TEATER

Indra Bekti jadi jantuk di ''Muka Kampung Rejeki Kota''

Indra Bekti ketika bertandang ke kantor Beritagar.id di Jakarta Pusat (5/9/2017) dalam rangka mempromosikan lakon "Babe: Muka Kampung Rejeki Kota"
Indra Bekti ketika bertandang ke kantor Beritagar.id di Jakarta Pusat (5/9/2017) dalam rangka mempromosikan lakon "Babe: Muka Kampung Rejeki Kota" | Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

"Kok kagak hapal-hapal, gimana sihhhhhh...!!!!" ucap Indra Bekti. Suasana ruang studio Beritagar.id pun riuh dengan gelak tawa. Indra (39) sedang menirukan ungkapan kemarahan Maudy Koesnaedi (42) dalam latihan untuk konser teatrikal "Babe: Muka Kampung Rejeki Kota".

"Sekarang aja belom hapal, soalnya susah, pantunnya panjang-panjang," ujar Indra ketika bertandang ke kantor Beritagar.id di Jakarta Pusat (5/9/2017) dalam rangka mempromosikan lakon yang diadakan Teater Abang Nona Jakarta itu. Ia datang bersama Maudy yang jadi produser.

Dalam "Babe", Indra menjadi Jantuk. Apa itu? Menurut situs Kemendikbud, secara harafiah, jantuk artinya spontan dan tangkas dalam berdialog.

Pengertian kata jantuk dalam pertunjukan teater tradisional Topeng Betawi adalah dialog atau obrolan dua orang atau lebih yang dilakukan secara spontan, tangkas, dan ringkas (maksudnya tidak bertele-tele).

Spontan dan tangkas dalam berdialog, bisa dibilang sesuai dengan karakter Indra, yang lulusan Public Speaking dari London School of Public Relations (LPSR), Jakarta. Nah, Indra akan menjadi Bang Jantuk, ditemani Astry Ovie sebagai Non Jantuk.

Berdua, mereka menjadi semacam pembawa acara yang tampil dalam tiap bagian lakon untuk menceritakan prolog setiap sketsa. Tapi, tak sesederhana itu.

"Nggak sekadar di atas panggung terus ngomong. Kayak dalang sebenarnya, tapi dibikin sekocak mungkin. Jantuk itu menceritakan dengan penuh ekspresi dengan gestur juga sehingga orang tertawa dengar ceritanya," jelas Indra.

Oleh karena itu ia ikut latihan, yang berupa akting, menyanyi, dan menari bersama pemeran lainnya. Kedua jantuk rupanya bakal ikut joget bersama 30-an aktor lain. Porsi menari mereka ada di bagian awal dan akhir. Tapi tantangannya bukan sekadar ketiga hal itu. Harus menghafal pantun, itu yang bikin Indra kena omelan Maudy.

"Aku dasarnya nggak bisa pantun, jadi harus kami hafalkan. Itu yang jangan sampai salah, karena pantun kan harus ada rimanya," ujar suami Aldilla Jelita ini.

Untungnya selain pantun dan lagu Indra masih dibebaskan untuk berimprovisasi, yang menjadi keahliannya sejak kecil, saat menjadi pembawa acara Tralala Trilili bersama Agnes Monica pada 1990-an.

Adapun konser teatrikal "Babe, Muka Kampung Rejeki Kota" akan mengangkat perjalanan hidup mendiang Benyamin Sueb, seniman yang mengangkat budaya Betawi lewat film, lagu, dan berbagai karya seni lain. Sosok yang dikagumi Indra sejak kecil.

"Saya jadi tahu gimana gayanya, gerak-geriknya," kenang Indra, sambil menyebut film-film Benyamin yang pernah ia tonton seperti Betty Bencong Slebor (1978), Benyamin Biang Kerok (1972), dan Samson Betawi (1975).

"Dia juga punya Bens Radio, itu menginspirasi aku untuk bikin radio, juga melestarikan budaya seperti beliau. Amin!" ujar Indra.

Soal pelestarian budaya Betawi, Indra melakukannya lewat Teater Abang Nona Jakarta.

Didirikan oleh Maudy Koesnaedi pada 2009, Teater Abang Nona Jakarta berisi para peserta dan pemenang kontes tahunan Abang Nona Jakarta. Hingga kini mereka sudah menggelar 7 pertunjukan.

Sebagai finalis Abang tahun 1997, Indra termasuk yang pertama diajak Maudy, meski kesibukannya sebagai pembawa acara menyulitkannya untuk ikut. Baru 2011 ia ikut dalam lakon "Sangkala 9:10." Namun setelah pertunjukan mengenai pembantaian etnis Tiongkok oleh Belanda itu, Indra belum pernah ikut lagi.

"Lalu kan ada "Jawara" tahun 2015, itu bagus banget, aku ngiri. 'Mpok (kakak perempuan, atau panggilan untuk wanita yang lebih tua dalam bahasa Betawi, red.), kok gua nggak diajak'," ujar Indra menirukan ucapannya ke Maudy kala itu.

Diikutsertakanlah Indra ke dalam "Babe". Apalagi soal kontrak musik bukan lagi masalah. Dulu Indra sempat dikontrak sebuah perusahaan rekaman, yang membatasi gerak-geriknya dalam bermusik.

"Sekarang sudah keluar, jadi bisa menclak-menclok di mana-mana hahaha. Memang musti bantuin mpok!" tutup pria keturunan Jawa-Minang ini dengan logat Betawi yang kental.

Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, lakon "Babe: Muka Kampung Rejeki Kota" akan digelar pada 15-16 September 2017 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR