FESTIVAL FILM

Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 menggali identitas sinema Asia

Konferensi pers jelang penyelenggaraan di Lounge XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (16/10/2019)
Konferensi pers jelang penyelenggaraan di Lounge XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (16/10/2019) | Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Festival film tahunan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) akan kembali merayakan perkembangan sinema Asia di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai 19-23 November 2019.

Memasuki usia penyelenggaraan ke-14, JAFF mengusung tema “Revival” yang menempatkan festival film sebagai bentuk panggilan untuk merefleksikan lebih dalam dan mengangkat kembali kekayaan sejarah dan peradaban Asia.

“Kami ingin mengajak para penonton untuk memilah manakah warisan dari budaya Barat yang mesti di-Asia-kan dan manakah unsur-unsur sejarah Asia yang mesti digali dan dilestarikan. Pada dasarnya, kami berharap Bangsa Asia sadar bahwa mereka mesti lebih banyak belajar dengan sesamanya ketimbang pada masyarakat Barat,” ungkap Budi Irawanto selaku presiden JAFF dalam konferensi pers yang berlangsung di Lounge XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat (16/10/2019).

Tahun ini JAFF berlangsung secara terpadu dalam satu kawasan yang berpusat di Empire XXI Yogyakarta. Akan ada lima layar menonton, termasuk untuk penjurian, festival center, dan stage, semua berpusat dalam satu area.

Pemusatan kegiatan dalam satu tempat ini diharapkan semakin memudahkan akses kepada calon penonton.

Harga tiket satuan dibanderol sekitar Rp30-Rp35 ribu. Sementara tiket terusan berada pada kisaran Rp200-Rp300 ribu. Pemesanan tiket bisa dilakukan melalui aplikasi Goers atau melalui laman JAFF.

Sebanyak 107 film akan ditayangkan dalam program pemutaran JAFF yang terbagi menjadi program kompetisi dan nonkompetisi, antara lain Asian Perspectives, Asian Feature, Light of Asia, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema.

"Pemilihan film di setiap program JAFF tahun ini dilakukan dengan melihat banyak pertimbangan. Bukan hanya teknis yang bagus atau penceritaan yang baik semata, melainkan juga dari perspektif bagaimana film bisa membawa sikap dan argumen yang jelas dari sebuah peristiwa yang terjadi dari sudut pabdabf pembuatnya mengenai banyak hal-hal yang dibawa ke dalam film tersebut", ujar Reza Fahri, direktur program JAFF tahun ini.

Bersamaan dengan memperingati 100 tahun sinema Bengali, JAFF edisi ke-14 juga menayangkan sejumlah karya terbaik asal daerah tersebut yang sudah melakukan produksi sejak 8 November 1919.

"Keberadaan sinema Bengali dalam JAFF kali ini adalah salah satu wujud refleksi penggalian identitas diri sinema Asia yang telah hadir sejak seabad yang lalu," tutur Ifa Isfansyah selaku direktur festival JAFF.

Selain program pemutaran film, JAFF edisi ini akan menyuguhkan beberapa program edukasi yang terdiri dari Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas.

JAFF Education sebagai program Masterclass yang merupakan program lokakarya film untuk pemula juga tidak akan ketinggalan memeriahkan JAFF tahun ini. Program edukasi juga tidak hanya berfokus pada perfilman namun edukasi seni secara umum.

"Tahun ini kami berkolaborasi dengan Tempa sebagai seniman yang membuat artwork festival," ujar Ajish Dibyo selaku Executive Director JAFF.

"Selain itu ada aktivasi program edukasi seni untuk anak-anak dalam bentuk membuat kolase dan stempel sebagai upaya JAFF menumbuhkan minat seni sedari dini," tambahnya.

Program JAFF Education yang merupakan sebuah program lokakarya akan menghadirkan salah satu rigging gaffer profesional asal New Zealand, Sean O'Neill.

Sean O'Neill ikut terlibat dalam departemen sinematografi beberapa film Hollywood seperti The Great Wall (2016), Alien: Covenant (2017), dan yang terbaru Mulan (2020).

Penyelenggaraan JAFF 14 akan dibuka oleh film Abracadabra arahan sutradara Faozan Rizal. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian itu akan ditayangkan secara perdana dan akan menyuguhkan sebuah drama-komedi seorang pesulap bernama Lukman yang berusaha menggali kembali gairahnya pada dunia sulap.

Selain itu, Humba Dreams, sebuah film karya Riri Riza juga akan menjadi film yang disuguhkan di JAFF 14. Film ini mengisahkan tentang seorang mahasiswa sekolah film Jakarta bernama martin yang pulang ke Sumba untuk sebuah tugas yang tak mudah.

Perjalanan mempertemukan Martin (J. S. Khairen) dengan Anna (Ully Triani) dan berbagai pertanyaan tentang Humba dan dirinya perlahan menemukan jawaban.

"Tahun ini dinamika film Indonesia sungguh menarik. Ini yang membuat kurasi kompetisi JAFF ISA tidak mudah. Namun eksplorasi cerita, tema, dan sikap personal para filmmaker menjadi perhatian yang ingin kami dalami dalam seleksi ini," ujar Kamila Andini, direktur artistik JAFF 14.

Sebagai salah satu festival internasional terbesar di Indonesia, tercatat 23 negara akan terlibat, yaitu Indonesia, Filipina, Kamboja, Cina, Australia, Iran, Korea Selatan, Singapura, India, Vietnam, Jepang, Thailand, Kyrgyzstan, Sri Lanka, Bhutan, Jordan, Malaysia, Uzbekhistan, Tibet, Hongkong, Amerika Serikat, Georgia, dan Bangladesh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR