoh utamanya diceritakan secara berkala.

Untuk bisa menceritakan fase hidup sang tokoh utama yang diperankan Dion Wiyoko, masa penceritaan film ini bermula pada dekade 60-an akhir saat Onggy masih kanak-kanak, hingga awal 2000-an.

Menggarap film biografi drama seorang tokoh dengan masa periodik diakui Fajar bukan pekerjaan mudah. Pasalnya ia tidak ingin terjebak dalam klise glorifikasi berlebihan yang biasanya muncul dalam film sejenis.

Sisi manusiawi harus tergali untuk membedakannya dengan malaikat yang tidak pernah berbuat kesalahan. Beruntung lisensi kreativitas tersebut didapatkannya.

Tantangan lain adalah menghadirkan kembali suasana tempo dulu yang jejaknya sekarang sudah tidak bisa ditemukan.

Satu contoh yang harus dikerjakan ulang adalah rumah keluarga Onggy di Tarakan, Kalimantan Utara, yang aslinya sudah tertimbun tanah. "Tim kami terpaksa membangun rumah itu dari nol sesuai yang ada dalam foto-foto," jelas Fajar.

Onggy terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa biasa di Kampung Bugis, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat. Ayahnya, Ong Choi Moi, hanya karyawan biasa dengan gaji seadanya.

Pun demikian, Onggy tidak ingin cita-citanya kandas di tengah jalan oleh keadaan. Usai menamatkan SMA Tunas Kasih, Tarakan, ia melanjutkan studi ke Universitas Satya Widya, Surabaya.

Agar bisa membiayai kuliah, anak kedelapan dari sembilan bersaudara itu kerja serabutan. Mulai berjualan ayam goreng dan kerupuk ia lakoni.

"Saya pernah jual jagung bakar di pinggir jalan. Berbagai pekerjaan saya lakoni yang penting halal," ungkapnya dilansir prokal.co (23/8).

Lewat tokoh Onggy, Fajar coba memberi gambaran bahwa Indonesia adalah tanah harapan. Siapa pun yang memiliki cita-cita punya hak dan kesempatan sejajar untuk mewujudkannya dengan kerja keras.

Selain itu, Fajar menyebut bahwa film ini penting dimunculkan saat sebagian orang mempertanyakan kembali tentang makna kebhinekaan di Indonesia.

"Walaupun banyak hambatan yang kami temui selama proses produksi, para pemain dan kru bekerja dengan suka cita. Mereka juga memberikan lebih dari yang saya harapkan. Semoga banyak orang yang suka dengan film ini," tambah Susanti Dewi, produser sekaligus istri Fajar.

Film Terbang yang direncanakan tayang awal 2018, juga menghadirkan Laura Basuki, Aline Adita, Chew Kin Wah, Melissa Karim, Dayu Wijanto, Baim Wong, Delon, Dinda Hauw, Marcel Darwin, dan Indra Jegel.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR