FILM INDONESIA

Film ekranisasi Indonesia nan diminati

Muni Cader (kanan) dan Rachmat Hidayat dalam film Bulan di Atas Kuburan, ekranisasi dari sebaris puisi karya Sitor Situmorang yang difilmkan pada 1973.
Muni Cader (kanan) dan Rachmat Hidayat dalam film Bulan di Atas Kuburan, ekranisasi dari sebaris puisi karya Sitor Situmorang yang difilmkan pada 1973. | FlikTV /Youtube.com

Film Indonesia yang diangkat dari kisah novel atau buku cerita (ekranisasi) belakangan menjamur. Namun praktik ini bukan barang baru dalam sejarah perfilman Indonesia, bukan tren sesaat berusia satu atau dua dekade terakhir.

Ekranisasi merupakan istilah yang diadopsi dari kata "ecran" dalam bahasa Prancis yang berarti layar. Pamusuk Eneste dalam bukunya, "Novel dan Film" (Penerbit Nusa Indah, 1991), mengartikannya sebagai pelayarputihan, pemindahan, pengangkatan, atau adaptasi sebuah karya sastra (novel, cerita pendek/berseri, biografi, puisi) ke dalam film.

Jika menengok sejarah, ekranisasi hadir seturut kelahiran industri perfilman sebuah negara.

Laiknya bayi yang baru lahir, beberapa komponen dalam film --termasuk cerita, harus menyadur dari medium lain karena naskah berupa cerita asli masih sangat sedikit. Folklor, naskah drama, atau novel kemudian jadi pilihan.

Indonesia pertama kali mengenal "gambar idoep" sejak bioskop pertama hadir di Batavia alias Jakarta pada 5 Desember 1900. Sementara film cerita pertama berjudul Loetoeng Kasaroeng hadir 26 tahun kemudian. Kisahnya merupakan adaptasi dari legenda terkenal di Jawa Barat.

Berselang setahun dari perilisan Loetoeng Kasaroeng, G. Kruger melalui Java Film Co. memproduksi film Eulis Atjih. Kali ini pondasi ceritanya berasal dari novel berbahasa Sunda bertajuk "Tjarios Eulis Atjih" karya Akhmad Bassah alias Joehana.

Sebagai medium hiburan yang masih baru dan asing, film waktu itu kalah populer dibandingkan toonel dan stamboel. Untuk mengakalinya, produser mengolah cerita-cerita yang sudah kadung populer di masyarakat agar dapat menyedot lebih banyak penonton.

Beberapa karya sastra laris dan terkenal, pada zaman kiwari pasti sudah mendapat label "best seller", menjadi salah satu pilihan utama selain berbagai cerita rakyat nan melegenda.

Alasan tersebut bertahan hingga sekarang. Selain karena sulit mencari naskah orisinal yang bagus dan menarik untuk diproduksi, mengadaptasi novel atau buku punya beragam keuntungan.

Khusus di Indonesia, memproduksi film masih ibarat berjudi. Sebab belum ada rumus pasti yang bisa menjamin sebuah film bakal meraup banyak penonton sehingga bisa menangguk keuntungan.

Padahal untuk memproduksi satu judul film dengan kualitas tata suara dan gambar yang laik tayang di bioskop dibutuhkan dana antara 2-10 miliar rupiah.

Bermodalkan novel laris yang sudah punya banyak pembaca, film hasil adaptasi punya kans mendapatkan hasil serupa. Minimal dari para pembaca setia novel yang sudah terbentuk.

Bukan hanya karena faktor sudah punya cermin alias calon penonton tadi, ada juga alasan lain mengapa lebih memilih menggarap ekranisasi alih-alih cerita baru.

Sutradara kenamaan Indonesia yang punya segudang prestasi, Sjumandjaja (1934-1985), pernah mengungkapkan alasannya mengadaptasi novel "Atheis" (Balai Pustaka, 1949). Sjumandjaja merasa para tokoh dalam novel itu seolah berbicara kepadanya untuk minta kisahnya difilmkan.

Novel itu memang menarik. Bukan hanya laris, novel karya Achdiat K. Mihardja itu sempat menuai kontroversi--terutama pada kalangan pemuka agama.

Saat rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bahkan menganggapnya sebagai buku yang tidak pantas dibaca begitu saja oleh umum.

Para pembaca novel "Atheis" harus memeroleh izin Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) yang dibentuk menggantikan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Versi filmnya setali tiga uang. Sempat beberapa lama tertahan di Badan Sensor Film. Walaupun akhirnya diizinkan tayang di bioskop, film tersebut mengalami sejumlah pengguntingan adegan alias sensor.

Laskar Pelangi (2008) masih jadi ekranisasi paling laris di Indonesia dengan perolehan lebih dari 4,7 juta penonton
Laskar Pelangi (2008) masih jadi ekranisasi paling laris di Indonesia dengan perolehan lebih dari 4,7 juta penonton | /Miles Films dan Mizan Production

Sebenarnya tidak sedikit film Indonesia hasil ekranisasi yang gagal di pasaran. Atau tidak jarang para pembaca novel gagal menemui film tersebut lantaran peredarannya di bioskop tidak berlangsung lama.

Penyebab kegagalan sebuah proyek adaptasi novel laris bisa beragam. Bisa karena faktor kurangnya promosi, para pemain terpilih tidak sreg di benak para pembaca, atau hasil akhir yang melenceng jauh dari versi novel.

Perkara terakhir itu suka atau tidak pasti terjadi. Bagaimanapun sebagai produk audio visual, sutradara pasti melakukan sejumlah perubahan atau penyesuaian. Tidak mungkin memindahkan semua yang tercantum dalam buku atau novel yang notabene literer dan tanpa batas itu.

Jangankan di Indonesia, Hollywood sebagai kawah candradimuka industri perfilman dunia juga sering melakukan hal demikian. Sebagai contoh, film The Girl on the Train (2016) dari novel berjudul identik.

Dalam versi novel, Paula Hawkins menulis bahwa tempat kejadian berlangsung di London (Inggris). Pada versi film, sutradara Tate Taylor memindahkan lokasi para tokohnya ke pinggiran kota New York, Amerika Serikat.

Memindahkan lokasi agar sesuai bujet, memasukkan tokoh baru, hingga mengubah sedikit premis cerita agar punya perbedaan untuk menghadirkan kejutan bagi penonton --terutama yang telah membaca versi novelnya-- adalah hal-hal yang sering terjadi dalam sebuah ekranisasi.

Novelis dengan beragam karya yang sudah diadaptasi ke dalam layar lebar; semisal Dee Lestari, Asma Nadia, Adhitya Mulya, Tere Liye, hingga Ika Natassa, dan Achi TM yang muncul belakangan, memaklumi sejumlah perubahan tersebut.

Benni Setiawan yang telah menyutradarai dan menulis naskah tujuh ekranisasi sepanjang kariernya sejak 2009, termasuk Insya Allah Sah, mengaku selalu membedakan isi cerita film dengan versi novel.

Kebanyakan penulis novel yang naskahnya difilmkan, lanjut Benni, hanya mensyaratkan agar karakter para tokoh utama jangan sampai diganggu gugat.

Itu sebabnya tren ekranisasi tampaknya belum akan surut kendati taruhan kesuksesannya tidak kecil.

Benni kepada Beritagar.id mengaku sudah ditunjuk MD Pictures untuk menyutradarai "Faith and the City", novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

Pasangan suami istri tersebut pernah menerbitkan novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan kemudian difilmkan Maxima Pictures dalam dua bagian.

Sementara Achi TM, pengarang novel Insya Allah Sah, membeberkan bahwa Manoj Punjabi dari MD Productions juga telah membeli satu hak adaptasi novelnya yang lain. Namun Achi enggan membocorkan judulnya.


Dominasi film ekranisasi Indonesia

Alasan lain yang membuat ekranisasi masih jadi pilihan terkait kansnya mendulang banyak pemasukan. Khusus 2017 (hingga 24/6), film hasil adaptasi novel terbukti masih mendominasi pasar. Itu terlihat dalam daftar lima besar film Indonesia terlaris.

Danur menempati posisi tertinggi. Kemudian ada Surga yang Tak Dirindukan 2 (1,6 juta penonton), Critical Eleven (881 ribu), dan Dear Nathan (700 ribu). Praktis hanya London Love Story 2 (862 ribu) di peringkat empat yang bukan hasil adaptasi novel.

Seturut popularitas Wattpad, situs web blogging dan aplikasi tempat menulis atau membaca cerita, sumber pencarian ide cerita baru jadi makin beragam.

Film Dear Nathan (tayang 23/3) dan A: Aku, Benci & Cinta (16/8) merupakan contoh film yang diawali oleh cerita bersambung di Wattpad.

Sementara itu, dari medium yang lebih konvensional yakni versi cetak, beberapa hak cipta memfilmkan novel juga sudah diamankan para produser.

Dalam waktu dekat, beberapa produksi ekranisasi sudah masuk perencanaan oleh sejumlah perusahaan pembuat film. Misalnya Hujan Bulan Juni dan Wiro Sableng 212.

Merujuk data situs filmindonesia.or.id, enam dari 10 judul film Indonesia teratas dalam kurun satu dekade terakhir merupakan hasil ekranisasi.

Paling tinggi ditempati Laskar Pelangi (4,7 juta penonton - peringkat 2), kemudian Habibie & Ainun (4,5 juta - 3), Ayat-Ayat Cinta (3,5 juta - 5), My Stupid Boss (3,05 juta - 6), Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta - 7), dan Eiffel I'm in Love (2,6 juta - 10).

Bahkan melihat grafik di atas terlihat bahwa 16 dari 36 judul film yang mendapatkan penonton di atas satu juta orang adalah film adaptasi novel (44,4 persen).

Persentase dominasi meningkat apabila metode pencarian dipersempit, misalnya kategori film dengan penonton di atas dua juta orang dalam satu dasawarsa terakhir.

Dari 12 film dengan penonton di atas dua juta orang, sembilan film atau 75 persen di antaranya adalah jenis ekranisasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR