FILM INDONESIA

Festival internasional jadi pemanasan untuk Kucumbu Tubuh Indahku

Penampilan Rianto dalam film Kucumbu Tubuh Indahku
Penampilan Rianto dalam film Kucumbu Tubuh Indahku | Fourcolours Films

Setelah tayang pada puluhan festival berkelas internasional, akhirnya Kucumbu Tubuh Indahku diputar untuk bioskop-bioskop dalam negeri mulai Kamis (18/4/2019).

Film ini tayang perdana di Italia dalam Festival Film Internasional Venesia ke-75 pada awal September 2018. Setelah itu, Kucumbu Tubuh Indahku sudah mampir di berbagai negara, dari Prancis, Australia, Belanda, dan masih banyak lagi.

Sutradara Garin Nugroho mengungkap bahwa itu adalah strateginya untuk membentuk pasar di negeri ini.

“Festival adalah salah satu jalan membentuk pasar,” ungkap Garin kepada Beritagar.id setelah pemutaran perdana Kucumbu Tubuh Indahku untuk kalangan pers di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, pada Senin (15/4/2019).

“Pasar itu dibentuk. Film saya ingin membentuk. Tak usah besar, kecil saja tak apa-apa,” lanjut sineas berusia 57 ini.

Yang diinginkan Garin adalah sebuah pasar kecil yang bersifat khusus. Sutradara Daun di Atas Bantal (1998) ini menyatakan bahwa harus ada keseimbangan adalah pasar besar dan pasar khusus. “Kalau semua mau mengenal pasar besar saja, negara akan mundur,” ujar Garin.

Ia menganalogikan, olahraga non-mainstream seperti catur akan punah, jika semua orang hanya mau memainkan olahraga populer seperti sepakbola saja.

Kisah Kucumbu Tubuh Indahku, yang ditulis oleh Garin, memang tak mainstream. Film ini diilhami kisah Rianto, seorang penari lengger lanang --sebutan untuk penari laki-laki yang membawakan tarian perempuan.

Meski inspirasi berasal dari cerita Rianto, Kucumbu Tubuh Indahku merupakan kisah tokoh fiktif bernama Juno sejak kecil hingga dewasa.

Singkatnya, mengangkat peleburan tubuh maskulin dan feminin secara alami dalam diri Juno lewat berbagai ingatan dari tubuhnya --judul internasional film ini adalah Memories of My Body.

Rianto juga hadir sebagai Juno dewasa, sekaligus narator dalam film ini. Juno (versi cilik diperankan Raditya Evandra, remaja oleh Muhammad Khan) selalu melihat kekerasan sejak awal hidupnya. Dari trauma kekerasan politik yang dialami sang ayah, hingga trauma kekerasan fisik ketika Juno masuk kelompok lengger di desanya.

Trauma akibat kekerasan bikin Juno berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Perpindahan itu membuat Juno bertemu banyak sosok manusia, dari petinju, bupati korup, hingga maestro penari Reog. Perpindahan ini juga menjadi sebuah perjalanan tubuh yang membuat Juno kembali menemukan keindahan tubuhnya.

Dalam kisah di atas, yang mendapat porsi terbesar adalah Muhammad Khan, pemeran Juno remaja. Inilah film pertama Khan, lelaki yang sebelumnya berprofesi sebagai pemain teater.

Biarpun pendatang baru, Khan dianggap Garin mampu mengangkat tokoh Juno dengan berbagai memori kekerasan di tubuhnya. “Yang paling penting adalah ia harus tahu betul tubuh pribadi dia. Tubuh dia pribadi, menurut saya, maskulin-femininnya cukup besar dibanding aktor lain,” jelas Garin.

Inti dari film ini adalah ingatan dalam tubuh seorang lelaki dengan berbagai trauma di dalamnya. “Semua trauma yang tidak terpecahkan atau bertransformasi hanya menjadi kekacauan pikiran. Dan berujung bisa menjadi saling mengancam, menafsir, dan berujung kekerasan,” tutup Garin.

Kucumbu Tubuh Indahku juga dibintangi oleh Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Whani Dharmawan, Endah Laras, Fajar Suharno, Windarti, dan Randy Pangalila.

Film ini diproduksi oleh Fourcolours Films, rumah produksi yang didirikan oleh sineas Ifa Isfansyah.

Trailer "Kucumbu Tubuh Indahku" (Memories of My Body) /Fourcolours Films
Beritagar.id merupakan mitra media untuk film Kucumbu Tubuh Indahku
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR