Isyana Sarasvati pamer suara sopran diiringi orkestra

Aksi Isyana Sarasvati (tengah) bersama kelompok orkestra arahan konduktor Avip Priatna di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (31/1/2018).
Aksi Isyana Sarasvati (tengah) bersama kelompok orkestra arahan konduktor Avip Priatna di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (31/1/2018). | /The Resonanz Music Studio

Penyanyi Isyana Sarasvati berhasil memukau ribuan penonton ketika tampil dalam konser orkestra bertajuk "Invitation To The Dance" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018).

Dalam konser spesial yang diiringi oleh 54 musisi profesional, pianis muda Jonathan Kuo, dan konduktor Avip Priatna, Isyana memamerkan suara sopran --jenis suara tertinggi dalam klasifikasi musik klasik.

Penyanyi sekaligus musisi 24 tahun tersebut tampil paling akhir dengan menaiki panggung pada babak kedua konser pada pukul 21.15 WIB. Kehadiran Isyana yang mengenakan gaun putih diantar langsung oleh Avip.

Dua lagu langsung disuarakan Isyana, Les Filles dan Johan Strauss. Tak pelak, para penonton langsung memberi tepuk tangan meriah kepada pelantun "Keep Being You" ini.

Tentu saja Isyana tak akan mengalami kesulitan berarti untuk tampil di panggung musik klasik. Sejak kecil mojang yang menguasai alat musik piano dan brass section (tiup) ini sudah akrab dengan musik klasik.

Bahkan Isyana yang menyelesaikan studi musiknya di Inggris ini pernah tampil dalam konser opera di Singapura, tempatnya menimba ilmu seni. Itu sebabnya Isyana mengaku senang sekali bisa unjuk gigi meski hanya dua lagu.

"Aku selalu enjoy menyanyikan lagu klasik dan tidak pernah merasa kesulitan," imbuh Isyana saat ditemui Beritagar.id selepas konser.

Konser Invitation to The Dance yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut membawakan total sembilan lagu klasik. Masing-masing adalah;

  • Manuel de Falla (1876-1946) Spanish Dance No. 1.
  • Carl Maria von Weber (1786-1826) Invitation to the Dance.
  • Gabriel Faure (1845-1924) Pavane.
  • Fero Aldiansya Stefanus (1988) Panen Raya (penampilan perdana).
  • Franz List (1811-1886) Totentanz (piano oleh Jonathan Kuo).
  • Edvard Hagerup Grieg (1843-1907) Norwegian Dances, Op 35.
  • Leo Delibes (1836-1891) Les filles de Cadix (Isyana Sarasvati, sopran).
  • Johan Strauss II (1825-1899) Fruhlingsstimmen-Walzer, Op 410 (Isyana Sarasvati, Sopran), dan
  • Camille Saint-Saens (1835-1921) Danse Bacchanale.

Menyanyikan lagu klasik dirasakan Isyana seolah pulang ke rumah. Apalagi dalam konser ini, dirinya bisa bereuni dengan Avip --guru musiknya saat masih sekolah dasar di Bandung, Jawa Barat.

"Senang banget, enggak bisa dilupain sih reuniannya. Karena kan jarang banget kolaborasi dengan mas Avip, orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan musik aku," tuturnya.

Selain penampilan Isyana dan Avip, Invitation To The Dance, juga menampilkan tarian waltz serta tarian kematian karya Franz Liszt yang dimainkan melalui alunan piano Jonathan Kuo.

Ada pula inspirasi daerah Norwegian Dances karya Edvarg Grieg hingga inspirasi dari musik Indonesia berjudul Panen Raya karya Fero Aldiansya Stefanus yang khusus digubah untuk konser ini.

The Resonanz Music Studio (TRMS) yang dipimpin Avip bermaksud menunjukkan bahwa Indonesia juga punya orkestra yang terdiri dari musisi berbakat dan mampu memainkan karya komposer legenda kelas dunia.

Namun Avip juga berharap musik orkestra bisa diterima oleh masyarakat luas. "Misi kami mengenalkan musik klasik ke segmen yang lebih luas, mudah-mudahan dengan sajian musik klasik pilihan plus tema tarian bisa menggugah wawasan teman-teman yang tidak suka musik klasik menjadi suka," ungkap Avip.

BACA JUGA