FILM INDONESIA

Fariz Alfarazi jadi Bujang Gila dalam Wiro Sableng

Fariz Alfarazi berpose untuk Beritagar.id dalam konferensi pers yang berlangsung di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018).
Fariz Alfarazi berpose untuk Beritagar.id dalam konferensi pers yang berlangsung di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Badannya gemuk. Rambutnya panjang. Pakaiannya terbalik. Ia memegang sebuah kipas lipat, yang ternyata merupakan senjata. Karakter dalam film Wiro Sableng itu adalah Bujang Gila Tapak Sakti, rekan sekaligus sahabat dari tokoh titular.

Pemeran Bujang Gila dalam film garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini adalah Fariz Alfarazi. Sebagai aktor, lelaki berusia 30 itu benar-benar baru. Lalu bagaimana Fariz bisa tiba-tiba memerankan karakter yang relatif penting dalam waralaba Wiro Sableng?

Ihwalnya adalah undangan casting dari Yayan Ruhian, pemeran Mahesa Birawa sekaligus koreografer Wiro Sableng. Kebetulan Fariz adalah mantan atlet pencak silat yang kini jadi anggota Uwais Team, tim koreografer silat bentukan aktor Iko Uwais. Fariz bahkan sempat jadi figuran dalam film-film Iko seperti The Raid 2 dan Headshot.

"Kami bertemu di rumah Iko (Uwais), dia tawarkan saya untuk coba casting. Awalnya saya pikir untuk peran kecil lain, tiba-tiba saya dikasih kepercayaan untuk Bujang Gila Tapak Sakti. Saya coba dengan kepasrahan. Iseng-iseng saja dulu," ungkap Fariz dalam konferensi pers yang berlangsung di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018).

Menurut produser Sheila Timothy yang juga hadir di tempat yang sama, sangat sulit mencari pemeran tokoh Bujang Gila. Karakter ini sangat lucu, bisa menjadi pencair suasana bertarung yang serius. Meski sering berguyon, tapi ilmu silatnya tinggi, bahkan jauh di atas Wiro Sableng.

Perempuan yang akrab dipanggil Lala ini mengaku pemilihan Fariz sebagai Bujang terjadi belakangan, setelah pemeran lain sudah ditemukan. Direktur LifeLike Pictures ini bahkan mengaku sempat berpikir untuk menggunakan jasa aktor berbadan standar yang "digemukkan" menggunakan prostetik.

"Kami harus mencari aktor yang agak gemuk, tapi juga jago silat. Kang Yayan sebut ada dari Uwais Team. Dari pertama lihat hasil casting kami langsung jatuh hati. Fariz benar-benar deliver dengan baik sekali. Dia lucu tanpa jadi slapstick atau berusaha melucu," ungkap Lala.

Meski begitu, Fariz tidak langsung terpilih karena kehati-hatian LifeLike Pictures dalam memilih tiap pemeran. Ia pun dipasangkan dengan Vino dalam sebuah casting.

"Ternyata chemistry-nya bagus banget. Aktingnya luar biasa banget, chemistry-nya Wiro dan Bujang kayak bromance, itu dapat banget. (Dia jadi) scene stealer dan kami sangat enjoy," terang perempuan yang juga ipar Vino G. Bastian ini.

"Kata Mbak Lala, jadi Bujang Gila cukup jadi diri sendiri aja. Tapi saya butuh referensi lagi.
Masukan banyak dari Mas Angga, Vino, dan Mbak Lala," ungkap Fariz. "Saya dituntut seperti orang bercanda, main-main tapi fighting. Emosinya seperti merendahkan orang. Ekspresi ketawa-ketawa bahkan saat mukul, itu pertama kali agak sulit mengaturnya."

"Bang Vino dan teman lain mau kasih tahu dan untungnya sutradara sabar. Alhamdulilah dapat tim yang support banget," jelas pria yang ulang tahun setiap 30 Juli ini.

Tantangan berikutnya soal pertarungan. Jika dibandingkan dengan Vino yang "anak baru", bahkan dengan Sherina yang jago wushu, ilmu silat Fariz sudah relatif mumpuni. Tetap saja ada yang harus dipelajari Fariz, sebab karakter Bujang Gila bersenjatakan kipas, yang belum pernah ia gunakan dalam kehidupan nyata.

"Fighting yang ada kipas saya mempelajari lebih lama ketimbang tangan kosong. Selama seminggu benar-benar latihan pakai kipas. Dibawa ke rumah dimain-mainkan terus sambil nonton TV," ungkap Fariz sambil tertawa.

Bagi lulusan SMAN 1 Babelan, Bekasi ini, Wiro Sableng adalah sebuah potensi besar untuk semakin mengenalkan ilmu silat pada generasi muda. "Wiro Sableng ini benar-benar menunjukkan beladiri silat. Kalau yang lain sudah dipadukan dengan fighting jalanan. Di (Wiro Sableng) ada kuda-kudanya, cara pukulnya, tendangnya," terang Fariz.

Lebih dari itu, kisah Wiro Sableng punya kenangan tersendiri untuk pria kelahiran Jakarta ini. Pamannya, yang ia anggap seperti ayah sendiri, adalah penggemar novel "Wiro Sableng". Sayangnya sang paman belum sempat mengetahui kalau keponakannya bakal main dalam pengejawantahan serial novel tersebut dalam bentuk film.

"Waktu itu sudah sempat mau ngomong pas saya dapat peran ini. Sebulan kemudian dia meninggal," tutup Fariz dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR