FILM INDONESIA

Film Terbang Menembus Langit menghadirkan kebinekaan

Dion Wiyoko pemeran Onggy Hianata dalam film Terbang: Menembus Langit. Tayang mulai 19 April 2018
Dion Wiyoko pemeran Onggy Hianata dalam film Terbang: Menembus Langit. Tayang mulai 19 April 2018 | Demi Istri Production

Semua berawal dari perjalanan Susanti Dewi (produser) dan Fajar Nugros (sutradara) ke Kalimantan. Pasangan suami istri ini bertemu kisah inspiratif yang kemudian mereka adaptasi menjadi film berjudul Terbang: Menembus Langit. Unsur kebinekaan jadi hal utama yang dihadirkan.

Pasalnya film ini berangkat dari kisah nyata perjuangan hidup Onggy Hianata, pebisnis yang terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa sederhana di Kampung Bugis, Tarakan Barat, Kalimantan Utara.

Onggy harus bersusah payah untuk sampai pada posisinya sekarang. Tekanan ekonomi keluarga yang pas-pasan, plus tindakan diskriminasi dari masyarakat dan pemerintah Orde Baru tak menyurutkan semangatnya untuk mencapai kesuksesan. Menembus langit.

Lewat tokoh Onggy yang diperankan Dion Wiyoko, Fajar coba memberi gambaran bahwa Indonesia adalah tanah harapan.

"Siapa pun yang memiliki cita-cita, terlepas dari apa latar belakang agama, suku, dan kepercayaan yang dimilikinya, punya hak dan kesempatan sejajar untuk mewujudkannya dengan kerja keras," kata Fajar saat mengunjungi kantor Beritagar.id di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat (3/4/2018).

Selain itu, Fajar menyebut bahwa film ini penting dimunculkan saat sebagian orang mempertanyakan kembali tentang makna kebinekaan di Indonesia.

Ketika ditemui dalam acara peluncuran trailer dan poster Terbang: Menembus Langit di atrium Kuningan City, Jakarta Selatan (25/9/2017), sineas berusia 38 itu juga ingin meluruskan sebuah anggapan.

"Tidak semua warga Indonesia keturunan Tionghoa hidupnya langsung enak. Mereka juga harus meraih kesuksesan dengan susah payah. Kalau jalan ke Singkawang, ada banyak pengemis di sana yang keturunan Tionghoa," ujarnya.

Dengan penjelasan di atas, tak perlu khawatir keseluruhan durasi film akan berjalan dengan sangat "serius".

Fajar tak lupa memasukkan bumbu komedi dan romansa pada sosok Onggy dengan orang-orang di sekitarnya. Ia berharap penonton mendapatkan banyak konten dalam satu film.

Untuk menyukseskan film yang direncanakan tayang pada 19 April 2018 mendatang, Demi Istri Production telah mengadakan road show ke Medan, Palembang, Surabaya, dan Makassar. Rencananya kegiatan promosi akan berlanjut menyambangi 11 kota lainnya.

Sejauh ini road show berjalan menyenangkan. "Penonton sangat antusias dan memberikan respons positif," lanjut Santi, sapaan akrab Susanti.

Para pemain juga mengaku tidak terlalu menemui kesulitan saat memerankan tokoh-tokoh dalam film ini yang aslinya masih hidup.

"Kesulitan pasti selalu ada sih, tapi kebanyakan muncul dari hal yang sifatnya teknis saja," ungkap Laura Basuki. Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2010 itu tidak asing memerankan tokoh nyata. Film terakhirnya, Love and Faith (2015), bisa menjadi contoh.

Selain Laura dan Dion, turut bermain dalam film ini adalah Chew Kin Wah, Baim Wong, Delon Thamrin, Aline Adita, Melissa Karim, Dinda Hauw, Marcell Darwin, Dayu Wijanto, Erick Estrada, Indra Jegel, dan Mamat Alkatiri.

Proses syuting berlangsung di Surabaya dan Tarakan. Diakui Santi, Onggy tidak selalu ikut serta mengawal jalannya syuting. Pun demikian, mereka mendapatkan dukungan dan kebebasan penuh alias lisensi kreatif sebagai pembuat film.

Bagi Fajar yang juga menulis skenario, lisensi tersebut berguna untuk membuat tokoh dalam film ini terlihat manusiawi yang juga pernah berbuat kesalahan.

Tujuannya agar cerita menjadi lebih dekat dengan penonton karena tidak terjebak dalam glorifikasi berlebihan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR