FILM INDONESIA

IBOMA 2019 cari film terbaik dari deretan terlaris

Sebuah adegan dalam film Dilan 1990 menampilkan aktor Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla
Sebuah adegan dalam film Dilan 1990 menampilkan aktor Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla | Max Pictures

Film laris tak selalu identik dengan kualitas mumpuni. Sebaliknya, film berkualitas memadai belum tentu laris ditonton di bioskop. Sebuah ajang bernama Indonesia Box Office Movie Awards (IBOMA) berusaha menjembatani kedua hal ini.

Digelar tiap tahun sejak 2016, acara ini adalah ajang penghargaan yang bersifat kualitatif dari 10 film terlaris. Dalam IBOMA 2019, yang berhak masuk nomine adalah film-film terlaris pada 2018.

Jika diurutkan dari yang paling laris; mereka adalah Dilan 1990 (6,31 juta penonton), Suzzanna Bernapas Dalam Kubur (3,34 juta), Danur 2: Maddah (2,57 juta), Si Doel The Movie (1,75 juta), Asih (1,71 juta), Teman Tapi Menikah (1,65 juta), Milly Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (1,56 juta)‎, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (1,55 juta), Jailangkung 2 (1,5 juta), dan A Man Called Ahok (1,46 juta).

Film-film itu punya cakupan genre yang luas. Mulai drama romantis, horor, drama komedi, hingga film aksi.

"Box office tahun ini di IBOMA, filmnya ada dari banyak genre. Ada komedi, biopik, original story dan lain-lain. Dari 10 film yang terpilih dari box office ini memiliki warna yang beda pada tahun ini. Itulah yang buat juri senang karena banyak warna," ujar Reza Rahadian, ketua IBOMA 2019, kepada Fimela.com (15/3/2019).

Reza menyatakan bahwa keanekaragaman itu punya sisi lain. Juri jadi kesulitan menentukan siapa yang berhak jadi nomine, alih-alih pemenang nantinya.

"Ada gelas tumpah, banting handphone juga sudah, sama aroma terapi lah biar tenang dan nggak pusing,” ungkap Reza, yang mengepalai dewan juri; terdiri dari Ayushita Nugraha, Cesa David Luckmansyah, Hanung Bramantyo, Prisia Nasution, Sha Ine Febriyanti, dan Monty Tiwa.

"Kita lagi kena pulung aja kebagian menilai karya teman-teman kami, apalagi film dengan genre berbeda,” ungkap sutradara Hanung Bramantyo. Ia melanjutkan, “Misal membandingkan bagusan mana Vino yang kolosal sama Adipati yang bermain drama, atau bagusan mana Putrama Tuta bikin biopik sama Fajar Bustomi bikin film remaja.”

"Ya sulit pasti ya,karena bagus-bagus semua. Tapi karena kita mencari yang terbaik dari 10 film ini, pasti yang terbaik hanya satu," ujar Reza kepada Liputan6.com. Hanung menyatakan, "Semoga kami juri mendapatkan jalan terang, pemenang ya izin dari Tuhan. Jujur kami sangat kebingungan."

Dalam IBOMA 2019 ada 12 kategori penghargaan, termasuk aktor dan aktris terbaik, aktor dan aktris pendukung terbaik, sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, pendatang baru terbaik, ansambel pemeran terbaik, soundtrack asli terbaik, poster terbaik, trailer terbaik, serta film box office terbaik.

Para nomine telah diumumkan pada Senin (25/3). A Man Called Ahok jadi pengumpul nomine terbanyak; 14 nomine dalam 11 kategori. Hanya kategori ansambel pemeran terbaik yang luput dari film mengenai mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu.

A Man Called Ahok disusul oleh Milly & Mamet (sembilan kategori), Si Doel The Movie (sembilan kategori), Wiro Sableng (delapan kategori), dan Dilan 1990 (delapan kategori).

‎Rencananya malam penghargaan IBOMA 2019 akan disiarkan langsung oleh stasiun televisi SCTV dari Studio 6 Emtek City, Daan Mogot, Jakarta Barat, pada 5 April 2019 mulai pukul 21.00 WIB.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR