KRITIK FILM

Happy Death Day menurut kritikus

Aktris Jessica Rothe (kanan) menghadapi pembunuh dengan topeng bayi dalam film Happy Death Day
Aktris Jessica Rothe (kanan) menghadapi pembunuh dengan topeng bayi dalam film Happy Death Day | Blumhouse Productions/Universal Pictures

Secara mengejutkan film Happy Death Day mampu menjadi pemuncak hasil box office wilayah Amerika Serikat periode pekan lalu (periode 13-15 Oktober). Dengan pendapatan US $26,5 juta, perolehan Happy Death Day hampir dua kali lipat Blade Runner 2049 (US $15,1 juta).

Pekan ini, film garapan Christopher Landon itu mulai tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Sebelum menyaksikan, mari kita simak penilaian kritikus terhadap film itu.

Tema yang digarap adalah kejadian yang dialami karakter utama secara berulang-ulang. Pasti tak asing bagi penonton yang menikmati sajian serupa seperti Groundhog Day (1993), Source Code (2011), Edge of Tommorow (2014), serta yang terbaru Before I Fall (2017).

Happy Death Day menceritakan seorang mahasiswi bernama Tree Gelbman (diperankan Jessica Rothe) yang terus menerus mengulang hari kematiannya. Tree mengalami lagi dan lagi akhir hidupnya yang tragis hingga akhirnya ia menemukan siapa sang pembunuh.

Dari segi kualitas, hasil produksi Blumhouse Productions ini sebetulnya tak lebih bagus daripada Get Out, film horor mereka yang juga berbujet kecil dan berpendapatan besar. Get Out dapat 7,7/10 poin oleh para pengguna IMDB, sementara para pengulas film di Rotten Tomatoes memberi nilai 99 persen.

Happy Death Day diberi rating 6,6/10 poin oleh IMDB, sementara Rotten memberi rating 67 persen. "Happy Death Day menyatukan humor gelap dengan sentuhan fiksi ilmiah dalam film bacok-bacokan, yang diperkuat performa bintang baru Jessica Rothe," tulis Rotten dalam konsensus kritiknya.

Dari 75 ulasan yang masuk, sebanyak 50 memberi ulasan positif, sementara 25 sisanya buruk. Sementara di Metascore, hasilnya 12 sama kuat antara 'bagus' dan 'sedang'. Hanya 1 yang memberi nilai buruk.

"Sebagian besar candaan dalam film ini kurang nendang," tulis Walter Addiego dari San Fransisco Gate. "Ada tema feminisme yang terlihat sekali jahitannya supaya plot tetap terjaga. Kehidupan mahasiswa yang ditampilkan juga tidak terasa orisinal," ulas Addiego, yang memberi nilai 25/100 untuk Happy Death Day.

Sementara Clark Collis dari Entertainment Weekly menunjukan bahwa Happy Death Day adalah film yang menyenangkan. "Film ini disutradarai dengan semangat, kekuatan, dan sepenuh jiwa oleh Christopher Landon, juga memamerkan performa luar biasa dari Rothe," tulis Collis.

Sarah Ward dari Screen International sepaham dengan Collis. Ia menyebut Happy Death Day sebagai film Groundhog Day versi horor yang ditujukan dengan tepat untuk kaum milenial.

"Performa aktris utama dinamis dan ada kemauan untuk menjaga film tetap pendek (durasinya hanya 96 menit, red.) dan rapi, memastikan penonton tidak keberatan menjelajahi kisah yang berulang-ulang," tulis Ward.

"Film horor ini menawarkan premis yang menggoda, tapi hasilnya hanya rata-rata, tidak sebanding dengan dengung (buzz) yang dibawanya," demikian kesimpulan Kevin Maher dari Times UK. Ia memberi nilai 2 dari 5 untuk Happy Death Day.

"Pada dasarnya film ini adalah serial Gossip Girl yang dilihat dari sudut pandang teorinya Nietzsche mengenai perulangan abadi. Namun hasilnya tidak menyenangkan seperti kedengarannya."

Happy Death Day merupakan sebuah film berongkos relatif murah untuk ukuran Hollywood, 'hanya' US $4,5 juta. Blumhouse menerapkan strategi serupa Get Out, yang juga punya bujet produksi tidak beda jauh.

Caranya, menggunakan sutradara bertalenta, dalam hal ini Christopher Landon, dan memberi mereka kebebasan kreativitas. Landon sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis Disturbia (2007), dan Paranormal Activity: The Marked Ones (2014).

Sementara sang bintang utama Jessica Rothe adalah aktris yang turut main dalam La La Land (2016) sebagai Alexis, teman Mia (Emma Stone).

Happy Death Day - Official Trailer - In Theaters Friday The 13th October (HD) /Universal Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR