Gagasan dalam film jadi penilaian utama juri FFI 2017

Sebagian dari 75 juri FFI 2017 berpose dalam acara konferensi pers yang bertempat di Auditorium 11 CGV, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat (24/10/2017)
Sebagian dari 75 juri FFI 2017 berpose dalam acara konferensi pers yang bertempat di Auditorium 11 CGV, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat (24/10/2017)
© Indra Rosalia /Beritagar.id

Ada yang berbeda dalam Festival Film Indonesia tahun ini. Diadakan di Manado pada 11 November mendatang, beberapa hal baru diperkenalkan, termasuk cara baru menentukan pemenang FFI.

Dalam acara konferensi pers yang bertempat di Auditorium 11 CGV, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/2017), beberapa anggota dewan juri berbicara mengenai berbagai hal baru, serta gagasan dan pedoman yang menjadi akar FFI 2017.

"Dalam setiap FFI, pasti ada yang menonjol. Menjadi sebuah perhatian bagi juri bahwa sineas muda sungguh berusaha menjadi sineas yang bukan hanya mandiri, tapi punya kualitas dalam gagasan yang ingin disampaikan pada penontonnya," ujar HM Soleh Roeslani, juri yang berprofesi sebagai sinematografer dan mewakili Ikatan Karyawan Film dan Televisi (KFT).

Gagasan itu berarti film memiliki kejernihan gagasan dan relevan dengan situasi dan perkembangan zaman. Lalu, gagasan dihadirkan dengan kualitas teknik dan estetika yang tinggi. Kriteria ketiga adalah profesionalisme. Film yang bagus merefleksikan profesionalisme dan keterampilan pembuat film dalam mewujudkan gagasannya.

Mengapa gagasan sedemikian penting sehingga menjadi pedoman nomor satu bagi para juri?

"Kami ingin mencari patokan yang jelas konkrit tapi bisa ditafsir dengan kepekaan masing-masing asosiasi dan juri. Film yang punya gagasan bikin penonton paling mudah bersimpati dan berkoneksi untuk waktu yang panjang," ujar Riri Riza, Ketua Bidang Penjurian FFI 2017.

Selama ini, bioskop dengan layar lebar dan tata suara menggelegar menjadi pengalaman paling utuh dalam menonton sebuah film. Namun dengan semakin majunya teknologi, orang bisa menonton dari mana saja, bahkan secara pengaliran (streaming) melalui ponsel pintar seukuran kepalan tangan.

"Kita melihat film bukan seperti tiga atau empat tahun lalu. (Kini) film bisa dilihat publik melalui banyak media, termasuk internet yang paling demokratis. Film daerah bisa bersaing dengan film yang dibuat di Jakarta, yang harganya bisa 20 kali lipat.

"Yang menyatukan (pengalaman menonton) adalah gagasan, pesan subliminal yang bisa ditangkap oleh penonton," tambah Riri.

Menurut Usman Hamid, pengamat film yang menjadi salah satu juri mandiri, film bukan sekadar estetika atau keindahan, tapi juga sebuah wadah berisikan pesan moral dan etika. Film tak hanya bisa menjadi penyegar, tapi juga menjawab tantangan dalam kehidupan sosial masyarakat, belakangan ini.

"Dari segi pesan etik dan moral, banyak film Indonesia yang memberi sumbangsih makin positif kepada kebudayaan. Bukan hanya sebagai kreasi seni untuk dipertontonkan tapi juga menuntun kita dalam kehidupan dengan pesan moral yang sangat kuat," ujar Usman.

"Saya rasa film akan menunjukkan pada generasi muda bahwa kita bisa bangga sebagai bangsa Indonesia dengan keragaman yang kita miliki," ujar aktris senior Niniek L. Kariem, yang menjadi juri mewakili PARFI 56 (Persatuan Artis Film).

Niniek sudah sekian kali menjadi jadi juri FFI. Wanita berusia 68 ini bahkan pernah tiga kali menjadi Ketua Panitia FFI. Namun pada penyelenggaraan tahun 2010 ia sempat mundur karena ada kekisruhan saat itu.

Untuk meminimalkan kontroversi yang meliputi penyelenggaraan FFI seperti tahun-tahun sebelumnya, asosiasi profesi dilibatkan lebih jauh. Mereka mewakili masyarakat industri film untuk menyuarakan pendapat dalam ajang sebesar FFI.

"Menurut saya, sekarang panitia berusaha untuk lebih rapi dan sistematis, mewakili sekian banyak profesi yang ada di dunia film, termasuk pengamatnya. Memang tidak mudah. Belum lagi ada grecokan (gangguan, red.) dari luar. Saya mengharapkan masyarakat dan media ikut membantu," ujar Niniek.

Kesimpulannya, dalam pedoman penyelenggaraan FFI 2017 ada tiga hal yang berubah. Pertama, dulu film yang ikut harus mendaftar dan menyerahkan bukti lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF). Kini asosiasi yang mencari film yang layak menjadi nomine.

"Sekarang untuk pertama kalinya istilah 'Film Bioskop'--yang cuma ada di Indonesia--diganti menjadi 'Film Cerita Panjang'," ujar Totot Indrarto, wakil ketua FFI 2017.

Ini berhubungan juga dengan perubahan kedua: film yang ikut FFI tidak lagi yang ditayangkan di bioskop saja. Ini sebetulnya sudah dimulai dari tahun lalu, dengan hadirnya Turah, Ziarah, dan Siti. "Perubahan ketiga, sistem penjurian melalui asosiasi," tutup Totot.

Catatan redaksi: Ada kesalahan penulisan atribusi Riri Riza (paragraf enam) dan Niniek L. Kariem (paragraf 13). Kesalahan telah diperbaiki, mohon maaf dan terima kasih.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.