FILM INDONESIA

Semesta film Benyamin Sueb dikemas ala trilogi

Dari kiri: Frederica, Reza Rahadian, Delia Husein, Bella Barbie, dan Hanung Bramantyo
Dari kiri: Frederica, Reza Rahadian, Delia Husein, Bella Barbie, dan Hanung Bramantyo | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Sukses menghidupkan kembali karakter Dono-Kasino-Indro lewat film Warkop DKI Reborn yang total meraup lebih dari 10 juta penonton, Falcon Pictures melakukan hal serupa untuk Benyamin Sueb.

Nama yang terakhir dituliskan ini adalah seniman asal Betawi dengan banyak kebisaan. Ia piawai berakting, menyanyi, dan melawak. Beragam piala dan penghargaan berdatangan sebagai bentuk pengakuan atas karya-karyanya Bang Ben, sapaan akrab Benyamin yang wafat saat berusia 56 pada 5 September 1995.

Untuk melestarikan sosoknya pada generasi muda, Falcon lantas menunjuk Hanung Bramantyo (42) menyutradarai film Benyamin Biang Kerok.

Melihat judulnya, orang-orang mungkin berpikir bahwa proyek ini merupakan ulang buat dari film berjudul sama rilisan 1972. Kala itu Bang Ben memerankan tokoh bernama Pengki.

Dengan tegas Hanung mengatakan bahwa Benyamin versinya yang dibintangi Reza Rahadian bukanlah versi remake, bukan juga biografi drama alias biopic.

Frederica dari Falcon yang menjadi produser mengaku bahwa keluarga besar Bang Ben sangat mendukung proyek ini.

"Kami melibatkan keluarga Bang Ben dalam proses penulisan skrip dan pemilihan lagu. Jadi tidak ada rambu-rambu spesifik yang menyulitkan," ungkap Erica menjawab pertanyaan Beritagar.id dalam jumpa pers di studio Karnos Film, Cibubur, Jawa Barat (24/1/2018).

Selama proses penulisan skrip, Hanung menemukan ada banyak hal dari film-film Benyamin yang bisa dikembangkan.

Falcon ternyata juga memberikan kanvas lebar untuk Hanung menuangkan gagasan kreatif. Alhasil proyek ini menghasilkan tiga film; Biang Kerok, Biang Kerok Beruntung, dan Tarzan Kota.

Film Biang Kerok yang akan tayang mulai 1 Maret 2018 menceritakan awal mula bagaimana Pengki (diperankan Reza Rahadian) mendapatkan julukan biang kerok.

Pun demikian, jalan ceritanya jauh berbeda dengan versi 1972. Kali ini Pengki bukanlah seorang sopir, melainkan anak seorang yang berpengaruh penting di Indonesia. Dua film lanjutannya menyajikan problem lain lagi.

"Kami ingin sok-sokan mengikuti cara Marvel. Saya pikir ini bentuk formula film komersial yang sedang tumbuh di seluruh dunia, bukan hanya di Amerika Serikat tapi juga di negara lain seperti Korea Selatan dan Rusia," jelas Hanung.

Yang dimaksudkan Hanung adalah metode Marvel menggarap berbagai film pahlawan super tapi saling berkaitan. Dikenal dengan istilah Marvel Cinematic Universe. Hanya saja semesta film Benyamin produksi Falcon dalam skala kecil dan terbatas.

Tidak seperti Warkop DKI Reborn yang sejatinya satu film lantas sengaja dipecah menjadi dua bagian, tiga judul film Benyamin ala trilogi versi Hanung ini hadir dalam cerita utuh.

"Masing-masing film tetap punya struktur tiga babak, yaitu awalan, konflik, dan penyelesaian. Nah, pada akhir cerita kami letakkan cliffhanger," sambung Hanung.

Pendekatan seperti itu punya dua tujuan. Pertama membuat penonton terhindar dari perasaan nanggung karena bisa menyelesaikan seluruh konflik dalam satu film. Selain itu, penonton tetap memiliki rasa penasaran untuk menyaksikan film berikutnya.

Hanung juga membocorkan bahwa proses syuting film Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung dilakukan secara berkesinambungan. Jadwal tayangnya pun tidak mengambil jeda setahun laiknya Warkop DKI Reborn Part. 1 dan Part. 2.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR