FILM INDONESIA

Falsafah hidup dalam film Orang Kaya Baru

(Dari kiri) Cut Mini, Fatih Unru, Lukman Sardi, dan Joko Anwar saat konferensi pers peluncuran trailer film Orang Kaya Baru di CGV fX Sudirman, Jakarta Selatan (11/12/2018)
(Dari kiri) Cut Mini, Fatih Unru, Lukman Sardi, dan Joko Anwar saat konferensi pers peluncuran trailer film Orang Kaya Baru di CGV fX Sudirman, Jakarta Selatan (11/12/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Lukman Sardi menengadah. Tatapannya menerawang. Ia coba mengingat falsafah hidup yang terkandung dalam film Orang Kaya Baru (OKB). Produksi terbaru Screenplay Films dan Legacy Pictures yang akan tayang 24 Januari 2019.

“Menurut gue nilai besar dalam film ini adalah menumbuhkan respek kepada orang tua. Ada juga soal empati yang akan menjadi sentilan buat kita semua,” terang Lukman dalam jumpa pers peluncuran cuplikan film OKB di CGV fX Sudirman, Jakarta Selatan (11/12/2018).

Skenario film bergenre drama komedi ini adalah hasil racikan Joko Anwar. Kendali penyutradaraan diserahkan kepada Ody C. Harahap yang akrab disapa Ocay.

Ceritanya tentang sebuah keluarga yang kaya mendadak. Mereka terdiri dari Ibu (Cut Mini Theo) dan Ayah (Lukman) bersama tiga anak mereka, Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero), dan Dodi (Fatih Unru).

Awalnya keluarga ini menjalani kehidupan sehari-sehari dengan serba apa adanya. Hendak membeli sesuatu tak pernah kesampaian karena uang tak punya.

Keadaan susah itu berubah ketika sang ayah meninggal. Mereka ternyata mendapat warisan harta berlimpah karena aslinya sang ayah orang yang sangat kaya.

Warisan harta tersebut kemudian digunakan oleh istri dan ketiga anaknya untuk berfoya-foya. Alhasil mereka jadi gelap mata. Dari yang tadinya hidup susah, kini bisa dengan mudahnya membeli rumah besar, mobil, dan barang-barang mewah lainnya.

Sebagai penulis skenario, Joko mengaku cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata kehidupan masa kecilnya. Saat itu ia masih tinggal di gang sempit di pinggiran Kota Medan.

Dalam sebuah tayangan video di akun Pijaru, Joko mengaku lingkungan tempat tinggalnya sangat tidak kondusif untuk tumbuh kembang anak. Penyebabnya karena angka kriminalitas begitu tinggi.

Bukan pemandangan asing bagi Joko melihat perkelahian antargeng preman menggunakan senjata tajam, perjudian, pencurian, hingga perdagangan narkoba.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dari keluarga menengah ke bawah, Joko kerap menyenangkan hati dengan berkhayal jadi orang kaya agar bisa membeli buku dan komik yang banyak.

“Pasalnya kalau mau beli buku, saya harus menunggu waktu lama. Ngumpulin duit jajan dulu,” tambahnya.

Terkait falsah hidup yang disisipkan dalam OKB dan keterkaitannya dengan kehidupan nyata, Lukman masih ingat jelas nasihat mendiang ayahnya, maestro biola Idris Sardi (1938-2014).

“Intinya ayah menasihati untuk jangan sombong. Apalagi dalam bidang kesenian yang saya geluti sekarang. Karena kata ayah, semua yang saya kerjakan berkat bantuan orang lain. Dan lagi, penilaian orang banyak terhadap sebuah karya bisa beda-beda. Mungkin yang satu bilang bagus, sementara yang lain bilang tidak,” terang Lukman.

Nasihat yang didapatkan Cut Mini dari mendiang ayahnya juga serupa. “Ayah saya meninggal ketika saya masih kecil. Jadi beliau menitipkan nasihatnya kepada ibu. Beliau mengingatkan kami untuk selalu melihat ke bawah dan hidup ada adanya. Jangan mengambil yang bukan hakmu.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR