FILM INDONESIA

Film horor Indonesia gagal populer ketika berbumbu mesum

Seorang model memerankan Suzanna dalam konferensi pers peluncuran cuplikan film Bernapas dalam Kubur di kantor Soraya Intercine Films di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/9/2018).
Seorang model memerankan Suzanna dalam konferensi pers peluncuran cuplikan film Bernapas dalam Kubur di kantor Soraya Intercine Films di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/9/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Belakangan, masyarakat disuguhi banyak film horor Indonesia. Setiap bulan, bisa ada 3-4 film menyeramkan yang dirilis di bioskop.

Bulan depan, misalnya, dipastikan ada Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, yang mengubah wujud aktris Luna Maya menjadi ikon horor era 1980-an Suzanna Martha Frederika van Osch.

Popularitas film horor dalam industri lokal tak lepas dari nama Suzanna. Aktris yang meninggal pada 2008 ini sudah jadi bintang horor sejak Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), tapi Sundel Bolong-lah yang melambungkan namanya sebagai ikon film horor Indonesia.

Sundel Bolong menjadi film terlaris ketiga pada 1981 dengan mengundang 301.200 penonton ke bioskop. Film garapan sutradara Sisworo Gautama ini bisa dibilang salah satu tonggak awal popularitas film horor di Indonesia.

Sejak Sundel Bolong, film horor terus bermunculan dengan Suzanna sebagai lokomotif utama. Tetapi belum ada yang mampu masuk lima film teratas hingga 2001 ketika Jelangkung mengundang 748.003 orang, hanya dari Jabodetabek.

Tak pelak film itu jadi yang terlaris saat itu dan menjadi salah satu tongkat kebangkitan perfilman nasional setelah sempat mati suri pada 1990-an. Film garapan sutradara Rizal Mantovani dan Jose Poernomo ini sangat menguntungkan bagi pembuatnya.

MetroTVNews (29/10/2014) mencatat, Jelangkung ditonton 1,3 juta orang dari seluruh Indonesia dan menghasilkan Rp5 miliar. Padahal biaya produksinya cuma Rp400 juta hingga Rp1 miliar.

Bandingkan dengan Petualangan Sherina (2000), film drama karya Riri Riza yang menghabiskan biaya Rp2 miliar dengan jumlah penonton kurang lebih sama.

Biaya produksi film horor memang relatif murah, bahkan bila dibanding dengan drama. Biasanya, genre ini hanya perlu syuting di satu lokasi atau beberapa lokasi yang berdekatan. Contohnya rumah, hutan, atau bangunan terabaikan.

Bintang-bintangnya juga tak usah terlalu tenar. Yang penting, filmnya bisa bikin penonton berteriak ketakutan.

"Bukannya cerita tidak penting, tapi kadang penonton juga tidak ingat itu. Pas misalnya mereka lihat ada karakter yang mati, kadang mereka juga tidak peduli kenapa dia mati. Mereka pedulinya bisa kaget berapa puluh kali," ungkap Nayato Fio Nuala alias Koya Pagayo, salah satu sutradara spesialis film horor kepada FilmIndonesia.or.id.

Setelah kesuksesan Jelangkung, jumlah film horor menanjak -- terutama sejak 2006 ketika perfilman Indonesia sudah mampu membuat lebih dari 70 film setiap tahun. Dekade ini melahirkan nama-nama sutradara spesialis horor seperti Koya Pagayo (20 dari 21 film) dan Jose Poernomo (16 dari 20 film).

Sutradara dengan rekam jejak menggarap film horor
Sutradara dengan rekam jejak menggarap film horor | Lokadata Beritagar.id

Namun, biaya murah juga bisa menghasilkan film yang murahan. Sebagian film horor pasca-Jelangkung menjadi bahan caci maki karena kualitasnya yang buruk.

Demi menarik penonton, seks dan horor disatukan dalam satu layar. Bahkan, bintang film dewasa asal Jepang dan Amerika Serikat (AS) pun beberapa kali diajak main film horor sebagai daya tarik utama.

Rin Sakuragi dari Jepang diajak main dalam Suster Keramas (2009). Sasha Grey dari AS bermain dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011).

Muchlis Paeni, ketua Lembaga Sensor Film pada 2010, mengaku kerap dibuat pening oleh film-film horor bercampur mesum. Seorang stafnya pernah melaporkan ada sebuah film bergenre horor yang dibabat hampir separuhnya karena penuh adegan mesum.

"Film ini bakal tidak bisa tayang kalau gunting kami bekerja," kata Muchlis kepada Tempo.co (29/3/2010). "Kalau dipaksa tayang, film itu tidak akan bisa karena tidak sesuai standar durasi."

Karena kualitas seadanya dengan resep horor campur bumbu mesum saja, masyarakat menjadi jenuh dan malas nonton horor. Akibatnya langsung terasa pada periode 2011 hingga 2016. Berdasarkan data yang dipelajari Lokadata Beritagar.id, tak satupun film horor periode itu masuk dalam lima besar film terlaris.

Data film horor terlaris kurun 1976-2018
Data film horor terlaris kurun 1976-2018 | Lokadata Beritagar.id

Cinema Poetica mencatat ada 19 film horor dengan raihan 2,99 juta penonton pada 2012. Ini adalah angka terburuk dalam lima tahun.

Sementara pada 2008, ada 19 film horor dengan 7,6 juta; 22 film horor dengan 7,23 juta penonton pada 2009; 19 film horor dengan 4,53 juta penonton pada 2010; dan 10 film horor dengan 2,42 juta penonton pada 2011.

Biaya produksi film horor pada 2010-2012 diperkirakan semakin rendah saja, hanya sekitar Rp600 juta hingga Rp1 miliar. Bandingkan dengan film lokal lain yang biasa menelan biaya Rp2-4 miliar.

Lanskap film horor di tangga film terpopuler kembali berubah pada 2017 ketika Pengabdi Setan menjadi film nomor satu dengan pencapaian 4,2 juta penonton. Film karya Joko Anwar itu tak sendirian.

Selain Pengabdi Setan, masih ada Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta penonton), Jailangkung (2,55 juta), Mata Batin (1,28 juta), The Doll 2 (1,22 juta).

Kembali masuknya horor dalam tangga box office berujung produksi yang kembali membuncah. Tahun ini, hingga November saja sudah ada 34 film horor alias 29,1 persen dari total film beredar. Artinya, setiap bulan ada 3 atau lebih film horor yang tayang.

Bagaimanapun, masyarakat Indonesia relatif dekat dengan hal-hal klenik sehingga film horor bisa punya pangsa pasar luas. Namun, Rizal Mantovani punya pendapat yang sedikit berbeda.

“Menurut saya penonton kita suka film horor bukan karena klenik, tapi karena fantasi. Mereka mungkin enggak percaya sama tahayul tapi melihat fantasi dan terhibur, hampir sama dengan di Hollywood, mereka juga berfantasi tapi dengan alien, drakula atau vampir," terang Rizal pada Bintang.com (19/9/2017).

Catatan redaksi: Lokadata Beritagar.id mengambil data dari FilmIndonesia.or.id dengan melihat genre dalam keterangan film-film yang dirilis sejak 1976 hingga November 2018. Popularitas diukur dari lima film teratas yang terbanyak ditonton per tahunnya.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR