Konser Kuaetnika, perpaduan melodi yang menjelma kritik sosial

Cuplikan adegan saat Djaduk berdialog dengan sosok generasi milenial.
Cuplikan adegan saat Djaduk berdialog dengan sosok generasi milenial. | Syarahsmanda /Beritagar.id

Bunyi-bunyian dari alat musik tradisional dan modern saling bersautan mengisi ruangan. Sekilas terdengar tak beraturan hingga semuanya menemukan keselarasan dan berubah menjadi melodi yang harmonis.

Setiap alunan dari alat musik sempat terdengar seolah ingin menonjol sendiri. Petikan bass mendominasi, pukulan drum, bonang, petikan gitar, hingga suling seperti berjalan masing-masing. Hingga akhirnya, bunyi-bunyian tersebut menjelma alunan melodi yang memadukan sentuhan modern tanpa menenggelamkan unsur tradisional di dalamnya.

Rupanya, kemunculan bunyi-bunyi yang tidak selaras sebagai pembuka konser bukan tanpa alasan. Djaduk Ferianto menggunakan keberagaman bunyi yang keluar dari alat musik sebagai representasi keunikan bangsa Indonesia.

“Seperti suara alat musik tadi yang beragam, itulah sesungguhnya keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia. Justru keberagaman menjadi kekayaan kita yang harus dijaga dan disyukuri,” tutur Djaduk membuka konser.

Pada Sabtu, 23 Februari 2019, komunitas musik Kuaetnika yang digawangi oleh Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Purwanto menggelar konser “Sesaji Nagari” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

Ada yang lain dalam konser kali ini, selain mengaransemen beberapa lagu daerah yang jarang terdengar, konser Kuaetnika juga menyelipkan seni peran untuk menghidupkan konser dengan menghadirkan dua sosok generasi milenial.

Pertemuan lintas generasi antara generasi milenial dan generasi baby boomers melahirkan celetukan-celetukan sarkas untuk mengkritik kondisi bangsa Indonesia saat ini, termasuk ihwal RUU Permusikan yang saat ini juga tengah hangat diperbincangkan.

Lewat lakon yang disisipkan dalam konser, Djaduk ingin menyampaikan pesan urgensi memperkenalkan seni musik tradisional kepada generasi muda. Berangkat dari masalah tersebut, konser mengemas ulang lagu-lagu daerah yang memadukan penggunaan alat musik tradisional dan modern.

Sejumlah lagu daerah dibawakan dalam konser Kuaetnika, seperti Kadal Nongak (Lombok), Lalan Belek (Bengkulu), Made Cenik (Bali), dan lagu yang khusus ditulis untuk konser ini yang berjudul “Anak Khatulistiwa” dan “Sesaji Nagari”.

Ritual potong tumpeng "Sesaji Nagari" menjelang akhir konser
Ritual potong tumpeng "Sesaji Nagari" menjelang akhir konser | Syarahsmanda /Beritagar.id

Tidak hanya membawakan lagu-lagu daerah, konser Kuaetnika, melalui dialog yang dibangun oleh Djaduk dan tokoh milenial menjelaskan makna setiap lagu daerah yang dibawakan serta alat-alat musik tradisional yang digunakan selama acara lewat guyonan khasnya.

Pada akhir acara, satu set tumpeng dihadirkan ke atas panggung sebagai bentuk “Sesaji Nagari”, simbol permohonan agar keberagaman bangsa Indonesia tetap terjaga. Aktor senior Slamet Rahardjo pun diundang naik ke panggung untuk ikut memotong tumpeng.

“Kami harap inovasi yang kami lakukan dapat menyelaraskan semagat keindonesiaan dari ujung barat hingga ujung timur, merekatkan kembali apa yang disebut Indonesia dan mengingat kembali menjadi orang Indonesia yang menghargai keberagaman,” ujar Djaduk.

Setelah digelar di Jakarta, konser Kuaetnika juga rencananya akan diadakan di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 10 Maret 2019.

Sesaji Nagari
Sesaji Nagari | /Kayan Production
Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media Konser Kuaetnika
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR