FILM INDONESIA

Jelita Sejuba ingin lebih memperkenalkan Natuna

Para pemain film Jelita Sejuba foto bersama di Pantai Batu Bersantai, Desa Sepempang, Kabupaten Natuna
Para pemain film Jelita Sejuba foto bersama di Pantai Batu Bersantai, Desa Sepempang, Kabupaten Natuna | Drelin Amagra Pictures

Setelah film Laskar Pelangi (2008) membuat Pulau Belitong jadi destinasi wisata yang populer. Drelin Amagra Pictures melalui produksi perdananya, Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara, ingin melakukan hal serupa untuk Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Nama Natuna dan perairan di sekitarnya selama ini hanya kerap jadi pemberitaan jika terjadi konfrontasi antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Cina.

Misalnya kejadian pada medio Juni 2017. Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, memprotes langkah Pemerintah RI mengganti nama perairan di utara Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, dengan nama Laut Natuna Utara.

"Negara-negara tertentu yang melakukan penamaan kembali, itu tak ada artinya sama sekali dan tidak kondusif dalam upaya mendorong standardisasi penamaan geografi," ujar Geng Shuang dalam laman BBC Indonesia.

Dilansir CNN Indonesia, sepanjang 2016 kedua negara sedikitnya terlibat tiga kali cekcok maritim. Pelecutnya karena kapal-kapal nelayan berbendera Cina memasuki perairan Natuna secara ilegal untuk menangkap ikan.

Melalui film Jelita Sejuba yang dijadwalkan tayang mulai 5 April 2018, segenap pemain dan kru mengharapkan semakin membuka mata banyak orang bahwa Natuna tidak hanya identik dengan pemberitaan seputar pencurian ikan oleh kapal-kapal asing.

"Selain pemandangan alamnya yang indah, di Natuna juga banyak makanan yang enak. Misalnya ikan asap. Semua kami munculkan dalam film," ujar produser Krisnawati usai press screening film Jelita Sejuba di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (3/4/2018).

Krisnawati mencontohkan salah satu lokasi yang bisa dijadikan destinasi wisata adalah Pantai Batu Bersantai dengan hamparan batu-batu granit berukuran besar.

Ada sebuah adegan yang memperlihatkan Syarifah (diperankan Putri Marino) dan Jaka (Wafda Saifan Lubis) bersama kawan-kawannya menghabiskan waktu duduk bersantai di tempat tersebut yang letaknya di Sejuba, Desa Sepempang.

Krisnawati membeli tanah di kawasan itu sejak beberapa tahun silam, kemudian mengelolanya sebagai tempat pariwisata.

"Di tepi pantai ada satu batu granit yang sengaja saya tambahkan hiasan hati di atasnya. Sengaja saya lakukan agar wisatawan bisa menjadikannya tempat berfoto," tambah perempuan yang pernah mendapat penghargaan sebagai Srikandi PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dari TNI AD.

Harapan serupa juga datang dari Putri Marino (24). "Semoga film ini bikin orang lebih tahu keindahan Pulau Natuna, mulai dari objek wisatanya, budayanya, bahasanya, dan orang-orangnya, semua satu paket. Soalnya selama ini Natuna tidak mainstream seperti Bali, Labuan Bajo, Wakatobi, atau Raja Ampat," ujar aktris yang lahir dan tumbuh besar di Bali ini.

Menurut sutradara Ray Nayoan kepada Beritagar.id, sebagian besar proses syuting yang memakan waktu 30 hari berlangsung di Natuna.

Kesempatan tersebut dihabiskannya untuk mengeksplorasi tempat eksotis yang ada di sana. Memang tidak semuanya bisa ia jelajahi mengingat keterbatasan waktu.

Pun demikian, Ray dengan mantap mengatakan bahwa Natuna merupakan tempat yang istimewa.

Anji yang mengaku baru pertama kali ke Natuna mengaku langsung terpikat. "Alamnya bagus banget, itupun belum saya eksplor semua. Ritme hidupnya seperti enggak dikejar-kejar. Jumlah kendaraan bermotor di jalan protokolnya juga masih sedikit. Sepi," ujarnya.

Dalam videoklip lagu "Menunggu Kamu" yang menjadi soundtrack film ini, Anji yang mengenakan pakaian tradisional Melayu Natuna menjadikan Batu Sindu sebagai lokasi syuting. Tempat itu jadi pilihan Jaka untuk menyatakan cinta kepada Syarifah.

Batu Sindu berada di Bukit Senubing, sekitar 4 kilometer dari Ranai yang menjadi ibu kota Kabupaten Natuna.

Formasi bebatuan yang membentuk bukit, pemandangan laut nan biru, dan semak-semak hijau menjadi pemandangan khas dari kawasan ini.

Masih di kota yang sama, terdapat pula kawasan bernama Alif Stone Park yang berhias aneka bebatuan granit berbagai ukuran di tepi pantai.

Both Sudargo selaku pemilik dan pengelola kawasan tersebut tak lupa membangun home stay sebagai tempat wisatawan menginap.

Selain mengeksplorasi sebagian keindahan alam Natuna untuk mempromosikan daerah tersebut, Ray turut mengajak beberapa warga sekitar terlibat dalam film Jelita Sejuba.

Abigail dan Harlan Kasman menjadi pemain, sementara yang lain menjadi kru, mulai dari departemen artistik, pelatih dialek, hingga asisten sutradara. "Saya ingin dalam film ini terjadi proses kolaborasi dengan warga lokal," pungkas Ray.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR