TEATER

Investasi Ine Febriyanti dalam dunia teater

Aktris Ine Febriyanti berpose setelah mementaskan lakon monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/5/2018).
Aktris Ine Febriyanti berpose setelah mementaskan lakon monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/5/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Pada 1990-an, Ine Febriyanti tengah jaya. Memulai karier sebagai pemenang Cover Girl Majalah Mode tahun 1992, ia aktif sebagai model dan pemain sinetron. Kini perempuan berusia 42 tahun itu lebih aktif di dunia teater.

Setelah mementaskan lakon monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan pada Kamis (3/5/2018), Ine membeberkan alasannya lebih memilih seni peran di panggung.

Aktris bernama lengkap Sha Ine Febriyanti ini mulai berteater pada 1999. Melalui Teater Lembaga, ia ikut dalam pentas Miss Julie karya dramawan Swedia, Johan August Strindberg, pada September 1999.

Padahal, waktu itu nama Ine sedang populer sebagai model dan artis sinetron. Wajahnya sempat menghiasi televisi lewat Dewi Selebriti (1997).

Ia masih aktif main film layar lebar dalam Beth (2000) Nay (2015), dan film pendek Dajang Soembi, Perempoean jang Dikawini Andjing (2004). Juga teater, dengan judul-judul seperti Opera Primadona (2000), Surti dan Tiga Sawungguling (2011), Warm (2013), Wakil Rakyat yang Terhormat (2013), dan Cut Nyak Dhien (2014).

Hampir semua filmnya merupakan sinema yang tidak mengikuti arus utama. Apalagi teater, yang menurutnya kurang menghasilkan ketimbang sinetron. "Latihan tiga bulan, dibayar tiga juta, nombok pula," kenang Ine.

Namun bagi perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini, penghasilan tak harus berupa uang.

"Dari teater, saya dapat lebih dari uang," ujar Ine. "Banyak yang menawarkan sinetron, untungnya saya tak terjerumus terlalu jauh. Kalau waktu itu saya memilih sinetron, habis saya."

Maksud Ine bukan "habis" dari segi kepopuleran atau materi. Melainkan "semangat" dalam berkarya. Meski ia akui kalau perbedaan sinetron, film, dengan teater hanya sekadar ruang bagi seorang aktor untuk membentang proyeksi diri.

"Kalau sinetron, proyeksi kita besar. Karena kita bermain di televisi. Penontonnya lebih riuh, makanya ekspresinya lebay (berlebihan, red.), untuk menarik penonton," jelas lulusan SMAN 54 Jakarta ini.

Semangat berteater ditunjukkan Ine ketika menjelaskan alasannya memilih monolog. Ketika bermonolog, seorang aktor sendirian di atas panggung. Ia harus betul-betul menguasai medan. Lebih menantang.

"Kesulitan tertinggi itu bagaimana penonton tidak lengah saat pentas. Saya harus jaga intensitas dengan sangat kuat," jelas ibu tiga anak tersebut.

Tapi bukan berarti ia meninggikan diri sendiri. Justru bermonolog mengajarkannya agar tidak sombong. Pasalnya, begitu bermain teater non-monolog dengan aktor lain, ia langsung merasa jadi bodoh karena harus menyamakan semangat dan intensitas dengan mereka.

Menurut Ine, jika ia ingin memamerkan kepiawaian akting, penonton malah tak akan mendapat apa-apa.

"Di panggung itu kita harus bunuh diri. Nol. Jadi goblok."

Tip darinya hanya jangan menjadi orang yang fanatik. "Saya enggak punya kefanatikan terhadap segala sesuatu. Anak saya bisa jadi guru saya. Semut saja bisa jadi guru saya."

"Kita bisa belajar dari sesuatu dan tidak perlu jadi fanatik untuk mengagumi sesuatu," pesan Ine.

Saat ini Ine masih sibuk dengan tur monolog Cut Nyak Dhien, yang mulai diselenggarakan sejak bulan April di Gianyar, Bali. Masih ada beberapa kota yang akan ia singgahi yaitu Solo (6 Mei), Surabaya (29 Mei), Kudus (28 Juni), Tasikmalaya (11 Juli), Bandung (13 Juli), Medan (28 Agustus), serta Padang pada bulan September.

Mengenai proyek selanjutnya, sutradara film pendek 'Tuhan' Pada Jam 10 Malam (2010) ini akan memerankan tokoh perempuan lain. Ia enggan menyebutkan apakah karya berikutnya film atau teater. "Masih rahasia," tutup Ine.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR