FESTIVAL FILM INDONESIA

Jalan terjal Night Bus untuk raih Film Terbaik

Salah satu adegan dalam film Night Bus.
Salah satu adegan dalam film Night Bus. | Kaninga Pictures dan Night Bus Pictures

Darius Sinathrya terlihat kaget. Saat yang bersamaan, suasana di gedung Grand Kawanua Convention Center riuh oleh gemuruh tepuk tangan.

Tempat pertemuan megah di Manado, Sulawesi Utara itu menjadi saksi kemenangan Night Bus, film yang diproduseri Darius, sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2017 pada Sabtu (11/11/2017).

"Bagi kami, masuk nominasi saja sudah hal yang luar biasa," ujar Darius setelah menerima Piala Citra dari Presiden ke-5 Indonesia, Megawati Soekarnoputri, di atas panggung.

Darius saja kebingungan, apalagi awam, yang mungkin bahkan belum pernah mendengar judul film ini. Night Bus adalah film yang relatif tidak dikenal. Film karya sutradara Emil Heradi itu hanya seminggu ditayangkan di 105 layar seluruh Indonesia pada bulan April, dengan jumlah penonton berkisar 20 ribu saja.

Toh, Night Bus berhasil merebut enam Citra untuk kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Film Terbaik. Hanya kalah dari Pengabdi Setan yang memborong 7 penghargaan.

Keunikan film thriller ini tak hanya di situ saja.

Buah dari proses yang sangat panjang

"Film ini tidak akan jadi seperti ini kalau tidak ada kerja sama yang luar biasa. Kepada Darius, teman berantem, teman berpikir, dan juga Emil yang menemani dari 2010 hingga film ini jadi," ungkap Teuku Rifnu Wikana, yang memproduseri Night Bus bersama Darius.

Berkat film ini, Teuku juga memperoleh Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (bersama Rahabi Mandra).

Ide cerita bermula dari pengalaman pribadi Teuku pada 1999. Saat itu ia masih mahasiswa Jurusan Planologi di Institut Teknologi Medan. Aceh, tempat asal Teuku, masih merupakan daerah yang sangat tidak aman akibat adanya konflik antara kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan aparat keamanan negara.

Dari pengalamannya terteror di dalam bus selama belasan jam, Teuku menggagas cerita pada 2009. Kisah itu akhirnya menjadi sebuah monolog pementasan, lalu lahir kembali sebagai cerita pendek berjudul Selamat pada 2011. Cerpen ini dapat dibaca di situs majalah Hai.

Syuting baru dilakukan pada 2015, setahun setelah Darius ikut masuk dalam proyek ini. Saat itu naskah sudah memasuki draft keenam. Kelar syuting, rupanya proses post-production memakan waktu lama, hingga akhirnya Night Bus baru dirilis pada 2017.

Menggalang dana demi idealisme

Salah satu adegan dalam film Night Bus
Salah satu adegan dalam film Night Bus | Kaninga Pictures dan Night Bus Pictures

Dengan semangat independensi, para penggagas Night Bus tidak "menyerahkan" gagasan mereka ke rumah produksi besar. Mereka membuat rumah produksi sendiri, yang dinamakan Night Bus Pictures. Dari mana dananya?

Sebuah penggalangan dana masyarakat (crowdfunding) pun dilakukan pada pertengahan 2015. Sepuluh persen dari dana tersebut disumbangkan oleh Darius dan kawan-kawan untuk membangun ruang darurat bagi perawatan anak-anak di Rumah Harapan VCF.

Sampai akhirnya mereka mendapat investor dan bekerja sama dengan Kaninga Pictures. Rumah produksi satu ini dikenal kerap berkolaborasi untuk melahirkan film. Proyek kolaborasi mereka yang lain adalah film Marlina: The Murderer in Four Acts bersama Cinesurya Productions.

Kesalahan distribusi

Proses panjang sudah dilakukan. Cara yang tidak lazim pun dicoba demi melahirkan film bermutu tinggi. Namun sayang sekali, pada akhirnya filmnya tidak laku.

Film karya sutradara Emil Heradi itu hanya seminggu saja ditayangkan di 105 layar seluruh Indonesia, baik jaringan besar maupun kecil, pada bulan April, dengan jumlah penonton berkisar 20 ribu saja.

Bandingkan dengan empat nomine Film Terbaik lain yaitu Pengabdi Setan (lebih dari 4 juta penonton), Cek Toko Sebelah (2,6 juta), Kartini (sekitar 500 ribu). Night Bus bahkan kalah jauh dari Posesif yang juga termasuk 'film kecil-kecilan' tapi masih mampu meraih sekitar 200 ribu penonton.

Darius selaku produser tidak menyalahkan siapa-siapa terkait hal ini. "Kami banyak dibantu pihak distributor. Dalam keadaan sulit pun mereka tetap support dan proaktif untuk memberikan arahan ke kita," ujar suami aktris Donna Agnesia ini.

Rupanya ada kendala di distribusi. Ada beberapa kopi film yang gagal dan tidak bisa diputar di bioskop. Ini menjadi pelajaran besar untuk Darius dalam menjalani proyek selanjutnya. Maklum, Night Bus adalah film pertama yang ia produseri.

Sinopsis film

Sekelompok orang memiliki latar dan tujuan masing-masing. Ada yang ingin mencari kerja, ada yang ingin pulang, ada jurnalis, ada juga yang mencari temannya yang hilang.

Mereka disatukan dalam sebuah bus yang berangkat dari kota Rampak menuju Sampar, dikemudikan oleh Amang (Yayu Unru) dengan kondekturnya Bagudung (Teuku Rifnu Wikana).

Sampar merupakan kota yang terkenal kaya sumber daya. Namun konflik antara tentara dengan militan pemberontak penuntut kemerdekaan terus terjadi. Meski begitu para penumpang bus yang sudah terbiasa dengan konflik berpikir perjalanan mereka akan aman-aman saja.

Rupanya ada penyusup yang membawa pesan penting, yang dapat mengakhiri konflik yang terjadi di Sampar.

Kehadirannya membahayakan semua penumpang, karena dia dicari oleh kedua pihak yang tengah bertikai. Terlebih para penumpang harus menghadapi kaum oportunis yang justru tidak menginginkan konflik berakhir.

NIGHT BUS Official Theatrical Trailer - Final Version!!! /Night Bus Film
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR