Ihwal terpilihnya Reza dan Ario menjadi narator Banda

Reza Rahadian (kiri) dan Ario Bayu difoto dalam dua kesempatan berbeda
Reza Rahadian (kiri) dan Ario Bayu difoto dalam dua kesempatan berbeda | Indra Rosalia /Beritagar.id

Dalam sebuah film dokumenter, narasi adalah elemen sangat penting. Meski ada pula dokumenter yang bisa berjalan mulus dengan bahasa gambar tanpa disertai narasi, seperti tindakan sutradara Ron Fricke dalam Samsara (1992) dan Baraka (2011), diperlukan kata-kata terucap untuk menjelaskan sesuatu yang lebih rumit kepada penonton.

Bahkan, kadangkala produser dokumenter berupaya lebih jauh untuk urusan narasi, hingga menggunakan jasa aktor populer. Misalnya, Morgan Freeman yang mengisi suara penjelasan untuk Island of Lemurs: Madagascar (2014). Atau Hubble 3D (2010) yang dinarasikan oleh Leonardo DiCaprio. Mereka adalah aktor kelas pemenang Oscar.

Nilai penting narasi sangat disadari oleh produser Sheila Timothy dalam film dokumenter Banda (sedang tayang di bioskop). Ia merasa perlu menggunakan jasa dua aktor papan atas tanah air, Reza Rahadian dan Ario Bayu, untuk menjadi narator Banda.

Reza (30 tahun) menjadi narator dalam versi Indonesia, sementara suara Ario (32) mengisi versi Inggris. Apa alasan Sheila memilih dua aktor top itu?

Saat footage dari Banda sudah selesai dijadikan draf, perempuan berusia 45 ini berdiskusi dengan Jay Subyakto --sutradara Banda. "Kami merasa visualnya luar biasa. Terbentuk dokumenter dengan gambar unik yang memberikan sesuatu yang baru," ujar Sheila saat bertandang ke kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Gambar unik nan baru itu bisa dibikin karena saat awal pembuatan Jay tidak mau ada referensi dari media apapun. "Itu sangat berani. Tapi dia memutuskan begitu. Dia mau semua fresh dari pikirannya," jelas perempuan yang akrab dipanggil Lala ini.

Selesai melihat draf, Lala dan Jay berembuk untuk memilih narator yang tepat. "Saya dan Jay berpikir gambarnya punya mood yang berbeda-beda. Jadi kami berpikir si narator harus bisa 'berakting' dengan suaranya."

Inti dari Banda menurut pemimpin LikeLike Pictures ini adalah mengajak orang agar tidak melupakan sejarah.

Tokoh-tokoh bangsa seperti Sutan Sjahrir dan Muhammad Hatta pernah diasingkan di sana. Sebagai pusat maritim Jalur Rempah, Banda juga menjadi tempat asimilasi suku-suku asli Indonesia dengan pendatang dari Tiongkok, Eropa, dan Arab.

Ada juga unsur tragis ketika Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Hindia Belanda saat itu) melakukan pembantaian terhadap suku asli Banda pada 1621 sehingga banyak orang menyelamatkan diri ke pulau-pulau sekitarnya.

"Dia (si narator, red.) harus bisa menekankan tone tragis, passionate, bercerita deskriptif. Kami butuh aktor untuk narasi ini. Sehingga pilihannya jatuh ke Reza untuk bahasa Indonesia," ujar Lala.

Dalam suatu kesempatan, Reza memang pernah mengakui permohonan pada Jay agar diikutkan dalam proyek Banda. Dari segi akting, pria berdarah Ambon itu tak perlu diragukan. Ia sudah memenangi empat Piala Citra ditambah sebuah penghargaan aktor terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik.

"Karena kami juga punya versi bahasa Inggris, kami butuh aktor yang bisa berakting dengan kemampuan bahasa Inggris mumpuni. Nah, itu jatuh ke Ario Bayu," ungkap Lala.

Ario memang wajar lancar berbahasa Inggris. Lelaki setinggi 180cm ini lahir di Jakarta, tapi ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Selandia Baru selama selama 11 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR