Film Surat dari Praha memadukan romansa, sejarah politik, dan musik

Julie Estelle (kiri) dan Tio Pakusadewo dalam poster film Surat dari Praha
Julie Estelle (kiri) dan Tio Pakusadewo dalam poster film Surat dari Praha | Visinema Pictures /lettersfromprague.com

Surat dari Praha tayang serentak di jaringan bioskop nasional mulai Kamis, 28 Januari 2016. Dalam film berdurasi sekitar 94 menit itu, sutradara Angga Dwimas Sasongko (31) memadukan unsur romansa, sejarah politik, dan musik.

Pertautan tiga tema tersebut dihadirkan oleh dua karakter utamanya, Mahdi Jayastri (diperankan Tio Pakusadewo) dan Kemala Dahayu Larasati (Julie Estelle).

Jaya adalah salah satu mahasiswa ikatan dinas di Praha, Ceko, yang paspornya dicabut oleh Orde Baru (Orba) karena setia mendukung Soekarno setelah kejadian Gerakan 30 September 1965. Akibatnya, Jaya menjadi seorang stateless alias tidak memiliki kewarganegaraan.

Masa lalu Jaya itu terkuak seiring kehadiran Laras yang membawa amanah berupa sebuah kotak kayu dan sepucuk surat dari mendiang ibunya, Sulastri (Widyawati). Laras dalam film digambarkan sebagai generasi muda yang berjarak dengan informasi sejarah.

Rumitnya hubungan dua tokoh beda generasi ini dipermanis dengan kehadiran lagu-lagu ciptaan Glenn Fredly. Tio menyanyikan lagu "Sabda Rindu" (album Luka Cinta dan Merdeka - 2014), sementara Julie dipercaya melantunkan "Nyali Terakhir" (Lovevolution - 2010). Dalam konser "Menanti Arah" (2015) yang digelar sebagai penanda 20 tahun perjalanan Glenn di industri musik, keduanya unjuk kebolehan membawakan lagu tersebut.

Hobi Angga Dwimas Sasongko (31) membaca buku-buku sejarah yang tidak umum adalah ide awal yang mendasari lahirnya film ini. Tidak umum yang dimaksudkannya adalah buku sejarah tulisan Harry Poeze dan mendiang Ben Anderson. Bukan narasi terbitan Orde Baru yang diajarkan di bangku sekolah.

Poeze adalah sejarawan Belanda penulis biografi "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia" hasil risetnya selama lebih dari 40 tahun. Sementara Anderson yang wafat pada 13 Desember 2015 adalah penulis banyak buku tentang sejarah Indonesia, salah satu yang paling terkenal adalah "Analisis Awal Kudeta 1 Oktober 1965 di Indonesia" alias "Cornell Paper".

Saat menyaksikan film pendek garapan Farishad Latjuba berjudul Klayaban: A Tale of an Outcast (2005), alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia itu semakin berhasrat memfilmkan dampak dari eskalasi politik pascatragedi 1965. Tentu saja dengan kemasan yang lebih populer agar lebih gampang diterima generasi muda.

"Saya berharap film ini bisa memantik rasa ingin tahu generasi muda untuk menggali lebih banyak narasi tentang peristiwa seputar 1965 dari beragam sumber," ujar Angga yang ditemui Beritagar.id usai menggelar pemutaran terbatas Surat dari Praha, Sabtu (23/1/2016) siang.

Glenn juga setali tiga uang. Isu tentang mahasiswa yang dicabut kewarganegaraannya oleh Orba karena perbedaan afiliasi politik menurutnya harus diceritakan ulang. "Saya merasa isu ini penting untuk diceritakan karena sudah hampir terlupakan, hilang, karena ada jarak generasi," ujar solis berdarah Maluku itu dilansir Muvila (20/1).

Surat dari Praha (Visinema Pictures, Tinggikan Production, dan 13 Entertainment) adalah kali ketiga Glenn ikut berkontribusi dalam film arahan Angga. Jabatannya adalah produser eksekutif bersama Gita Wirjawan dan Manoj K Samtani.

Kolaborasi pertama mereka terjalin lewat film Beta Maluku: Cahaya dari Timur (2014). Saat itu Glenn menyumbang lagu "Tinggikan" sebagai lagu tema dan duduk sebagai produser. Dalam Filosofi Kopi the Movie (2015), Glenn bertugas sebagai penata musik dan produser pendamping.

Surat dari Praha [Official Trailer] /Visinema Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR