FESTIVAL MUSIK

Hodgepodge Superfest menyatukan tiga festival musik

Mereka yang berada di balik penyelenggaraan Hodgepodge Superfest, 1-2 September 2018. Dari kiri; Elfa Zulham, Dewi Gontha, Nikita Dompas, dan Sandy Widharna
Mereka yang berada di balik penyelenggaraan Hodgepodge Superfest, 1-2 September 2018. Dari kiri; Elfa Zulham, Dewi Gontha, Nikita Dompas, dan Sandy Widharna | Imaduddin/Beritagar.id

Java Festival Production (JFP) siap menghadirkan hajatan paling gres bernama Hodgepodge Superfest. “Seperti menghadirkan tiga festival musik dalam satu tempat,” klaim Dewi Gontha, Direktur Utama JFP, saat bertandang di kantor Beritagar.id, Tanah Abang, Jakarta Pusat (27/7/2018).

Tiga festival yang dimaksudkan adalah Java Rockin’ Land, Soulnation, dan Soundsfair yang kesemuanya pernah diselenggarakan JFP.

Cukup mudah bersepakat dengan pernyataan Dewi barusan jika melihat daftar pengisi acara Hodgepodge yang berlangsung di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta Utara (1-2 September 2018).

Jika Rockin’ Land khusus menghadirkan musisi rock, Soulnation identik dengan black music, seperti hiphop, soul, dan R&B, sementara Soundsfair yang menghadirkan atmosfer seni cukup kental. Dengan menyaksikan Hodgepodge, semua sajian tadi tersedia dalam satu tempat.

Penggemar musik rock bisa menikmati The Libertines dan All Time Low. Belum termasuk nama-nama segar dari ranah indie rock seperti The Hunna, Sundara Karma, Day Wave, dan Swim Deep.

Bagi penyuka black music bisa memuaskan dahaga dengan penampilan Gallant, Lil Yachty, August Alsina, Marteen, Jess Connelly, atau Russ.

Khusus yang tubuhnya ingin lebih bergoyang mengikuti alunan electronic music bisa menjadikan Lemaitre dan Park Hotel sebagai pilihan.

Merasa suasana Ecopark yang hijau karena hamparan rumput dan pepohonannya lebih pas sambil mendengarkan musik folk? Ada Vancouver Sleep Clinic dan Didirri.

Beragam genre musik bukan hanya datang dari para artis mancanegara. Rombongan pengisi acara dari tanah air juga campur aduk, mulai dari The Brandals, Barefood, The Trees & The Wild, Soft Animal, The Sigit, Tomorrow People Ensemble X Eka Annash, dan Onar.

Alasan mengusung konsep festival musik yang campur aduk tidak lain untuk mengakomodir kemauan pasar.

Pola ini sebelumnya sudah diadopsi oleh banyak festival musik, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, semisal Coachella Valley Music and Arts Festival yang berlangsung di Amerika Serikat.

Dewi yang hadir didampingi Elfa Zulham, Nikita Dompas, dan Sandy Widharna selaku koordinator program menyebut Java Jazz sebagai contoh.

Festival musik jazz yang berlangsung sejak 2005 itu tidak hanya menghadirkan musisi jazz sebagai pengisi acara.

“Kalau semua yang main adalah musisi jazz, secara komersial pasti tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, idealisme tak bisa 100 persen,” tambah Dewi.

Secara tema, JFP mengharapkan Hodgepodge (baca: haj paj) adalah festival yang memungkinkan para pengunjung menikmati hiburan sembari piknik.

Tujuannya agar penonton merasakan lebih banyak pengalaman menyenangkan selain musik.

“Walaupun nanti ada yang tidak mengerti siapa musisi yang tampil, tetap muncul keinginan untuk datang. Mungkin untuk mencicipi makanan dan minuman, instalasi seni yang ditampilkan, atau nongkrong di lokasi acara,” tambah Dewi.

Agar atmosfer menonton konser sambil piknik tercapai di Hodgepodge, JFP memilih Ecopark yang ditumbuhi banyak rumput dan pepohonan sebagai tempat penyelenggaraan.

“Nanti juga banyak ornamen yang kami tambahkan di sekitar acara untuk semakin mendukung tema yang kami usung. Ibaratnya orang bisa tetap nyaman meskipun hanya sambil duduk aja tanpa melihat langsung artis yang main,” pungkas Dewi.

Bagi yang penasaran ingin merasakan atmosfer Hodgepodge Superfest, silakan menebus harga tiket yang dijual seharga Rp499 ribu (harian) dan Rp845 ribu (terusan).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR