Garin Nugroho kembali membuat film drama remaja

Garin Nugroho ingin menyenangkan kaum muda dengan film Aach... Aku Jatuh Cinta
Garin Nugroho ingin menyenangkan kaum muda dengan film Aach... Aku Jatuh Cinta | Pribadi Wicaksono/Tempo

Cukup lama Garin Nugroho (54) tidak menggarap film bergenre drama remaja romantis. Terakhir terjadi pada Cinta dalam Sepotong Roti (1990), film panjang perdananya yang membuahkan trofi sebagai Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI). Kerinduan sineas kelahiran Yogyakarta itu dituangkannya dalam Aach... Aku Jatuh Cinta yang akan tayang mulai 5 November 2015.

"Saya bikin film drama remaja lagi karena sudah lama sekali tidak bikin. Terakhir Cinta dalam Sepotong Roti yang rilis 25 tahun lalu. Bayangkan lamanya. Jadi, wajarlah saya kembali bikin film anak muda," kata Garin dikutip dari Kompas.

Terdapat satu kesamaan antara Cinta dalam Sepotong Roti dengan Aach... Aku Jatuh Cinta, kedua film ini sama-sama berhiaskan kata-kata puitis.

Dalam Aach... Aku Jatuh Cinta yang akan tayang perdana di Busan International Film Festival (BIFF) pada 5, 6 dan 9 Oktober 2015, Garin memercayakan Pevita Pearce, Chicco Jerikho, Nova Eliza, dan Annisa Hertami sebagai pemeran utama.

Chicco Jerikho, peraih Piala Citra dalam FFI 2014, menuturkan bahwa film yang semula direncanakan tayang pada 8 Oktober 2015 itu ibarat Romeo dan Juliet versi Tom dan Jerry (dua tokoh kartun yang kerap berseteru, red).

Karena filmnya kali ini menyasar penonton muda, peraih gelar Sutradara Pendatang Baru Terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik 1992 itu rela menanggalkan sejenak personanya yang selama ini lekat sebagai pembuat film serius.

"Ini bukan film serius seperti film-film saya sebelumnya. Karena dibuat untuk anak muda, maka saya ingin menyenangkan mereka melalui film ini," janjinya dilansir Sinar Harapan.

Garin yang pada awal kemunculannya telah diprediksi sebagai penerus sineas kawakan, seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, Wim Umboh, dan Sjumandjaja bagi sebagian penonton identik dengan pembuat film yang tidak mudah dipahami hanya dengan sekali menonton.

Film buatannya sering mengambil cara bertutur yang tidak linier, banyak menampilkan bahasa gambar dalam bentuk simbol, dan karakter-karakter dalam filmnya minim dialog.

Hal itu pula yang kemudian membuat banyak filmnya sepi peminat di bioskop, tapi diputar dalam berbagai festival film internasional yang tak jarang berbuah prestasi.

Contoh paling gres adalah ketika salah satu karya filmnya berjudul Puisi Tak Terkuburkan (1999) dipilih oleh Busan International Film Festival dan Busan Cinema Center sebagai penghuni daftar "100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa" (13/8).

Aach...Aku Jatuh Cinta [official trailer 2015] /Multivision Plus ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR