TEATER

Inayah Wahid bicara soal Princess Pantura

Inayah Wahid berpose saat bertandang ke kantor Beritagar.id, Jatibaru, Jakarta Pusat pada Jumat (13/4/2018)
Inayah Wahid berpose saat bertandang ke kantor Beritagar.id, Jatibaru, Jakarta Pusat pada Jumat (13/4/2018) | Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

"Aku enggak bisa pose kalau dipotret," ujar Inayah Wahid sambil tertawa. Ia memilih difoto diam-diam atau tanpa diketahui agar hasilnya lebih spontan.

Hal itu disampaikannya ketika menyambangi kantor Beritagar.id di Jatibaru, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2018). Dan demikian adanya, Inayah--sang putri bungsu Presiden keempat RI Abdurrahman "Gus Dur" Wahid ini memang spontan dan ceplas-ceplos.

Rentang emosinya terbagi dari tertawa terbahak-bahak hingga menampilkan mata berkaca-kaca karena sedih mengenang aktor lakon Gareng Rakasiwi yang meninggal dunia pada 9 Februari lalu.

Inayah datang untuk mengabarkan rencana tampil dalam lakon panggung bertajuk Princess Pantura. Pertunjukan ala teater ini akan diadakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada 20-21 April.

Dalam lakon yang disutradarai dan ditulis oleh Agus Noor itu, Inayah menjadi salah satu biduan yang memperebutkan gelar sebagai penyanyi dangdut terbaik di Pantura (daerah garis pantai utara Pulau Jawa).

Lakon Princess Pantura akan dipenuhi para penyanyi sungguhan. Antara lain Sruti Respati, Silir Pujiwati, dan beberapa anggota girlband JKT48.

Sementara di luar deretan penyanyi ada gerombolan para pelawak. Sebutlah Cak Lontong, Akbar, Wisben, dan Arie Kriting. Namun, Inayah belum tahu akan menyanyi atau nge-rap, tapi perempuan 35 tahun ini punya pengalaman dengan Djaduk Ferianto yang menjadi music director lakon ini.

"Saya sudah beberapa kali dikerjai Om Djaduk sebagai music director untuk nge-rap di berbagai pertunjukan mereka. Saya enggak tahu deh, kali ini mau dikerjai apa. Saya pasrah," tutur Inayah.

Lakon ini hampir pasti berkonsep pertunjukan ludruk (Jawa Timur) atau ketoprak (Yogyakarta dan Jawa Tengah). Maklum, Inayah menyebutkan sejauh ini belum ada persiapan. "Di Indonesia Kita (produser), semua selalu dikerjakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," tukas Inayah tergelak.

Ini bukan kesempatan lakon pertama Inayah. Ia pernah bermain dalam lakon Sapto Pandito Rakjat (Desember 2017) dan Satyam Eva Jayate (Januari 2018). Seluruhnya digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Dan kembali Inayah menegaskan bahwa pertunjukkan ala Indonesia Kita bukanlah ala teater. Saat sebulan menjelang penampilan Sapto Pandito Rakjat, Inayah yang memerankan tukang jamu dari Banyumas kaget karena tidak ada jadwal latihan dan naskah yang pasti.

"Itu benar-benar di luar kebiasaan saya dalam bermain teater. Biasanya ada persiapan tiga bulan, reading dulu, pendalaman karakter, dan segala macam, kalau perlu riset," ujar pengagum Sena Utoyo, Putu Wijaya, dan Ine Febrianti ini.

Jadi, spontanitas adalah senjata. Meski berkonsep spontan, Inayah yang menekuni teater sejak masih kuliah di Universitas Indonesia (Depok, Jawa Barat) ini tak pernah blank ketika berada di panggung. "Kalau garing dan tidak lucu memang pernah," katanya.

Selama proses wawancara, Inayah kerap tertawa.
Selama proses wawancara, Inayah kerap tertawa. | Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Inayah pun tak keberatan dengan konsep spontanitas ala ludruk yang diusung Indonesia Kita. Inayah justru menilai pertunjukkan selalu segar dan menggembirakan dirinya lantaran adrenaline junkie--senang hal-hal yang tak pasti di depan.

"Kan ada tiga pertunjukan, hari Jumat sekali, Sabtu dua kali. Itu enggak pernah ada yang sama. Dialog jadi beda, ada unsur fresh-nya. Menyenangkan," jelasnya.

Soal keseriusannya di dunia seni peran, Inayah menjelaskan bahwa cita-citanya sejatinya adalah jadi penulis. Kemudian kakak sulung, Alissa Wahid, menyarankan masuk jurusan sastra sehingga memilih sastra Indonesia di Universitas Indonesia.

Namun kegemarannya pada seni peran tidak redup dan ia sempat mengutarakan hal itu kepada sang ibu, Shinta Nuriyah Wahid. Namun, sang ibu menolaknya.

"Ia mengizinkan saya ikut kelas teater, tapi jangan ambil kuliah teater. Akhirnya saya ambil jurusan Sastra Indonesia. Kami punya kelompok teater dan saya sempat jadi ketuanya," cerita Inayah.

Selain aktif di dunia seni peran, Inayah juga masih menjalani pekerjaan sebagai putri Gus Dur. Selepas kepergian sang ayah, Inayah dan tiga saudarinya mendapat limpahan "pekerjaan rumah". "Otomatis kami harus ambil alih legacy bapak. Mau tidak mau ya sudah, kami harus menjalankan," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR