TEATER

Ine Febriyanti tampilkan sisi lain Cut Nyak Dhien

Penampilan Ine Febriyanti dalam monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan pada Kamis (3/5/2018).
Penampilan Ine Febriyanti dalam monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan pada Kamis (3/5/2018). | Image Dynamics

Suasana di halaman Fort Rotterdam sunyi senyap. Kondisi gelap gulita, cahaya hanya menjalar dari area panggung. Padahal, malam itu (Kamis, 3/5/2018), sekitar 1.000 orang memadati halaman benteng yang terletak di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan tersebut.

Mereka ingin melihat penampilan Ine Febriyanti (42) dalam mementaskan monolog Cut Nyak Dhien, yang mengangkat pahlawan nasional asal Aceh bernama sama.

"Sebuah lubang di kepala suamiku mengakhiri hidupnya.. Bahkan seluruh tumpahan air mata ini tidak akan pernah sanggup menghapuskan kepedihan ini.. Teuku, aku bersumpah kematianmu tidak akan pernah menghentikan perjuanganku!"

Itu petikan dari salah satu segmen dalam monolog ini, ketika Cut Nyak Dhien ditampilkan sebagai seorang perempuan yang goyah ketika kehilangan Teuku Umar, orang yang dicintainya.

Ini sedikit berbeda dari film Tjoet Nja Dhien (1988) yang diperankan Christine Hakim pada 1988. Menurut Ine, film tersebut lebih banyak menampilkan sosok wanita perkasa pemimpin perang melawan Belanda.

Sehingga tidak mengherankan kalau selama ini orang menganggap Cut Nyak Dhien adalah wanita perkasa yang tak pernah menangis, bahkan sewaktu suami pertama dan keduanya, Ibrahim Lamnga dan Teuku Umar, tewas dibunuh penjajah.

Sewaktu mementaskan Cut Nyak Dhien di Aceh, Ine menyatakan bahwa sebanyak 3.000-an penonton memberi apresiasi tinggi.

"Tapi menurut mereka, perempuan pejuang Aceh tidak mungkin menitikkan air mata ketika ditinggal suaminya. Menurut saya itu bohong, enggak mungkin," jelas Ine saat berjumpa dengan Beritagar.id seusai acara.

"Cut Nyak Dhien itu perempuan yang sangat agung. Saya enggak bisa menjelaskan secara gamblang. Dia menggetarkan. Saya ingin memperlihatkan sisi kegelisahannya. Sisi yang lemah. Manusia itu ternyata punya kelemahan," ujar perempuan kelahiran Semarang ini.

Cut Nyak Dhien meninggal pada 1908 dan tak banyak rekam jejak yang bisa diikuti Ine dalam memerankan tokoh dari Tanah Rencong itu. Jadi ia bisa menyelipkan unsur-unsur yang cocok untuk jalan cerita.

Misalnya, sebagai Cut Nyak Dhien, Ine meneriakkan bahwa para pejuang di seluruh Indonesia sedang bersatu melawan kaphe (sebuah kata dalam bahasa Aceh yang berarti 'kafir', dalam konteks ini maksudnya adalah penjajah).

Selain ada faktor kebebasan itu, Ine merasa ada sedikit kemudahan dalam memerankan Cut Nyak Dhien daripada peran monolog lain seperti Surti dan Tiga Sawunggaling (2010), ketika ia menjadi perempuan Jawa yang bersifat nrimo (menerima apa saja yang terjadi dalam hidupnya).

"Mungkin saya lebih mudah dalam memerankan karakter yang bersifat keras," ujar perempuan yang mengawali karier sebagai model ini.

Christine Hakim pun mengakui kebolehan aksi Ine sebagai Cut Nyak Dhien. Encang, salah satu kru Cut Nyak Dhien, bertutur bahwa Christine mau menangis begitu melihat penampilan Ine.

"Dia bilang, dia mau menangis lagi, (pikirannya) terbawa waktu zaman dia belum bisa 'keluar' dari peran itu," ujar Encang. Christine rupanya teringat suatu masa ketika ia tak bisa lepas dari karakter Cut Nyak Dhien.

"Empat tahun dia berproses (persiapan) dan syuting. Tiga tahun dia berusaha melepas (peran itu)," jelas Ine.

Apa yang bisa membuat perempuan bernama lengkap Sha Ine Febriyanti ini seakan kerasukan roh Cut Nyak Dhien saat mementaskan monolog? Sebelum memasuki panggung, ia berdoa, lalu berusaha membuat dirinya 'kosong'.

"Ketika masuk panggung, saya seperti bunuh diri. Saya masuk nol banget, itu bukan saya. Mati," tutup Ine.

Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Cut Nyak Dhien mulai diselenggarakan pada 27 April 2018 di Gianyar, Bali. Setelah Bali berlanjut ke Makassar, lalu lakon ini akan bertandang ke Solo (6 Mei), Surabaya (29 Mei), Kudus (28 Juni), Tasikmalaya (11 Juli), Bandung (13 Juli), Medan (28 Agustus), serta Padang pada bulan September.

Catatan redaksi: Beritagar.id terafiliasi secara tidak langsung dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR