Festival Film Musik Makan 2017 khusus memutarkan film panjang

Suasana konferensi pers Festival Film Musik Makan 2017 yang berlangsung di Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan (16/2).
Suasana konferensi pers Festival Film Musik Makan 2017 yang berlangsung di Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan (16/2).
© Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Inisiatif distribusi film dari Yayasan Cipta Cita Indonesia, Kolektif, kembali menggelar Festival Film Musik Makan (FMM) di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat (4/3/2017). Khusus pada penyelenggaraan keempat ini, semua yang diputar adalah film panjang dengan prestasi internasional.

Jika menilik sejarah FMM yang berlangsung sejak 2014, maka keputusan untuk hanya memutarkan film panjang merupakan pertama kalinya.

Menurut keterangan pihak Kolektif kepada Beritagar.id, alasan meniadakan pemutaran film pendek murni karena keterbatasan jumlah produksi film pendek yang mampir di meja mereka.

"Para sineas yang film-film pendeknya pernah kita putar di FMM, seperti Edwin, Lucky Kuswandi, Wregas Bhanuteja, dan lain-lain, sekarang bikin film panjang semua. Ha-ha-ha," kelakar Gayatri Nadya dalam jumpa pers yang berlangsung di microcinema Kinosaurus, Kemang, Kamis (16/2).

Alasan lain agar penyelenggaraan FMM lebih fokus. Pasalnya pada FMM 2016 yang berlangsung dua hari, sesi pemutaran dua film panjang dan 12 film pendek membuat titik fokus sedikit terpecah-belah.

Pengisi FMM tahun ini dari kategori film adalah Ziarah (Purbanegara Film dan Limaenam Films) karya BW Purba Negara, Apprentice produksi Singapura yang disutradarai Boo Junfeng, dan Turah (fourcolours films) arahan Wicaksono Wisnu Legowo.

Ketiga film tersebut sudah mendapatkan pengakuan dalam berbagai ajang apresiasi film di kancah lokal dan internasional.

Ziarah misalnya. Film panjang perdana BW Purba Negara ini mendapatkan penghargaan sebagai Best Asian Feature Award di Salamindanaw Asian Film Festival 2016.

Turah jadi salah satu penerima Special Mention di kategori Asian Feature Film dalam ajang Singapore International Film Festival 2016. Film yang diproduseri Ifa Isfansyah itu juga memenangkan Geber Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016.

Sementara Apprentice mewakili Singapura untuk berlaga di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Academy Awards ke-89, meski kemudian tidak berhasil lolos sebagai nomine. Junfeng juga mendapatkan gelar sebagai Rising Director di Busan International Film Festival 2016 berkat film ini.

Menurut rencana, akan ada sesi tanya jawab dengan Raymond Phathanavirangoon (produser film Apprentice) usai penayangan.

FMM tak lengkap tanpa suguhan musik dan makanan. Jika tahun lalu pengunjung dihibur oleh penampilan Irama Nusantara dan MMS, kali ini giliran grup musik Pandai Besi yang bakal hadir sekaligus memperkenalkan single terbaru bertajuk "Rintik".

Kepada awak media yang hadir, Meiske Taurisia selaku penggagas FMM mengaku bahwa ide menyelenggarakan acara yang mempersatukan penggemar film, musik, dan makanan ini justru tidak bisa dilepaskan dari musik.

"Saya itu selalu sirik dengan anak-anak musik. Karena menurut saya mereka itu enak banget. Setiap bikin acara, mereka sudah punya massa sendiri. Saya ingin FMM bisa seperti itu," ungkap Dede, sapaan Meiske.

Pandai Besi yang diwakili Muhammad Asranur (keyboard) dan Dimas Ario (manajer) kontan tertawa mendengar pernyataan tersebut.

Suguhan terakhir FMM yang sayang jika dilewatkan adalah lapak makan sineas.

Beberapa menu yang bakal terhidangkan adalah; Mie Ayam Kecombrang dan Nasi Pedas Cipete buatan Lola Amaria (sutradara); Panggang Bro yang dilengkapi sambal andaliman dan sayur pakis oleh Batara Goempar (penata kamera); serta Lumpia Semarang dan Sego Cempluk dari Aline Jusria (penyunting gambar).

Bagi para pengunjung yang ingin menghadiri FMM, acara berlangsung sejak pukul 12.00-23.00 WIB. Jangan lupa menyisihkan Rp200 ribu untuk donasi sebagai pengganti uang tiket yang belum termasuk ongkos jika ingin mencicipi ragam menu kuliner di lapak makan sineas.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.