KRITIK FILM

Glass menurut para kritikus

Tiga tokoh utama dalam Glass. Kiri ke kanan, diperankan oleh Samuel L. Jackson, James McAvoy, dan Bruce Wilis
Tiga tokoh utama dalam Glass. Kiri ke kanan, diperankan oleh Samuel L. Jackson, James McAvoy, dan Bruce Wilis | Universal Pictures

Glass telah tayang di jaringan bioskop Indonesia pada Rabu (16/1/2019). Film ini adalah titik kulminasi antara dua film, Unbreakable (2000) dan Split (2016).

Ini memang trilogi meski penonton baru menyadarinya mulai bagian akhir Split. Publik mulai memahami bahwa film thriller-suspense tentang penyandang kepribadian ganda itu masih satu semesta dengan Unbreakable.

Kejutan tersebut merupakan ciri khas sutradara-penulis M. Night Shyamalan. Sineas berdarah India ini nyaris selalu menerapkan kejutan dalam tiap film garapannya. Filmnya yang paling terkenal adalah The Sixth Sense (1999).

Kini dalam film Glass, lelaki berkekuatan super David Dunn (Bruce Willis) telah menjadi seorang penegak hukum jalanan (vigilante). Di sisi lain, ada Kevin Wendell Crumb (James McAvoy), seorang lelaki dengan 24 kepribadian dan mampu menjadi monster super kuat.

Sementara Elijah Price alias Mr. Glass (Samuel L. Jackson) sedang dipenjara di sebuah rumah sakit jiwa. Ia adalah seorang penjahat psikopat nan licik tapi bertulang rapuh.

Mereka bertiga dipertemukan oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson), seorang ahli kejiwaan yang yakin bahwa para pasiennya menderita delusi. Namun, Staple tak tahu bahaya macam apa yang mungkin mengintai.

Bersatunya dua film yang tadinya kelihatan tak ada kaitan itu ditunggu-tunggu sebagian khalayak. Cuplikan pertama yang dirilis Universal Pictures enam bulan lalu sudah dilihat 15 juta kali.

Nuansa pahlawan super, genre yang saat ini sedang laris-larisnya, turut hadir dalam Glass. Si penjahat dikisahkan merupakan orang dengan tulang rapuh yang memimpikan kehadiran manusia super dan mendapatkannya lewat dua tokoh utama lainnya.

Namun, rupanya Glass mengecewakan, setidaknya bagi kritikus.

Dari situs pengepul ulasan Rotten Tomatoes, Glass hanya dapat Tomatometer sebanyak 35 persen dengan nilai rata-rata 5 dari skala 10. Dari 234 ulasan, hanya 82 orang yang menganggap film ini bagus.

Glass memperlihatkan sedikit sudut pandang M. Night Shyamalan dalam menampilkan semesta penuh kejutan. Tapi sebagai kesimpulan dari sebuah trilogi, pada akhirnya Glass jadi mengecewakan,” demikian isi kesimpulan kritik dalam Rotten.

Menurut Brian Tallerico dari RogerEbert.com, Shyamalan terlalu terpaku untuk membuat bagian akhir film ini sehingga lupa memasukkan hal-hal yang menarik secara naratif. "Coba Anda pikirkan akhir film Glass dan awal film ini. Anda akan menyadari betapa kosongnya film ini,” cela Tallerico.

“Shyamalan sangat berniat membuat film superhero yang tak biasa, tapi ujung-ujungnya ia seperti tidak bikin film sama sekali. Film Glass ini tak separuh kosong, isinya bahkan tak sampai sepertiga,” kritik Peter Howell dari Toronto Star.

Menurut Howell, Shyamalan menyia-nyiakan bakat akting tiga aktor utamanya; Wilis, McAvoy, dan Jackson. “Para aktornya berakting dengan nilai A, tapi Shyamalan memberi mereka naskah kelas D,” tulis Howell.

Rata-rata kritikus memang merasa Glass punya potensi, setidaknya dari segi akting. Terutama McAvoy yang memerankan orang dengan 24 kepribadian; terdiri dari ibu-ibu, anak kecil, hingga monster kanibal.

“Cara McAvoy berpindah-pindah kepribadian semakin mulus. Dia impresif, meski naskah (Glass) tidak,” puji David Edelstein dari Vulture.

Menurut Manohla Dargis dari New York Times, Glass adalah film pahlawan super yang memang tidak biasa dibandingkan film-film Marvel atau DC Comics. Contohnya, karakter Dunn berkelahi sebagai vigilante dengan menggunakan jaket hujan sebagai samaran.

“Film ini mewakili eksentris Shyamalan, film superhero yang terasa dekat, yang bergantung pada keunikan kepribadian dan ketakutan, tak terpaku pada efek komputer dan perkelahian yang menghancurkan dunia,” tulis Dargis.

“Pahlawan dan penjahatnya lebih “biasa” dan lebih manusiawi, sehingga meningkatkan ketegangan saat menonton.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR