ARTEFAK KEBUDAYAAN

Kisah cinta pemersatu berbagai bangsa

Salah satu sudut Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah
Salah satu sudut Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah | Perfect Lazybones /Shutterstock

Sebuah kisah pengembaraan cinta pangeran Kerajaan Kahuripan di Nusantara, mampu menyatukan berbagai bangsa di kawasan Asia Tenggara pada abad 14-an. Desember 2017 lalu, cerita ini tercatat dalam warisan dunia Memory of the World oleh UNESCO yang dinominasikan oleh Indonesia, Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris.

Sejarawan Adrian Vickers dari Universitas Sydney, Australia menyebutnya sebagai peradaban Panji di Asia Tenggara."Adrian benar, cerita Panji menyentuh banyak budaya dan menunjukkan betapa kita terhubung secara global dengan dunia luar," kata sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, ketika dihubungi Beritagar.id, Rabu (28/3/2018).

Dalam cerita tersebut, Pangeran Panji Inu Kertapati, mengembara hingga ke hutan untuk mencari sosok putri dambaannya yang telah dijodohkan sejak lahir, Putri Candra Kirana. Dalam pengembarannya, ia juga melewati berbagai negeri antah-berantah yang diyakini sebagai negeri di sekitar Nusantara.

Pengembaraan penuh rintangan yang tertulis dalam naskah kuno Panji itupun berujung dengan pertemuan pangeran dan sang putri.

"Banyak tempat yang dilewati (Panji saat mengembara) itu diidentifikasi di luar nusantara dan wilayah yang disebut dalam cerita menjadi populer karena orang merasa itu wilayahnya. Itu membentuk jaringan sejarah dan budaya masa lalu," kata Margana.

Kepopuleran cerita ini berawal dari Kediri, Jawa Timur. Cerita kemudian tersebar dari mulut ke mulut, melalui para saudagar yang berlabuh ke Jawa. Di Bali, kisah Panji terkenal dengan sebutan Malat, sementara di Thailand, disebut dengan Inao.

Lantaran banyaknya versi, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro, menyebutkan tak ada pengarang tunggal dari cerita rakyat tersebut. Selain dalam bentuk naskah kuno, cerita Panji bahkan terpahat dalam relief Candi Borobudur di Jawa Tengah.

"Panji bisa mengambil peradaban Asia Tenggara secara keseluruhan ketika hubungan politik masih cair. Masyarakat di wilayah ini saling mencari kebaruan untuk kepentingan masing-masing, saling mempelajari agama, budaya, seni atau wilayah negeri seberang," kata Margana.

Menurut lulusan Universitas Leiden ini, banyak naskah kuno abad 14-an hingga 18-an yang dapat dijadikan petunjuk mencari hubungan antarnegara kala itu. "Tidak hanya Panji, kalau naskah kuno itu dikaji itu bisa memecahkan misteri hubungan yang lebih luas di Asia Tenggara," katanya.

Lokadata Beritagar.id mengumpulkan data Memory of the World milik UNESCO dan mengategorisasi warisan tersebut menurut bentuk dan jenisnya. Terdapat sembilan kategori termasuk arsip, artikel (pribadi atau ilmiah), dokumen, foto, kitab atau buku, manuskrip, rekaman audio atau film, surat dan bentuk lainnya.

Arsip terdiri dari beragam bentuk dokumen mulai dari teks, video maupun audio. Warisan Indonesia yang masuk dalam kategori arsip seperti Candi Borobudur dan arsip bencana tsunami Samudra Hindia.

Sementara itu, manuskrip merupakan naskah kuno, papirus, prasasti, catatan musik, testimoni para pengembara, alfabet dan paleograf. Kategori dokumen mengarsipkan catatan resmi kenegaraan, hukum, etika dan perjanjian.

Di Asia Tenggara, warisan yang tercatat resmi di badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut meliputi 10 manuskrip, satu artikel, satu dokumen, satu foto, tiga kitab atau buku, delapan arsip, tiga rekaman, tiga surat dan dua warisan dalam bentuk lainnya.

Panji termasuk dalam manuskrip yang dimiliki oleh tiga negara di Asia Tenggara yakni Indonesia, Kamboja dan Malaysia.

Di tingkat dunia, UNESCO mencatat total 444 warisan yang mayoritas dalam bentuk arsip (90 warisan), manuskrip (90 warisan), kitab atau buku (50), rekaman atau film (49) dan dokumen (45).

Negara yang paling banyak memiliki warisan yang sudah diakui dunia yakni Jerman dan Inggris, masing-masing mencatat 23 warisan. Polandia menyusul di urutan kedua dengan rekor 17 warisan. Kemudian diikuti Korea Selatan dan Belanda masing-masing 16 warisan. Indonesia, punya 8 warisan.

Tak semua warisan yang tercatat di negara tersebut merupakan warisan budaya negaranya. Seperti Inggris dan Belanda, keduanya memiliki naskah kuno Panji meski bangsanya tak bersentuhan langsung dengan kisah klasik kerajaan Nusantara itu.

"Kalau dengan Belanda, cerita Panji tentu saja tidak ada hubungan budaya, tapi orang Belanda punya perhatian terhadap itu sehingga punya banyak manuskrip Panji. Orang Belanda merasa naskah cerita Panji sebagai barang berharga," kata Margana.

Contoh lain yakni dokumen Akta Persatuan Lublin yang menjelaskan pembentukan negara baru yakni Persemakmuran Polandia dan Lituania. Akta tersebut tak hanya dimiliki oleh kedua negara tetapi juga dimiliki Belarusia, Latvia dan Ukraina.

Surat emas Raja Myanmar Alaungphaya kepada Raja Inggris George II juga dimiliki tak hanya oleh kedua negara tetapi juga Jerman.

Pentingnya perhatian Indonesia terhadap pengarsipan pun dikemukakan Margana. Banyak cara bisa ditempuh, salah satunya digitalisasi. Margana mencontohkan proyek digitalisasi 75 naskah kuno Kesultanan Yogyakarta yang dimiliki British Library dan Royal Asiatic Society di London, Inggris.

Setelah dialihbentuk, naskah kuno ini rencananya akan dibuka kepada publik melalui situs yang khusus menampung naskah tersebut. Dengan demikian, naskah dapat dinikmati khalayak luas. Ia pun berharap pemerintah Indonesia melakukan hal serupa untuk arsip sejarah lainnya.

Untuk mengetahui warisan budaya apa saja yang dimiliki oleh lintas negara, bisa tengok visualisasi di bawah ini. Anda hanya perlu mengklik atau men-tap kotak warisan budaya untuk mengetahui di negara mana saja warisan tersebut berada.

Mengangkat nama bangsa lewat arsip

Pencatatan sejarah oleh banyak negara sudah menjadi tradisi sejak dulu. Belanda termasuk negara yang rajin mengarsipkan sejarah Indonesia. Alhasil, banyak ditemukan manuskrip dan dokumen kenegaraan asal Indonesia di Negeri Kincir Angin itu.

Margana menilai, Belanda punya perhatian khusus soal pengarsipan dibandingkan Indonesia. Pemerintahnya pun menggelontorkan dana untuk penelitian ilmiah dan perawatan naskah. Alhasil, naskah kuno seperti Panji justru banyak ditemukan di Belanda dengan berbagai versi.

Lagipula, iklim Belanda yang cenderung kering--berbeda dengan Indonesia yang lembab--memudahkan perawatan naskah kuno. "Kalau lembab gampang mengundang rayap dan rusak," kata Margana.

Selain berburu naskah kuno dengan beragam cara termasuk membeli dari kalangan bangsawan, orang Belanda juga kerap meminta orang lokal untuk menyalinnya.

Dokumen bersejarah seperti Konferensi Asia Afrika (KAA), Belanda justru punya arsip yang lebih lengkap. Buletin Departemen Luar Negeri Belanda memiliki dokumen lengkap dialog dari Komite Politik KAA yang tak dimiliki oleh Indonesia.

Penulis buku Konferensi Asia-Afrika 1995 sekaligus sejarawan Indonesia Wildan Sena Utama menjelaskan, banyaknya negara yang terlibat atau pun tertarik dengan peristiwa tersebut menyebabkan dokumentasi yang beragam tersebar di sejumlah negara termasuk Belanda.

"Ada pidato negarawan yang mewakili negara yang hadir dan manuskrip pidato juga pasti disimpan di negara-negara mereka. Misalnya Jawaharlal Nehru," kata Wildan saat dihubungi Beritagar.id.

Dokumen lain seperti dialog Perdana Menteri China Chou En Lai merespons KAA sebelum hadir ke konferensi juga mulai diterjemahkan ke bahasa Inggris. Minimnya pengarsipan di Indonesia soal KAA, menurut Wildan, perlu ditindaklanjuti. terlebih ketika KAA sudah tercatat dalam Memory of the World di Indonesia.

"Political will diperlukan. Kalau UNESCO menganggap penting, kenapa negeri sendiri tidak? Harusnya ada rasa tanggung jawab itu dan bisa mengangkat nama Indonesia karena punya kontribusi sastra dunia di masa lalu. Itu menempatkan Indonesia di peta akademik dan kebudayaan di global," tutup Wildan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR