PIALA OSCAR

Kemenangan Green Book ternoda kontroversi

Sebuah adegan dalam film Greenbook menampilkan aktor Viggo Mortensen (kiri) dan Mahershala Ali.
Sebuah adegan dalam film Greenbook menampilkan aktor Viggo Mortensen (kiri) dan Mahershala Ali. | Patti Perret /Universal Studios

Green Book memenangi Oscar sebagai Film Terbaik dalam acara yang diselenggarakan pada Senin pagi (25/2/2019) WIB. Namun, kemenangan itu rupanya tak diterima beberapa pihak.

Begitu Green Book diumumkan sebagai pemenang, sineas Spike Lee dilaporkan marah dan ingin meninggalkan acara yang bertempat di Dolby Theatre, Los Angeles. Lee adalah sutradara BlackKklansman yang juga diunggulkan sebagai Film Terbaik.

Variety (24/2/2019) melaporkan, beberapa jurnalis melihat Lee menunjukkan gestur marah dan pergi ke pintu keluar. Namun, ia dihentikan dan diminta kembali ke kursinya. “Saya seperti digigit ular. Setiap kali seseorang menjadi sopir untuk orang lain, saya kalah,” ujar Lee setelah insiden itu.

Maksud Lee adalah kejadian pada Oscar 1990. Film yang ia garap yaitu Do The Right Thing kalah dari Driving Miss Daisy dalam kategori Naskah Terbaik. Kisah Driving Miss Daisy mirip Green Book, hanya saja terbalik secara ras dan gender; tentang seorang lelaki Afrika Amerika yang menjadi sopir tetap seorang wanita tua berkulit putih.

Jordan Peele, sutradara pemenang Oscar tahun lalu, juga dilaporkan tidak tepuk tangan saat Green Book dinobatkan jadi Film Terbaik.

Alasan Lee mungkin personal, karena ia lagi-lagi gagal mendapat Oscar. Sementara, tak diketahui alasan Peele tak bertepuk tangan.

Namun, memang ada kontroversi terkait film Green Book yang mungkin menyinggung beberapa orang.

Green Book diangkat dari kisah nyata mengenai persahabatan dua lelaki beda ras dan status sosial pada 1960-an. Tony “Lip” Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang Amerika keturunan Italia penghuni daerah kumuh Bronx di kota New York.

Ia dipekerjakan sebagai sopir Dr. Donald “Don” Shirley (Mahershala Ali), seorang pianis kulit hitam kelas dunia yang ingin konser ke daerah Selatan AS; sebagian warganya dikenal masih sangat rasis pada 1960-an.

Selain harus menyampingkan berbagai perbedaan, Tony dan Don harus bergantung pada “Buku Hijau” untuk membuat perjalanan yang lebih aman bagi seorang Afrika-Amerika.

Meski Shirley memang menggunakan jasa Vallelonga sebagai sopir, sisa kisah versi film dianggap ngawur oleh keponakan Shirley, yaitu Edwin Shirley. Dalam wawancara dengan Shadow and Act (14/12/2018), Edwin menyebut karakter Dr. Don Shirley dalam Green Book adalah sebuah “simfoni kebohongan”.

Tak seorangpun dari anggota keluarga Shirley yang dihubungi untuk penulisan naskah, yang digarap oleh Nick Vallelonga, anak sang sopir.

Dalam film, Don Shirley ditampilkan sebagai pianis kulit hitam yang dijauhi keluarga dan komunitas kulit hitam.

Padahal, menurut pengakuan Edwin dan Maurice Shirley, paman mereka aktif dalam pergerakan hak sipil. Bahkan, ia berteman dengan Martin Luther King, Jr., salah satu tokoh kulit hitam paling aktif dalam persamaan hak asasi manusia di AS.

Ia juga berkawan dengan para musisi kulit hitam seperti Nina Simone, Duke Ellington, dan Sarah Vaughn.

“Penggambaran beliau di film sangat menyakitkan. 100 persen salah,” ujar Edwin.

Don juga dekat dengan keluarganya. Adik Don, Maurice, menyatakan bahwa ia dan saudara-saudaranya sangat dekat, tak seperti yang digambarkan di film. “Tak ada satu bulan pun saya tak berhubungan dengan Don melalui telepon,” ujar Maurice.

“Satu yang selalu saya ingat dari sosok Don, adalah ia merupakan orang yang membesarkan saya,” lanjut Maurice. Ibu mereka meninggal pada saat Don berusia 9, Maurice baru dua hari. Sebagai saudara terdekat, Don merawat Maurice dan keduanya tetap dekat sampai Don meninggal, lima tahun lalu.

Hubungan Don dan sopirnya juga tak lebih dari majikan dan karyawannya saja. Mereka tak bersahabat seperti di film.

“Kalian bertanya apa hubungan Don dengan Tony? Ia memecat Tony! Ini hal biasa, sebab Don sering memecat sopir-sopirnya,” ujar Maurice sambil tertawa.

Kontroversi anti-Muslim

Selain disesali oleh Spike Lee, Jordan Peele, dan keluarga Don Shirley, Green Book juga bermasalah dengan kaum Muslim.

Kicauan lama penulis Nick Vallelonga muncul, berbau anti-Muslim. Ia pernah menyebar rumor palsu mengenai umat Muslim di AS yang bergembira setelah kejadian 11 September.

Setelah kontroversi merebak pada Januari, ia langsung menghapus akun Twitter-nya dan meminta maaf dalam sebuah pernyataan.

“Saya meminta maaf secara mendalam kepada Mahershala Ali yang luar biasa dan baik hati, juga seluruh umat Muslim. Saya juga minta maaf pada almarhum ayah yang berubah banyak sejak persahabatannya dengan Dr. Shirley, dan saya berjanji pelajaran itu tak akan hilang dari diri saya.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR