FILM INDONESIA

Gelegar Gundala dalam sajian tata suara Dolby Atmos

Adegan dalam film Gundala saat Sancaka (Abimana Aryasatya) tersengat petir
Adegan dalam film Gundala saat Sancaka (Abimana Aryasatya) tersengat petir | Screenplay Films

Upaya melakukan peningkatan tak henti dilakukan sineas Joko Anwar. Kali ini, film Gundala arahannya menjadi film Indonesia pertama yang hadir dengan sistem tata suara Dolby Atmos.

Sebelumnya, Pengabdi Setan (2017) yang juga disutradarai Joko tercatat sebagai film Indonesia pertama yang hadir dalam format 4DX di CGV Cinemas.

Format 4DX milik CGV menitikberatkan pada sensasi yang ditimbulkan sepanjang menonton lantaran munculnya berbagai gerakan, embusan angin, percikan air, pendaran cahaya, dan aroma.

Sementara Dolby Atmos yang dikembangkan perusahaan Dolby Laboratories memanjakan penonton dari segi tata suara.

Hal itu bisa terjadi lantaran kemampuannya menginterpretasi 128 jenis informasi suara secara individu melalui 64 alat pengeras suara yang terpasang di dalam studio. Atmos bisa berjalan pada konfigurasi kanal 5.1.4 atau 7.1.4.

Angka 4 merujuk pada penambahan empat pengeras suara di bagian atas alias langit-langit studio.

Berbeda dengan teknologi pendahulunya, semisal Dolby Stereo, Dolby Surround, atau Dolby Pro Logic yang menggunakan konfigurasi audio 5.1 dan 7.1 karena tidak ada tambahan speaker di plafon.

Penambahan jumlah pengeras suara itu memastikan audio sebuah film hadir lebih menggelegar. Segala objek yang mengeluarkan suara dalam film, beserta pergerakannya, bisa dipantulkan menuju kuping masing-masing penonton.

Film pertama yang menjajal sistem audio ini adalah animasi Brave produksi Pixar pada 2012.

Setahun kemudian, jaringan bioskop Cinema XXI memboyong teknologi ini untuk melengkapi studio mereka. Layar pertama yang tertanam sistem audio Dolby Atmos adalah XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Di tempat itu pula rencananya film Gundala akan melakukan sesi press screening dan gala premiere.

Skema penempatan berbagai alat pengeras suara dalam studio yang menggunakan Dolby Atmos
Skema penempatan berbagai alat pengeras suara dalam studio yang menggunakan Dolby Atmos | Cinema21

Agar berjalan maksimal dalam sistem audio ini, sebuah film sejak awal juga sudah harus mengolah desain audionya sesuai cara kerja Atmos.

Kepada Beritagar.id yang menghubunginya melalui layanan berbagi pesan (12/8/2019), Joko menyebut proses sound design film Gundala berlangsung sejak Januari 2019 di Crossfade Audio Post, Jakarta.

Segala prosesnya tuntas awal Agustus 2019 dengan finalisasi selama dua pekan oleh Mohammad Iksan dan Richard Hocks di Kantana Sound Studio, Bangkok, Thailand.

“Desain awal dikerjakan oleh almarhum Khikmawan Santosa. Setelah Kiki meninggal, hasilnya dibawa ke Kantana Sound untuk melakukan mixing kembali dengan tata suara Atmos,” terang Joko.

Teknisi Dolby kemudian menilai apakah hasil mixing tersebut sudah sesuai spesifikasi dan kualitas sesuai standar Atmos.

“Karena telah memenuhi syarat akhirnya dapat lisensi. Hasilnya kami bawa ke Indonesia dan mengetesnya di bioskop sini. Disaksikan oleh teknisi Dolby yang ada di sini,” terang Joko.

Dalam perjalanannya di bioskop-bioskop mulai 28 Agustus 2019, Digital Cinema Package film Gundala akan hadir dalam dua tipe.

“Kalau untuk studio Atmos kami kasih paket audio yang Atmos. Bioskop yang enggak Atmos kami berikan data audio 7.1,” sambung sineas yang telah meraih dua Piala Citra ini.

Diterangkan Joko, apa yang mereka lakukan ini merupakan ikhtiar membawa film Indonesia maju selangkah lagi.

“Maju dari aspek estetika dan teknis. Salah satunya tata suara yang paling sering dianggap remeh. Padahal sama pentingnya dengan gambar,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR