FILM HOLLYWOOD

Joker terantuk kecaman warga korban penembakan massal

Todd Phillips (kiri) dan Joaquin Phoenix saat menghadiri gala premiere film Joker di TCL Chinese Theatre IMAX, Hollywood, AS (28/9/2019)
Todd Phillips (kiri) dan Joaquin Phoenix saat menghadiri gala premiere film Joker di TCL Chinese Theatre IMAX, Hollywood, AS (28/9/2019) | Nina Prommer/EPA

Prediksi bahwa film Joker akan memantik kontroversi ternyata benar adanya. Hanya saja yang melayangkan protes bukan para penggemar berat versi komik, melainkan warga Amerika Serikat (AS) korban penembakan massal.

Lebih spesifik lagi, kecaman berasal dari keluarga korban penembakan massal yang terjadi di dalam bioskop Century 16 di Aurora, Colorado, AS, pada 20 Juli 2012.

Saat hari nahas terjadi, sekitar 400 penonton sedang menyaksikan hari perdana penayangan film The Dark Knight Rises, film tentang Batman yang notabene kerap menghalangi rencana jahat Joker.

Pelaku bernama James Holmes yang mengantongi tiket nonton sempat keluar sejenak lalu datang membawa beberapa senjata api.

Aksi biadabnya bermula dengan melemparkan dua tabung yang mengeluarkan asap, lalu memberondong dengan tembakan membabi buta.

Tragedi tersebut menewaskan 12 orang dan melukai 70 orang lainnya. Kebanyakan mengalami luka tembak. Peristiwa ini menjadi salah satu pembunuhan massal terparah dalam sejarah modern AS.

Musabab film Joker menghadirkan sejumlah adegan yang memperlihatkan bagaimana Arthur Fleck alias Joker melakukan penembakan massal pula, mengalirlah sejumlah protes.

Isinya sebagian besar berupa kekhawatiran bahwa dampak film tersebut bisa memicu timbulnya penembakan massal lagi.

“Ketika kami mengetahui bahwa Warner Bros. merilis film berjudul Joker yang menghadirkan tokoh tersebut sebagai protagonis dengan kisah asal yang simpatik, kami terdiam,” tulis surat pernyataan keluarga korban penembakan massal tersebut kepada Warner Bros. dalam laman CBS Local.

“Kami tentu mendukung hak kebebasan berbicara dan berekspresi Anda. Tetapi, kami juga meminta Anda untuk menggunakan platform besar dan pengaruh Anda untuk bergabung dengan kami dalam perjuangan untuk membangun komunitas yang lebih aman tanpa penggunaan senjata api.”

Alhasil mereka menolak penayangan film yang dibintangi Joaquin Phoenix itu di Aurora. Selain kekhawatiran orang-orang akan terinspirasi mengikuti langkah Joker, rasa kehilangan sanak keluarga masih mengendap dalam hati dan pikiran.

Mengingat aksi penembakan massal adalah masalah sangat serius yang masih terjadi di AS dalam beberapa tahun belakangan.

"Kekhawatiran saya adalah bisa saja ada satu orang di luar sana yang terdorong menjadi penembak massal setelah menyaksikan film. Dan itu menakutkan saya," ujar Sandy Phillips kepada Hollywood Reporter.

Sandy bersama suaminya, Lonnie, merupakan salah satu pasutri yang harus kehilangan anak dalam tragedi yang terjadi tujuh tahun silam. Mereka kemudian mendirikan lembaga nirlaba Survivors Empowered.

Rasa khawatir serupa yang kemudian menyendat langkah Tyson Sheehan, 32, seorang mahasiswa di Los Angeles asal Australia, untuk menyaksikan film Joker di bioskop.

Meskipun sangat ingin bergegas menonton Joker yang tayang perdana secara luas di AS mulai akhir pekan ini, Sheehan mengaku lebih memilih menunggu situasi agak tenang.

“Kemungkinan saya baru akan menyaksikan Joker berselang seminggu atau dua minggu setelah perilisan hari pertamanya,” tambahnya dilansir Reuters.

Parents Television Council (PTC) juga sudah mengeluarkan maklumat. Isinya meminta para orang tua untuk tidak membawa serta anak-anak mereka yang belum berusia 17 menyaksikan film ini.

“Jangan mengajak anak-anak menonton hanya karena berpikir film ini bagian dari waralaba Batman yang populer. Kritikus film telah menggambarkan bahwa ada kekerasan mengerikan yang dilakukan oleh Joker dalam film ini,” tegas Presiden PTC Tim Winter dalam pernyataan tertulis.

Respons aparat keamanan menanggapi kemungkinan yang dikhawatirkan tersebut adalah menurunkan sejumlah petugas. Mereka akan ditempatkan untuk berjaga di sekitar bioskop.

Melansir Deadline, Rodney Harrison, Kepala Patroli New York Police Department, akan mengerahkan anak buahnya menjaga sejumlah bioskop di Manhattan, Bronx, Queens, Brooklyn, dan Staten Island. Rencananya para petugas akan menyamar dengan berpakaian laiknya warga biasa.

Departemen Kepolisian Kota Los Angeles (LAPD) juga melakukan pendekatan preventif. Mereka akan lebih meningkatkan kewaspadaan di sekitar bioskop saat film ini tayang.

Pihak Warner Bros. dalam pernyataannya mengatakan bahwa tidak ada maksud dari film, pembuat film, maupun studio menjadikan karakter Joker sebagai pahlawan. “Kami juga tidak mendukung kekerasan dalam bentuk apa pun terjadi di dunia nyata.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR