FILM INDONESIA

Kisah Laksamana Malahayati akan difilmkan

Perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan dalam bentuk tarian dalam acara mlah peserta menampilkan pertunjukan kolosal perjuangan Laksamana Malahayati pada acara Apel Bersama Memperingati Hari Kartini Tahun 2018 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (25/4/2018)
Perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan dalam bentuk tarian dalam acara mlah peserta menampilkan pertunjukan kolosal perjuangan Laksamana Malahayati pada acara Apel Bersama Memperingati Hari Kartini Tahun 2018 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (25/4/2018) | Widodo S. Jusuf /Antara Foto

Kisah perempuan pahlawan dari Aceh pernah diangkat ke layar lebar dalam film Tjut Nja' Dhien (1988), dengan sutradara Eros Djarot dan pemeran utama Christine Hakim sebagai Cut Nyak Dhien. Kini, satu lagi kisah keperkasaan perempuan Aceh segera tayang di layar lebar. Dialah Malahayati, laksamana perempuan dari Tanah Rencong.

Film tentang kepahlawanan Malahayati tersebut akan diproduseri oleh Marcella Zalianty. Pada Jumat (4/5/2018), ia sudah bertemu dengan Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, untuk membicarakan proyek tersebut.

Selama di Aceh, Marcella juga akan mengadakan diskusi kelompok (focus discussion group/FGD) untuk mengetahui tanggapan masyarakat mengenai pembuatan film tersebut. Juga untuk mendapat lebih banyak masukan mengenai sejarah sang pahlawan.

FGD itu akan diisi oleh antara lain Ketua Majelis Pendidikan Daerah dan Ketua Majelis Adat Aceh, Rusdi Sufi.

Keumalahayati, nama lengkapnya, adalah perempuan pertama di dunia yang menjadi laksamana dan memimpin pasukan Kesultanan Aceh di lautan.

Kehadirannya menunjukkan pada dunia bahwa kekuatan maritim di Nusantara sudah diperhitungkan dunia sejak dahulu kala.

"Kami optimistis, sosok Malahayati sebagai laksamana perempuan pertama dunia akan sangat menginspirasi," ujar Marcella.

Selain kehebatannya sebagai laksamana, sisi humanisme sang pahlawan juga akan digarap. Menurut Marcella, Malahayati bukan sekadar pejuang dalam perang melawan penjajah. Ia ingin menonjolkan makna kehidupan seorang Malahayati pada masyarakat. Namun itu tidak berarti perempuan berusia 38 tahun ini akan membuat film dokumenter.

"Nanti ada pengembangan artistik yang sifatnya filmis dan tetap jaga koridor dalam riset sejarah," ujar Marcella pada Tribunnews (22/1).

Belum diketahui siapa yang akan memerankan Malahayati, juga jadwal rilis film ini.

Sebelumnya kisah Malahayati pernah difilmkan pada 2007 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sang perempuan laksamana diperankan oleh Ine Febriyanti, yang kelak menjelma menjadi pahlawan asal Aceh lainnya, Cut Nyak Dhien, dalam lakon monolog Cut Nyak Dhien.

Untuk proyek Malahayati kali ini, penggagasnya berasal dari kalangan militer, yaitu Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo. Ketika ide ini muncul, Gatot masih menjabat sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia.

Ia ingin kisah Malahayati dikenal dunia internasional lewat film ini. Pihaknya bahkan sampai melakukan riset ke Turki.

"Kita perlu mengadakan studi kepustakaan, sehingga benar-benar cerita ini bisa dinarasi, dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan," ujar Gatot kepada Detik (11/10/2017).

Memimpin Inong Balee melawan penjajah

Memimpin pasukan untuk melawan Belanda pada abad ke-16, baru belakangan ini nama Malahayati diakui sebagai pahlawan. Pada November 2017, Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.

Dalam diri Malahayati mengalir darah biru dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh.

Pada era Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (berkuasa 1589-1604), suaminya gugur saat menghadapi bangsa Portugis di perairan Malaka. Mirip dengan kisah Cut Nyak Dhien yang terbakar dendam setelah suaminya Teuku Umar tewas di tangan penjajah, Malahayati geram.

Sang sultan menunjuknya sebagai Panglima Protokol Istana, menggantikan suami Malahayati. Ia juga diangkat menjadi pemimpin tertinggi angkatan laut dengan pangkat laksamana.

Malahayati lantas mengumpulkan kekuatan yang terdiri dari 2.000-an orang bernasib sama dengan dirinya, para janda perang yang kemudian dinamakan pasukan Inong Balee.

Pada 21 Juni 1599, terjadilah sebuah peristiwa yang membuat Malahayati menjadi incaran tentara-tentara Eropa.

Di Selat Malaka, Malahayati memimpin Inong Balee menyerbu dua buah kapal Belanda yang dipimpin de Houtman bersaudara--Cornelis dan Frederick.

Armada Belanda kalah. Pedang milik Cornelis de Houtman tak mampu melindunginya ketika berduel satu lawan satu dengan Malahayati yang menggunakan rencong, senjata tradisional Aceh.

Cornelis tewas di tangan sang perempuan pejuang. Sementara Frederick dan sisa armada Belanda dijebloskan ke penjara.

Orang-orang Eropa murka. Malahayati jadi buruan nomor wahid. Sekitar tahun 1606, ia wafat saat bertempur melawan Portugal, juga di Selat Malaka. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Lamkuta, Banda Aceh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR