FILM INDONESIA

Kisah cinta posesif Adipati Dolken dan Putri Marino

Adipati Dolken (kiri) dan Putri Marino, dua pemeran utama film Posesif produksi Palari Films
Adipati Dolken (kiri) dan Putri Marino, dua pemeran utama film Posesif produksi Palari Films | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Palari Films lewat produksi perdana bertajuk Posesif mencoba mengangkat romantika kehidupan asmara siswa Sekolah Menengah Atas dengan menunjuk Adipati Dolken, pemenang Piala Citra 2013, dan Putri Marino, salah satu presenter program televisi My Trip My Adventure, sebagai pemeran utama.

Kisahnya tentang dua siswa Sekolah Menengah Atas bernama Lala (diperankan Putri) dan Yudhis (Adipati).

Seperti gerakan dalam loncat indah, kehidupan Lala --si atlet loncat indah-- juga punya hidup yang jungkir balik. Penyebabnya bukan karena setiap hari ia harus melakukan gerakan tersebut di kolam renang. Bukan pula karena ayahnya yang keras dalam melatih.

Pangkal masalah ada seiring kedatangan Yudhis sebagai murid baru di sekolah Lala. Dia berhasil mengikat hati sang gadis untuk berjanji setia selamanya. Laiknya pasangan baru, kehidupan mereka berjalan dengan indah ibarat putri dan pangeran dalam dongeng.

Namun perlahan Lala dan Yudhis harus menghadapi kenyataan bahwa kasih mereka bisa menghadirkan kegelapan. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana lagi melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya malah jadi jebakan.

Sekarang Lala mengambang dalam pertanyaan; apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah, yang bila gagal, harus ia terus coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

Ringkasan cerita tersebut merupakan pedoman untuk sedikit memahami seperti apa jalan cerita Posesif yang disutradarai Edwin.

Untuk melongok persiapan sekaligus bertemu dengan dua pemain utama film tersebut, Palari Films mengundang sejumlah wartawan dari Jakarta, termasuk Beritagar.id, ke lokasi syuting di Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/1/2017).

Ada dua lokasi utama syuting Posesif di Bandung, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan NuArt Sculpture Park.

Gelanggang kolam renang yang dimiliki UPI adalah pertimbangan utama mengapa kampus yang diresmikan pada 1954 itu terpilih menjadi lokasi.

Sementara NuArt Sculpture Park milik pematung I Nyoman Nuarta yang berlokasi di Jalan Sutra Duta Kencana II/11, Bandung Barat, menawarkan berbagai karya seni dan panorama nan hijau di sekelilingnya.

Menurut Meiske Taurisia, yang jadi produser bersama Muhammad Zaidy, syuting Posesif berlangsung sejak awal Januari 2017.

"Sekarang sudah masuk tahap terakhir pengambilan gambar. Nanti kami kembali lagi ke Jakarta untuk mengambil beberapa adegan tersisa," katanya.

Untuk Edwin yang sebelumnya menyutradarai Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Kebun Binatang (2012), Posesif menawarkan tantangan. Itu sebabnya, ia yang tadinya menjadi produser bersedia menduduki kursi sutradara menggantikan posisi Teddy Soeriaatmadja yang sempat didekati Palari Films.

"Saya senang dengan kisah cinta. Karena itu kami merasa film ini harus dibikin. Tambah lagi ceritanya tentang anak SMA. Jadi semakin menambah dinamika. Itu membuat saya lebih tertantang untuk memikirkan seperti apa warna, tempo, dan hubungan antara karakter yang ada dalam film," ungkap Edwin (38).

Perihal terpilihnya Adipati dan Putri, Edwin mengaku keputusan tersebut datang setelah melalui casting yang berlangsung sekitar dua bulan.

"Dari proses pencarian tersebut, ditambah beberapa kali pertemuan membedah skenario bareng, kami menyimpulkan bahwa pasangan ini mampu memunculkan energi yang kuat pada karakter yang mereka perankan," tambah Edwin.

Bagi Adipati dan Putri, pengalaman pertama kali dipasangkan dalam sebuah film, terlebih bagi Putri yang menjadikan Posesif sebagai debut, beberapa kesalahan juga mereka alami. Namun secara keseluruhan, semuanya dapat teratasi berkat adanya latihan, lokakarya, dan bimbingan dari sutradara.

"Sekitar dua hingga tiga bulan kita lokakarya untuk memantapkan persiapan syuting. Hingga di lokasi pun saya terus belajar mengasah kemampuan," kata Putri yang sama sekali tidak punya latar belakang di dunia akting.

Minimnya informasi yang ia konsumsi soal perkembangan film Indonesia membuat Putri bahkan mengakui tak tahu siapa Adipati yang jadi rekan mainnya. "Jadi, pas dikasih tahu bakal main sama Adipati, saya harus googling dulu. Maaf ya, Adipati. Ha-ha-ha."

Film yang dijadwalkan tayang medio Juli 2017 ini juga menampilkan Yaya Unru, Cut Mini, Gritte Agatha, dan Chicco Kurniawan.

Bagian naskah ditulis Ginatri S. Noer (sebelumnya menulis skenario film Rudy Habibie, Pinky Promise, dan Habibie & Ainun), sedangkan penata kamera jadi tanggung jawab Batara Goempar (Aach... Aku Jatuh Cinta, Sang Kiai, dan Cinta tapi Beda).

BACA JUGA