FILM INDONESIA

Jatah layar bioskop untuk film Twivortiare

Manoj Punjabi diapit Reza Rahadian (kanan) dan Raihaanun saat press screening film Twivortiare di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (19/8/2019)
Manoj Punjabi diapit Reza Rahadian (kanan) dan Raihaanun saat press screening film Twivortiare di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (19/8/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Ekranisasi keempat karya penulis Ika Natassa bertajuk Twivortiare yang diproduksi MD Pictures segera tayang di bioskop mulai 29 Agustus 2019.

Jadwal yang bertepatan dengan penayangan Gundala, sebuah film jagoan (superhero) yang aslinya adaptasi dari komik karya Hasmi.

Dengan jumlah layar bioskop di Indonesia yang masih terbatas, diperkirakan belum menyentuh angka 1900 layar, persaingan dalam memperebutkan kuota layar suka atau tidak suka pasti terjadi.

Persaingan tersebut bukan hanya dengan sesama film produksi Indonesia, tapi juga dengan film-film mancanegara.

Saat sesi tanya jawab dengan para wartawan usai penayangan film Twivortiare di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (19/8/2019), produser Manoj Punjabi memberikan bocoran berapa jatah layar untuk filmnya pada hari pemutaran perdana nanti.

"Kalau dari jaringan XXI saya dapat info bahwa jatah untuk kami sebanyak 150 layar. Ditambah dengan jaringan bioskop lain seperti CGV, Cinemaxx, dan lain-lain, estimasi saya kurang lebih kami dapat 280 sampai 300 layar," ungkap Manoj (46).

Alokasi layar punya andil sangat penting dalam perolehan jumlah penonton. Semakin banyak dan luas persebaran film tersebut di bioskop, maka semakin mudah orang mengaksesnya.

Tak perlu menempuh jarak yang jauh, bersusah payah menembus kemacetan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Jika film yang awalnya hendak ditonton hanya mendapat jatah layar sedikit, dan lokasi penayangannya sulit alias jauh untuk diakses, maka kemungkinan mengurungkan niat menonton juga semakin besar.

Sementara keputusan ekshibitor menambah atau mengurangi jam tayang --bahkan kuota layar-- sebuah film tergantung tingkat okupansi dalam setiap pemutaran dalam studio. Tidak ada pengecualian.

Pun demikian, Manoj tak menghiraukan apa saja film yang menjadi pesaing Twivortiare dalam memperebutkan alokasi layar.

Baginya fokus mengurusi dapur sendiri lebih penting alih-alih harus memikirkan dapur orang lain.

"Saya juga tidak pernah membandingkan film saya yang diproduksi MD dengan film-film lain. Prinsip saya satu, asal film saya bagus, produksinya bagus, saya sudah enggak mikirin film lain. Pasti punya penontonnya sendiri," lanjut Manoj.

Materi yang terkandung dalam Twivortiare membuat pendiri MD Pictures ini sangat percaya diri.

Selain berangkat dari sebuah novel laris sehingga sudah punya pasar tersendiri, sebagian besar wartawan yang telah menyaksikan film ini pada sesi press screening juga memberikan respons positif.

Mereka memujikan kinerja Benni Setiawan sebagai sutradara yang mampu menyampaikan pesan utama dalam film ini, tentang makna dan komitmen dalam menjalin sebuah hubungan, dengan sangat lancar lagi mengasyikkan.

Penulis skenario Alim Sudio juga ikut mendapat pujian karena ketepatannya merangkai semua dialog antartokoh yang terlibat dalam film. Ada sisipan komedi yang tidak dipaksakan kehadirannya.

Dari departemen akting, semua bermain sesuai porsi. Kredit terbesar tentu saja diberikan kepada duet pemeran utama Reza Rahadian dan Raihaanun yang untuk pertama kalinya bermain bersama dalam sebuah film.

Kecemerlangan akting mereka seolah memberikan afirmasi mengapa dewan juri Festival Film Indonesia pernah menganugerahkan Piala Citra.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR