FILM INDONESIA

Istirahatlah Kata-Kata tak akan berhenti di bioskop

Yosep Anggi Noen berpose untuk Beritagar.id saat ditemui dalam acara nonton bareng film Istirahatlah Kata-Kata di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan (24/1/2017)
Yosep Anggi Noen berpose untuk Beritagar.id saat ditemui dalam acara nonton bareng film Istirahatlah Kata-Kata di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan (24/1/2017) | Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Yosep Anggi Noen tidak menyangka film Istirahatlah Kata-Kata yang disutradarainya mampu bertahan lebih dari sepekan di jaringan bioskop tanah air. Animo penonton membludak. Kolom mention akun Twitter-nya kebanjiran permintaan agar film tersebut juga ditayangkan di kota-kota lain.

Walaupun jam tayang, kuota layar, juga kota yang menayangkan film tentang masa pelarian penyair dan aktivis buruh Wiji Thukul itu sudah meningkat, masih ada sebagian besar kota yang belum terjamah.

Kepada Sorta Tobing dari Beritagar.id yang menemuinya di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2017), Anggi sejak awal memang telah beriktikad mempertemukan film panjang keduanya ini kepada khalayak.

Selain hadir di berbagai festival film semisal Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-11 (1/12/2016), satu langkah lain telah mereka gagas. Melalui akun Istirahatlah Kata-Kata di Facebook (25/1), diumumkan bahwa film ini akan mengadakan nonton bareng di kota yang belum sempat menayangkan film tersebut pada 27 Januari 2017.

"Film ini tidak akan berhenti di bioskop, itu pasti. Saya yakin ia punya daya hidup yang lebih kuat dari film-film komersial di Indonesia," ujar Anggi.

Daya hidup yang dimaksud sineas asal Yogya itu adalah tumbuhnya inisiatif dari para komunitas, pecinta sinema, sastra, atau yang pengin turut menjadi bagian dari proses mendiskusikan lagi dan mengingat lagi sejarah kelam bangsa ini lewat film Istirahatlah Kata-Kata.

Melihat materi konten yang terdapat di dalamnya, juga pelabelan sebagai film festival, tidak ada yang menduga Istirahatlah Kata-Kata mampu bertahan lama. Setidaknya melebihi usia film-film dengan label film festival lainnya yang paling banter hanya bertahan 3-4 hari di bioskop.

"Saya pikir tidak cuma saya yang terkejut. Kalau mau jujur ya, orang pasti enggak menyangka film ini sambutannya seperti sekarang. Ini menjadi keterkejutan bersama. Dan saya ingin menjadi bagian dari kejutan tersebut," demikian sineas berusia 33 tahun itu menggambarkan perasaannya.

"Ternyata film dan estetika sederhana, dengan tutur yang sederhana ini, dengan topik yang bukan untuk semua orang ternyata ditonton semua orang dan kebanyakan anak muda. Saya sebagai pembuat film merasa tersanjung," tambah Anggi.

Pada saat tayang perdana (19/1), Anggi dalam akun Twitter-nya menulis bahwa Istirahatlah Kata-Kata mendapat jatah 10 layar dari jaringan bioskop 21/XXI --ditambah sembilan layar dari CGV Blitz dan Cinemaxx-- di seluruh Indonesia.

Antrean mengular dan status sold out pada setiap jam pemutaran membuat ekshibitor menambah kuota layar pada hari-hari berikutnya. Diungkapkan Anggi, Istirahatlah Kata-Kata mendapatkan 28 layar memasuki hari kedua pemutaran. "Sekarang kalau enggak salah menjadi 35 atau 37 layar di 16 atau 18 kota."

Banyaknya testimoni berisi rekomendasi dari para insan perfilman, mulai dari produser, sutradara, penulis skenario, hingga narablog yang selama ini rutin mengulas film ikut pula memantik rasa penasaran.

Riri Riza misalnya. Sutradara peraih Piala Citra 2016 lewat film Athirah itu menulis lewat akun Twitter-nya, "Skenario, sinematografi, desain suara, dan akting Gunawan Maryanto dan Marissa Anita indah dalam Istirahatlah Kata-Kata. Tonton."

Upi, sutradara My Stupid Boss, memberikan tanggapan senada. "Oya, buat yang belum nonton film Istirahatlah Kata-Kata, nonton deh! Film yang penting banget buat ditonton!"

Salman Aristo, penulis skenario Athirah yang juga meraih Piala Citra 2016, ikut melayangkan pujian. "Istirahatlah Kata-Kata dari Anggi Noen coba membebaskan lagi yang selama ini ditekan, dibungkam dari saya. Hanya ada satu kata: tonton!"

Dalam suasana konferensi pers film Galih dan Ratna di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan (25/1), kami bertemu Joko Anwar. Ternyata sutradara film A Copy of My Mind (2015) itu mengaku sudah tujuh kali menonton Istirahatlah Kata-Kata di bioskop.

Menurut hemat Joko, Istirahatlah Kata-Kata adalah film penting yang harus ditonton semua orang Indonesia. Pasalnya film tersebut dibuat oleh orang-orang yang punya kompetensi sangat tinggi, mulai dari segi penyutradaraan, penulisan skenario, dan departemen akting.

"Lewat film ini kita tidak hanya bisa menikmati filmnya, tapi juga bercermin dari sejarah, mensyukuri kemajuan yang sudah kita dapatkan sebagai bangsa, dan bisa memperbaiki kekurangan yang ada sekarang," sambungnya.

Perihal tingginya animo masyarakat terhadap film tersebut, Joko melihatnya sebagai sinyal yang bagus, bukan hanya dari segi filmmaking, tapi juga audience. "Artinya penonton bukan hanya mencari film yang punya nilai komersil tinggi, tapi juga film yang memiliki esensi."

Keberhasilan Istirahatlah Kata-Kata menarik minat penonton diharapkan bisa membuka mata produser.

"Semoga para produser tidak lagi hanya memproduksi film-film mainstream yang dianggap punya nilai komersial tinggi, tapi mulai menjajaki kemungkinan untuk membuat film dengan tema lebih esensial," pungkas Joko yang sedang mempersiapkan remake film horor Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR