FILM INDONESIA

Kafir: Bersekutu dengan Setan mencoba usung horor klasik

Salah satu adegan dalam film Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menampilkan aktris Nadya Arina sebagai Dina.
Salah satu adegan dalam film Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menampilkan aktris Nadya Arina sebagai Dina. | Starvision Plus

Bioskop-bioskop di Indonesia kembali kedatangan film horor. Kafir: Bersekutu dengan Setan akan tayang perdana di bioskop pada 2 Agustus 2018.

Film ini rupanya mencoba tampil beda dengan mengambil genre horor klasik. "Bukan cuma setan-setanan dan kaget-kagetan. Kami ingin story-telling tetap kuat," jelas penulis skenario Sarti Dania Sulfiati alias Upi setelah pemutaran perdana Kafir untuk kalangan pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2018).

Keinginan tersebut tentu saja tak cukup hanya dengan usaha. Dana harus kuat. Meski tidak mau menyebutkan angka, produser Chand Parwez Servia menyatakan kemungkinan bahwa Kafir adalah film horor Indonesia termahal saat ini.

Bos rumah produksi Starvision itu mengaku rela mengeluarkan banyak uang karena Upi berhasil meyakinkannya dengan konsep horor klasik yang kuat. Konsep itu diklaim mampu bikin penonton penasaran hingga detik terakhir film berdurasi 97 menit itu.

"Ada misteri, sehingga muncul pertanyaan di kepala penonton, ada apa sebenarnya dengan keluarga ini," ujar Upi.

Kafir diawali dengan kematian Herman (Teddy Syach) saat makan malam di rumah bersama keluarganya. Sang istri, Sri (Putri Ayunda), merasa kematian suaminya tidak wajar sebab mulut Herman mengeluarkan sebuah beling. Sri menjadi gundah dan sering bertingkah ketakutan.

Perilaku aneh Sri bikin bingung kedua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina), serta Hanum (Indah Permatasari)--pacar Andi. Ketika seorang dukun bernama Jarwo (Sudjiwo Tejo) tewas terbakar, misteri pun mulai tersibak.

Konsep cerita kuat tak ada artinya jika tak didukung eksekusi ciamik. Kisah berlatar 1990-an ini diiringi musik yang ditata oleh Bemby Gusti. Ia mencoba mengganggu dan menakut-nakuti penonton dengan berbagai suara aneh.

"Kami bereksperimen. Selain instrumen standar, kami coba membangun ketakutan dengan sound yang kami modifikasi, kami ubah-ubah frekuensinya," ujar Bemby.

Menurut sutradara Azhar Lubis; semua totalitas itu diperlukan demi desain horor yang klasik, kuat, dan mampu mengajak penonton berpikir. "Kami mencoba mengantarkan elemen horor yang penuh rasa," ujar lelaki yang akrab dipanggil Kinoi itu.

"Ini lebih bagaimana menampilkan perasaan dari semua karakternya. Semua rasa teror, ancaman, thriller, kami coba masukkan ke dalam film ini," jelas Kinoi.

Ia mengklaim segala detail terkecil dipilih secara hati-hati. Contohnya ada pada pemilihan palet warna kuning-kehijauan yang kuat, serta pergerakan kamera yang nyaris statis pada paruh pertama film--hasil kerja keras penata kamera Yunus Pasolang.

"Tone di film ini mewakili semua mood-nya. Dia akan mengikuti semua situasi, peristiwa, perasaan si tokoh. Ini horor yang coba didesain," ujar Kinoi.

Contohnya; saat film menampilkan rumah tokoh utama, warnanya sendu. Ketika kamera menampilkan Jarwo si dukun santet, warna merah menjadi dominan.

Tema santet yang kuat dalam Kafir juga membuat kru dan pemain harus syuting jauh-jauh di Banyuwangi, Jawa Timur. Itu disengaja agar sesuai dengan cerita.

Pada 1998, serentetan kejadian memilukan sempat terjadi di kota ujung timur pulau Jawa itu ketika terjadi pembantaian orang-orang yang diduga berprofesi dukun santet.

"Kami cari-cari ada dukun santet enggak? Aku cari guide lokal untuk bawa aku ke dukun santetnya," ujar Kinoi. Namun, itu bukan alasan utama pemilihan Bannyuwangi sebagai tempat syuting.

"Kami lihat memang banyak lokasi yang bagus," tutup Kinoi.

KAFIR Bersekutu dengan Setan Official Trailer /StarvisionPlus
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR