Gundala jadi fondasi apik untuk Jagat Sinema BumiLangit

Sebuah adegan dalam film Gundala
Sebuah adegan dalam film Gundala | Screenplay Films, BumiLangit Studios

Sebuah semesta pahlawan super telah lahir di Indonesia. Gundala, tayang sejak Kamis (29/9/2019), menjadi film pertama yang menampilkan superhero dari Jagat Sinema BumiLangit (JSBL).

Sebagai judul perdana, film yang diangkat dari komik tahun 1970-an karya Harya Suraminata ini harus menjadi pijakan kokoh untuk film-film JSBL berikutnya. Ini seperti Iron Man (2008), film superhero yang menjadi fondasi untuk Marvel Cinematic Universe (MCU) bikinan Hollywood.

Laiknya Iron Man, kisah Gundala yang ditulis oleh penulis/sutradara Joko Anwar adalah sebuah origin story untuk tokoh titular, diperankan oleh Abimana Aryasatya. Sebagai kisah asal mula seorang superhero, Joko menulis dengan apik. Sutradara Pengabdi Setan (2017) itu memulai dari masa kecil Sancaka, orang yang kelak menjadi Gundala si Putra Petir.

Sancaka (Muzakki Ramdhan) hidup di jalanan sejak ditinggal ayah dan ibunya. Si bocah belajar untuk bertahan hidup dalam kerasnya dunia anak jalanan. Ia belajar untuk tidak peduli pada orang lain dan hanya mencoba untuk mendapatkan tempat yang aman bagi dirinya sendiri.

Ketika situasi kota semakin tidak aman dan ketidakadilan merajalela di seluruh negeri, Sancaka dewasa (Abimana) harus membuat keputusan berat: tetap hidup di zona aman atau keluar sebagai Gundala untuk membela orang-orang yang ditindas.

Di tengah cerita yang sebetulnya sederhana itu, Joko harus meramu sedemikian mungkin untuk memasukkan karakter dan plot lain yang akan berhubungan dengan film-film berikutnya. Ini bisa jadi bumerang. Beberapa penonton mungkin akan menganggap Gundala memiliki arah yang tidak jelas.

Ada karakter minor yang hanya muncul sebentar, tapi bakal jadi sesuatu yang besar dalam film-film berikutnya, misalnya Awang (Faris Fajar), sobat masa kecil Sancaka. Kelak, Awang dewasa akan menjadi pahlawan super lain dengan nama Godam (akan diperankan Chicco Jerikho).

Meski tampil sebentar, tokoh Awang toh jadi plot device yang cukup penting dalam film Gundala. Dengan kata lain, bukan sekadar tempelan belaka. Demikian juga beberapa tokoh minor lain yang tak bisa kami sebut karena bakal jadi spoiler.

Joko juga berhasil membuat fondasi untuk tokoh-tokoh jahat yang kelak bersemayam dalam JSBL. Dalam Gundala, para penjahat dipimpin oleh Pengkor (Bront Palarae). Ia merupakan orang jahat dengan motivasi dan asal-usul yang dirancang dengan baik.

Melalui Pengkor, Joko juga sekalian memasukkan tema sosial seperti korupsi dan ketimpangan ekonomi, yang lekat dalam kehidupan negara kita bahkan hingga saat ini.

Pendek kata, Pengkor tak seperti antagonis utama dalam beberapa film MCU awal yang kesannya sekadar jadi musuh untuk si jagoan.

Bicara MCU yang megah dengan efek spesial mewah, tak bisalah kita membandingkannya dengan Gundala. Meski begitu, efek yang muncul tidak murahan.

Lagipula, efek CGI (computer generated image) dalam Gundala relatif tidak banyak, karena Joko sadar ia tidak bisa bersaing dengan film Hollywood berbujet ratusan juta dolar. Ia memilih bersaing dengan membuat cerita seapik mungkin.

Untuk itu, Gundala juga lebih mengandalkan silat dan beladiri tangan kosong untuk adegan action. Tampilannya memang tidak sekeras dan senyata adegan action yang muncul dalam film The Raid, tapi tetap menjadi hiburan yang memuaskan.

“Dari awal kami sudah sadar memilih lebih banyak practical effect dan kami memilih sebuah cerita yang tidak banyak menggunakan CGI, walaupun ada,” ungkap Joko dalam kunjungan ke kantor Beritagar.id pada bulan Mei.

“Jadi, kami mencari bagaimana membuat sebuah film jagoan apa yang bisa kami tawarkan kepada penonton, yang enggak perlu bujetnya gede. Ya cerita, makanya kami cari cerita supaya penonton Indonesia bisa relate kesitu,” ujar Joko.

Beritagar.id adalah mitra media untuk film Gundala
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR