Jember Fashion Carnival 2018 akan angkat budaya Asia

Salah seorang peserta Jember Fashion Carnival yang berlangsung di Jember, Jawa Timur, 13 Agustus 2017.
Salah seorang peserta Jember Fashion Carnival yang berlangsung di Jember, Jawa Timur, 13 Agustus 2017. | Hendropranyoto /Shutterstock

Sejak penyelenggaraan perdana 16 tahun silam, Jember Fashion Carnaval (JFC) terus mendulang kesuksesan. Karnaval unik yang konsisten diadakan tiap tahun ini bukan hanya mempromosikan wisata Kota Jember, Jawa Timur, tapi juga mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Hal tersebut sejalan dengan mimpi sang pencetus JFC, Dynand Fariz, untuk membawa Jember jadi kota karnaval nomor satu dunia. Sejauh ini perlahan mimpi itu mewujud dengan torehan beragam prestasi dan penghargaan, baik di Tanah Air maupun kancah internasional.

Terbukti, pada 2016, JFC mewakili Indonesia berhasil jadi juara ketiga dalam Carnaval International de Victoria. Perhelatan karnaval dunia tersebut diadakan di Victoria, Seychelles, negara kepulauan kecil di Samudera Hindia, dengan Notting Hill (Amerika Serikat) dan Reunion (Prancis) di peringkat pertama dan kedua.

Kemudian, usai menyelenggarakan JFC 2017, Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan predikat pada Jember sebagai Kota Karnaval. Setaraf dengan kota-kota karnaval internasional lainnya seperti Rio de Janeiro di Brasil.

Kedua prestasi tadi memicu JFC untuk semakin merambah dunia internasional pada penyelenggaraan berikutnya.

Melansir detik.com, tema JFC 2018 akan sedikit berbeda. Jika tema JFC tahun-tahun sebelumnya terinspirasi dari Indonesia, di JFC 2018 akan mengangkat berbagai kebudayaan di Asia. Yakni dengan mengusung tema "Asia Light" (Cahaya Asia) yang menggambarkan JFC sudah kelas dunia.

"Nantinya, semua orang di dunia akan mengingat karnaval itu adanya di Jember, bukan di Rio atau Pasadena lagi," ujar Dynan, dikutip Liputan6.com.

Menurutnya, tema Asia Light dipilih untuk mengangkat JFC ke dunia Internasional, sekaligus mengukuhkan Jember dan Indonesia menjadi kota dan negara pusat tren karnaval dan fesyen dunia.

Misi yang diusung pun berkaitan, yaitu memajukan dan mengembangkan pendidikan, budaya dan sosial yang kreatif, serta menunjang pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis keunggulan lokal di Jember dan Indonesia umumnya.

Dimulai di bidang budaya, Asia Light akan mengedepankan kostum karnaval bertema negara-negara di Asia. Mulai dari Thailand, Filipina, Jepang, India, termasuk Indonesia sendiri.

Rencananya, beber Dynan, rangkaian kegiatan JFC 2018 akan berlangsung enam hari, 7-12 Agustus 2018.

Hari pertama adalah pembukaan JFC secara resmi, hari kedua Kids Carnaval, hari ketiga Artwear Carnival, dan pada hari keempat tampil Rythm Carnival.

Hari kelima menampilkan Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI), sedangkan puncak JFC di hari terakhir akan berlangsung Grand Carnival diikuti pameran dan konferensi pers.

Dynan juga menambahkan, "Konten Jember Fashion Carnaval memang selalu angkat fenomena global. Untuk tahun ini kita kaitkan juga dengan Asian Games," pungkasnya.

Tentu, tahun depan bakal jadi kesempatan bagus JFC untuk berkembang. Pada 2018, setidaknya ada dua event internasional yang akan mendatangkan puluhan ribu wisman. Yakni Asian Games di Jakarta dan Palembang pada Agustus 2018, serta Pertemuan Bank Dunia-IMF di Bali pada Oktober 2018.

Kunjungan wisman tersebut sesuai dengan rumusan Calender of Event 2018 yang belum lama ini terbentuk. Beberapa di antaranya mencakup target pariwisata nasional tahun 2018 sebanyak 17 juta wisatawan mancanegara dan 270 juta wisatawan nusantara.

Pencapaian itu salah satunya dengan mengadakan 100 event kelas dunia dari Indonesia, yang 60 persennya berupa cultural event alias festival Budaya.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya dikutip Kompas.com, JFC merupakan salah satu parameter ajang yang dinilai sukses, dan bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia untuk mengadakan acara berkualitas. Terlebih karena JFC telah berhasil meraih 11 penghargaan dari dunia internasional.

Tak tanggung-tanggung, untuk mendorong potensi besar JFC mendunia, Kementerian Pariwisata akan mendukung pelaksanaan JFC 2018 dengan menggunakan dana APBN.

Sebagaimana dijelaskan Arief pada Antara News, dana APBN hanya boleh digunakan untuk tingkat nasional dan JFC telah melampaui level tersebut menuju level dunia.

Berdasarkan analisis, JFC sudah baik dalam sisi kebudayaan dan seni, tetapi belum optimal dari segi komersial. Sementara itu, harus ada keseimbangan nilai budaya dan nilai komersial untuk menjaga kesinambungan kegiatan karnaval terus berjalan.

Untuk itu, kata Arief, agar dana bisa berkesinambungan, JFC perlu melibatkan pihak swasta.

Ia juga menuturkan, untuk mengembangkan JFC menjadi cikal bakal karnaval di kota-kota lain, seharusnya karnaval busana itu digelar di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Pun, pada tingkat internasional, agar JFC bisa tampil di Asian Games 2018 dengan beragam busana dari masing-masing daerah di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR