Kilau musik Indonesia era 1970-an dalam sejarah musik nasional

God Bless salah satu band yang terbentuk pada era 1970-an saat manggung di Surabaya (1975)
God Bless salah satu band yang terbentuk pada era 1970-an saat manggung di Surabaya (1975) | Edy Herwanto/Tempo

Hari Musik Nasional (HMN) kembali akan diperingati pada 9 Maret 2016. Peringatan tersebut mengacu tanggal kelahiran W.R. Supratman (9 Maret 1903) sebagai pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Susilo Bambang Yudhoyono menahbiskan secara resmi lewat Keputusan Presiden RI Nomor 10 Tahun 2013.

Berbicara musik nasional, dengan segala macam pemaknaannya, harus diakui bahwa dekade 70-an menjadi era paling berkilau dalam sejarah industri musik di negeri ini.

Beralihnya tampuk pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru yang diiringi sejumlah perubahan adalah salah satu kunci. Jika pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno musik maupun musisi yang berkiblat ke barat sangat dilarang, Presiden Soeharto memberlakukan sebaliknya. Tidak ada larangan, alih-alih penangkapan seperti yang menimpa Koes Bersaudara.

Grup musik yang jadi cikal bakal Koes Plus itu dijebloskan ke penjara Glodok, Jakarta, pada 29 Juni 1965. Tony, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo kedapatan membawakan lagu The Beatles berjudul "I Saw Her Standing There" dalam sebuah pesta di rumah seorang kolonel. Dua bulan mereka awet di dalam bui.

Manifesto Politik Indonesia (Manipol) yang ditetapkan sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pada kurun 1959-1967 melarang peredaran musik barat di Indonesia. Larangan itu merupakan salah satu bentuk perjuangan menentang imperialisme dan kolonialisme di Indonesia. Koes Bersaudara dianggap telah melakukan tindakan subversif.

Soeharto pada masa pemerintahannya selepas Soekarno memberikan kebebasan bagi para musisi untuk berkreasi sepuas hati. Larangan mengedarkan album musik maupun membawakan lagu-lagu dicabut.

"Lembaran baru bagi dunia musik Indonesia telah terbuka," tulis mendiang Denny Sakrie (1963-2015) dalam bukunya "100 Tahun Musik Indonesia" terbitan GagasMedia (halaman 84) menanggapi era musik di Indonesia pada awal dekade 70-an.

Hasilnya terlihat dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" versi majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) yang termuat dalam edisi 32 terbitan Desember 2007. Pengisi 15 besar daftar itu sebagian besar adalah album-album yang dirilis sepanjang kurun 1970-an.

Album tema film Badai Pasti Berlalu (rilis 1977) berada di posisi pertama. Kemudian menyusul "Guruh Gipsy" (1976), "Lomba Cipta Lagu Remaja" (1978), "Api Asmara" (1975), "Ken Arok" (1977), "Begadang" (Oma Irama yang kemudian dikenal dengan nama Rhoma Irama), "Yopie Item & Idris Sardi Live" (1977), dan "Musik Saya Adalah Saya" (1979).

Lagu-lagu dalam album Badai Pasti Berlalu diarahkan oleh Eros Djarot, musik dimainkan Yockie Suryo Prayogo dan dinyanyikan oleh Chrisye dengan vokal pendukung oleh Berlian Hutauruk.

Menurut Theodore KS dalam bukunya "Rock N' Roll Industri Musik Indonesia: Dari Analog ke Digital" terbitan Kompas (halaman 72-73), rekaman album tersebut masih menggunakan teknologi analog dan kapasitas alat rekaman delapan jalur.

Yockie yang menggunakan keyboard Farfisa, Yamaha, Roland Juno, dan Oberheim harus bekerja keras melakukan dubbing berkali-kali dengan mixer yang dirakit sendiri oleh Incun, pemilik perusahaan rekaman Irama Mas yang mengedarkan album Badai Pasti Berlalu.

Total 34 album yang dirilis sepanjang dekade 1970-an masuk dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa". Hanya kalah dengan album produksi 1990-an yang menyumbang 43 album, disusul 14 album rilisan dekade 1960-an, dan 23 album pada era 1980-an.

Tim penyusun daftar tersebut tidak hanya datang dari para editor RSI, tapi juga menyertakan Denny MR (wartawan musik senior), Denny Sakrie (pengamat dan kolektor musik), David Tarigan (pendiri Aksara Records, kolektor musik), dan Theodore KS (mantan kontributor berita musik untuk harian Kompas dan penulis lirik lagu).

Rolling Stone Indonesia kembali menulis edisi khusus berisi "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" yang terbit pada penghujung tahun 2009. Kali ini majalah musik yang diadopsi dari franchise terbitan Amerika Serikat itu menggandeng lebih banyak orang, termasuk insan radio yang aktif pada era awal industri musik Indonesia.

Tokoh-tokoh lainnya yang dilibatkan meliputi musisi senior, junior, pekerja label rekaman, stasiun radio, hingga insan perfilman dan televisi.

Dalam pengantarnya, RSI menulis bahwa rentang pemilihan lagu-lagu terbaik Indonesia diambil sejak tahun 1951 ketika The Indonesian Music Company Limited resmi berdiri sebagai perusahaan rekaman pertama setelah Indonesia merdeka.

Label yang dikenal dengan nama Irama Records itu didirikan Sujoso Karsono (1921-1984) atau akrab disapa Mas Yos. Pada 29 Oktober 1955 giliran pemerintah mendirikan Lokananta. Tujuan awalnya sebagai tempat merekam dan menggandakan piringan hitam bagi 49 studio Radio Republik Indonesia di seluruh wilayah tanah air.

Lagu-lagu rilisan 1970-an kembali mendominasi dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" dengan menempatkan total 45 lagu. Dekade 90-an berada di posisi kedua dengan selisih empat lagu. Menyusul kemudian era 80-an (30 lagu), 60-an (8 lagu), dan 50-an (6 lagu).

Meski hanya menempati urutan ketiga penyumbang terbanyak dalam daftar, era 80-an mencatat satu lagu penting hasil racikan kelompok Swami berjudul "Bongkar". Lirik lagu berisi kritik terhadap Orde Baru yang disuarakan Iwan Fals (vokal, gitar, harmonika), Sawung Jabo (vokal, gitar), Naniel (flute), Nanoe (bas), dan Innisisri (drum, Perkusi) itu menjadi pemuncak.

Berikut tabel 150 album dan lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia yang bisa Anda ubah kategorinya pada kolom "ranking".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR