FILM INDONESIA

Film Gundala memberikan kesempatan penonton berimajinasi liar

Semarak gala premiere film Gundala di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (28/8/2019)
Semarak gala premiere film Gundala di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (28/8/2019) | Poplicist

Sejak awal ketika proyek memfilmkan Gundala diumumkan kepada publik, April 2018, sejumlah asa telah dititipkan ke pundak Joko Anwar selaku sutradara dan peracik skenario.

Mulai dari segi penggunaan teknologi, estetika, pemilihan pemain, alur cerita, hingga perbandingan dengan film-film bertema pahlawan super sejenis produksi luar negeri.

Joko bersama tim produksi tentu saja mafhum dengan semua itu. Pasalnya bagaimanapun juga film adaptasi komik Gundala karya Hasmi ini dianggap laiknya film-film adaptasi komik lain bikinan Hollywood.

Terlebih ketika Screenplay Bumilangit berniat menghadirkan pula Jagat Sinema Bumilangit (JSB) Jilid pertama dengan Gundala sebagai pembuka.

Model proyek beberapa film superheroes yang saling berkelindan tersebut laiknya Marvel Cinematic Universe dan DC Extended Universe.

Setelah lebih dari setahun usai diumumkan pertama kali, film Gundala yang diproduksi bareng Screenplay Films, Bumilangit Studios, Legacy Pictures, dan Ideosource Entertainment akhirnya tayang.

Kalangan jurnalis mendapat kesempatan menonton sehari lebih awal dari jadwal perilisan resmi untuk publik.

Bertempat di Studio 2 XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (28/8/2019), yang dilengkapi Dolby Atmos, sorak-sorai menggema usai film berdurasi sekitar 123 menit itu tuntas.

Jika menggunakan respons tersebut sebagai patokan awal, maka kehadiran film bertema pahlawan super ini bolehlah memenuhi ekspektasi Joko bersama timnya.

“Kami ingin membuat film ini terkesan menggigit karena membiarkan imajinasi penonton liar,” ujar Joko.

Caranya dengan sering kali sengaja tidak menyoroti adegan kekerasan di mana tokoh pemerannya akan mengeluarkan darah.

“Untuk adegan fighting sengaja kami tidak menampilkan adegan darah. Angle kamera sengaja tidak menyorotinya,” tambah sineas berusia 43 itu.

Trik tersebut, dituturkan Joko, bukan hanya dimaksudkan untuk membiarkan penonton bebas berimajinasi, tapi juga untuk membuat Gundala lebih friendly saat ditonton oleh mereka yang belum genap berumur 13 tahun. Tentu saja dengan pengawasan atau ditemani penonton yang berusia lebih dewasa.

Film Gundala bercerita tentang Sancaka telah hidup di jalanan sejak orang tuanya
meninggalkannya.

Menjalani kehidupan yang berat, Sancaka bertahan hidup dengan memikirkan keselamatannya sendiri.

Saat keadaan kota semakin memburuk dan ketidakadilan berkecamuk di seluruh negara, Sancaka harus memutuskan apakah terus hidup menjaga dirinya sendiri atau bangkit menjadi pahlawan bagi yang tertindas.

Kehadiran Gundala sebagai tokoh patriot pertama dalam JSB Jilid 1 diharapkan bisa memberikan bukti kepada generasi muda bahwa Indonesia mempunyai tokoh jagoan laiknya superhero di luar negeri yang layak dibanggakan.

Sukses film Gundala akan memicu kehadiran beberapa film lain dari tokoh-tokoh komik jagoan lokal, semisal Sri Asih, Godam, Tira, Maza, Merpati, Mandala, Si Buta dari Gua Hantu, Bidadari Mata Elang, Virgo, Cempaka, Aquanus, dan lain-lain.

“Film Gundala ini kami bikin dengan cerita membumi dan hati yang besar. Dengan dukungan masyarakat yang besar pula, kami berjanji tidak akan mengecewakan penonton,” pungkas Joko.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR