PENTAS SENI

Ketika puisi dipadukan dengan musik elektronik

Penyair Godi Suwarna (kiri) dan musisi Tesla Manaf beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018).
Penyair Godi Suwarna (kiri) dan musisi Tesla Manaf beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Suara lantang para penyair terdengar bergantian, diiringi tata suara elektronik dari sebuah synthesizer.

Tak hanya musik yang terdengar, sayup-sayup ada suara burung dan alam, sesuai dengan kalimat yang dilantunkan para penyair. Lampu panggung seolah tak mau kalah, menampilkan warna merah, biru, dan kuning. Seperti sedang menonton film dengan musik pengiring.

Suasana itu didapat Beritagar.id saat menonton pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan Titimangsa Foundation di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/2/2018).

Rupanya, maksud di balik perpaduan audio-visual antara iringan musik elektronik dan puisi adalah upaya memperkenalkan anak muda pada sastra.

"Sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang para penulis Indonesia, kami harap 'pesta sastra' yang diadakan pada hari ini dapat mengajak penikmat seni khususnya generasi muda lebih mengenal dan tertarik dengan sastra," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Selama sekitar satu jam, pertunjukan "Melihat Puisi" mempertemukan penulis-penulis puisi lintas generasi dengan latar sosial dan gaya berbeda.

Total ada lima penyair tampil di panggung, diiringi oleh Tesla Manaf dengan musik elektronik. Mereka adalah Godi Suwarna, Hanna Fransisca, HS Dewandani, Ni Made Purnama Sari, dan Faisal Syahreza.

Semuanya punya motif berbeda. Seperti Godi Suwarna. Ia membacakan puisinya dengan bahasa Sunda.

"Dalam bahasa Sunda banyak sekali kata untuk menggambarkan rasa. Untuk 'jalan' saja banyak kata-kata khusus," ujar Godi yang memang berdarah Sunda. "Kalau anda percaya surga ada di telapak kaki ibu, maka bahasa ibu itu adalah bahasa surga."

Penyair Hanna Fransisca beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018).
Penyair Hanna Fransisca beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Dengan berpuisi, Hanna Fransisca perempuan keturunan Tionghoa asal Singkawang, Kalimantan Barat, mengaku ingin memperlihatkan bahwa sukunya tidak melulu identik dengan stereotipe berdagang seperti di Jakarta.

"Di sana (Singkawang, red.) etnis Tionghoa jadi tukang becak, berkebun. Bapak saya juga kuli bangunan," ujar Hanna.

Sementara puisi yang dibacakan Ni Made Purnama Sari terinspirasi dari penyair Chairil Anwar yang dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta Pusat. "Kita beruntung sekarang di era digital banyak cara untuk menyampaikan puisi. Puisi yang baik tak hadir secara seketika tapi kesungguhan untuk mencermati apa yang terjadi dalam hidup kita," ujar Ni Made.

Lain lagi dengan Faisal Syahreza. Ia ingin para penyair lebih dihargai. "Banyak karya bagus yang tidak sampai ke pembacanya. Banyak karya yang biasa tapi karena pemasaran bagus sampai ke pembacanya. Tapi itu sama-sama usaha," jelas Faisal.

Penyair Faisal Syahreza beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018).
Penyair Faisal Syahreza beraksi dalam pertunjukan "Melihat Puisi" yang digelar di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/2/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

HS Dewandani berbeda sendiri. Ia satu-satunya yang berpuisi dalam bahasa Inggris. Ia menyampaikan betapa masyarakat sekarang mengalami perubahan perilaku akibat dunia maya.

"Kita tumbuh bareng media yang menentukan bagaimana bersikap dan terlihat. (Misalnya) perempuan dituntut untuk kurus, tapi bahenol. It's so impossible," jelas lulusan Sastra Inggris Universitas Jakarta ini.

Semua motif itu dipadukan dengan lancar oleh Tesla Manaf. Ia sebenarnya musisi jazz. Namun ia merasa sangat tertarik ketika ditawari kesempatan mengisi pertunjukan "Melihat Puisi". Meski persiapan hanya tiga hari, namun secara keseluruhan Tesla puas.

"Pas ngobrol dengan penyairnya, mereka langsung liar kasih ide musiknya, makanya saya sempat kewalahan," ujar Tesla.

Lalu ketika di panggung, rupanya ia lebih banyak melakukan improvisasi. Sebab, para penyair juga kerap melakukan improvisasi. "Basic-nya improve, tapi pelan-pelan sudah saya kasih konsep. (Sebelumnya) saya sudah catat mereka mau apa," ujar lelaki berusia 30 ini.

"Melihat Puisi" disutradarai oleh Heliana Sinaga. Pertunjukan ini merupakan debut perempuan berdarah Batak itu.

Sebelumnya ia pernah terlibat sebagai pemain, manajer panggung, show director, asisten sutradara, dan pimpinan produksi dalam "Monolog Inggit" (2011-2014), "Aku Perempuan" (2014), "Sukreni Gadis Bali" (2016), "Bunga Penutup Abad" (2016), "Karnaval Kemerdekaan" (2017), "Citraresmi" (2017), dan "Perempuan Perempuan Chairil" (2017).

Kiri ke kanan: Joind Bayuwinanda, Godi Suwarna, H.S Dewandani, Faisal Syahreza, Heliana Sinaga, Ni Made Purnama Sari, Hanna Fransisca , dan Tesla Manaf.
Kiri ke kanan: Joind Bayuwinanda, Godi Suwarna, H.S Dewandani, Faisal Syahreza, Heliana Sinaga, Ni Made Purnama Sari, Hanna Fransisca , dan Tesla Manaf. | Indra Rosalia /Beritagar.id
Catatan redaksi: Beritagar.id terafiliasi secara tidak langsung dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR