Konser persembahan untuk tritunggal musik Indonesia

Para pengisi acara dan promotor konser Tembang Persada Sang Tritunggal saat konferensi yang berlangsung di Hard Rock Cafe, SCBD, Jakarta Selatan (20/12/2018)
Para pengisi acara dan promotor konser Tembang Persada Sang Tritunggal saat konferensi yang berlangsung di Hard Rock Cafe, SCBD, Jakarta Selatan (20/12/2018) | Betiga Satu Suara

Nama Eros Djarot, Chrisye, dan Yockie Suryo Prayogo tak syak lagi menempati posisi terhormat dalam kancah industri musik populer Indonesia. Trio ini adalah pendobrak sekaligus pembaru. Pemilik berjuta gagasan.

Bukti kecakapan mereka tertuang dalam album tema film Badai Pasti Berlalu (BPB) yang rilis 1977.

Awal peredaran album tersebut agak seret dari segi penjualan.

Pasalnya kuping penikmat musik kala itu menganggap 13 komposisi di dalamnya terlampau njelimet untuk album pop; perpindahan akordnya unik, tempo berubah-ubah, liriknya puitis bertabur metafora.

Pun demikian, pelan tapi pasti album BPB mulai dicari-cari. Bahkan Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007 menempatkan album produksi Irama Mas itu di peringkat pertama daftar 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa.

Saat wawancara bersama Beritagar.id, pada Februari 2017, Yockie berucap bahwa mereka bertiga punya pembagian tugas spesifik; “Mas Eros menulis lirik, saya mencipta aransemen, Chrisye yang menyanyikan.”

Pola tersebut berlanjut dalam tiga album berikutnya yang diedarkan Musica Studio’s, yaitu Resesi (1983), Metropolitan (1984), dan Nona (1984).

Saking menyatunya mereka dalam urusan musik, tersematlah julukan tritunggal.

Chrisye dan Yockie kini telah berpulang untuk selamanya. Tersisa Eros.

Untuk menyegarkan kembali memori terhadap karya-karya mereka bertiga, sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda, penyelenggara acara Betiga Satu Rasa menggelar konser bertajuk “Eros-Chrisye-Yockie: Tembang Persada Sang Tritunggal”.

“Acaranya berlangsung di Jakarta dan Surabaya. Bocoran sedikit, nanti ada suguhan shadow dance dan video mapping juga. Mas Eros juga kami berikan sesi khusus,” ujar Sam Burnama mewakili Betiga Satu Rasa saat menyambangi Beritagar.id di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat (28/1/2019).

Konser di ibukota berlangsung di Jakarta Concert Hall iNews Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat (1/2). Banderol harga tiketnya mulai Rp400 ribu, Rp600 ribu, dan Rp1 juta.

Dua pekan berselang, konser serupa boyongan ke kota pahlawan. Bertempat di Grand City Convex, Surabaya. Harga tiketnya; Rp250 ribu, Rp350 ribu, dan Rp500 ribu. Pembelian tiket bisa dilakukan secara daring dan luring.

Para penyanyi yang tampil dalam konser nanti adalah Harvey Malaiholo, Marcell Siahaan, Bonita Adi, Barsena Bestandhi, Wizzy, dan Trisoul. Nama yang dituliskan terakhir khusus tampil di Surabaya menggantikan Barsena.

Krisna Prameswara yang selama ini dikenal sebagai orang penting dibalik kesuksesan beberapa musisi hebat seperti Colours Band, Wong Pitoe, dan Naif dipercaya sebagai pengarah musik.

Seperti apa awal tercetusnya ide menggelar konser persembahan untuk ketiga sosok ini dan apa saja yang membuatnya menarik? Berikut perbincangan kami bersama Sam Burnama.

Sam Burnama saat mempromosikan konser Tembang Persada Sang Tritunggal di kantor Beritagar.id, Tanah Abang, Jakarta Pusat (28/1/2019)
Sam Burnama saat mempromosikan konser Tembang Persada Sang Tritunggal di kantor Beritagar.id, Tanah Abang, Jakarta Pusat (28/1/2019) | Muhammad Imaduddin/Beritagar.id

Bagaimana awal mula tercetusnya ide bikin konser yang spesifik menghadirkan karya-karya Eros-Chrisye-Yockie?

Ide awalnya hanya ingin menggelar konser persembahan untuk Chrisye. Sekitar pertengahan 2018. Setelah kami bedah karya-karya beliau, hadir sosok-sosok lain. Akhirnya muncul ide untuk sekalian mengikutkan Mas Eros dan Yockie.

Waktu ketemu Mbak Damayanti Noor (istri mendiang Chrisye, red.), beliau langsung setuju. Soalnya kata beliau belum ada yang mengusung tiga nama ini dalam satu konser. Kebanyakan hanya mengusung nama Chrisye. Setelah itu kami ketemu Mbak Tiwi Puspitasari (istri mendiang Yockie) dan Mas Eros Djarot.

Ketemu Eros lancar?

Wah, untuk bisa ketemu beliau saja susahnya minta ampun. Ha-ha-ha. Sekitar dua bulan kami baru bisa ketemu. Saking sibuknya beliau.

Kami hampir menyerah. Sampai minta tolong Mbak Tiwi untuk memfasilitasi, tapi tetap saja enggak berhasil. Sempat berpikiran cukup minta izin tanpa harus ketemuan, eh tiba-tiba beliau yang telepon mengajak bertemu.

Pas ketemu kami mengobrol dan menjelaskan konsep konser ini, beliau sangat mendukung.

Eros ikut menentukan proses kreatif?

Beliau tidak banyak campur tangan urusan kreatif sih, hanya mengingatkan agar tiga karakter musisi ini menyatu dalam satu panggung. Jangan dipisah-pisahkan.

Krisna Prameswara sebagai penata musik juga tidak melakukan banyak perubahan aransemen. Biar karakter masing-masing lagu tidak hilang.

Hanya akan ada sedikit penyesuaian mengikuti karakter masing-masing penyanyi dan musik sekarang. Enggak terlalu ribet sih soal aransemen ini.

Soal pemilihan Harvey Malaiholo yang notabene penyanyi lawas, apa alasannya?

Kami memang sengaja menghadirkan penyanyi dari tiga generasi berbeda. Ada Mas Harvey, Marcell dan Bonita, sementara generasi muda terwakili oleh Wizzy dan Barsena.

Mas Harvey itu pengganti Dian Pramana Poetra yang dalam perjalanan mempersiapkan konser ini meninggal.

Walau sempat terkejut, akhirnya kami coba berdiskusi lagi. Mencari siapa kira-kira sosok yang bisa menggantikan Mas Dian. Sempat coba menghubungi Ahmad Albar dan Iwan Fals, tapi enggak ketemu jadwalnya.

Ada berapa lagu yang akan dibawakan?

Rata-rata sih tiga sampai empat lagu. Bahkan ada yang menyanyikan lima lagu seperti Marcell. Karena dia ada sesi duet dengan Bonita.

Eros-Chrisye-Yockie ini kan punya banyak stok lagu, proses seleksinya bagaimana?

Wah itu panjang banget karena juga melibatkan Mas Eros, Mbak Yanti, dan Mbak Tiwi. Intinya kami ingin menampilkan lagu-lagu yang jarang dibawakan orang dalam konser, tapi tetap tak kalah bagusnya. Misalnya “Marlina” atau “Lenny”. Supaya generasi muda tidak hanya mengetahui lagu-lagu Chrisye yang itu-itu saja, padahal karya beliau banyak sekali.

Tujuan awal kami ingin mengenalkan kepada generasi muda bahwa kita punya tiga musisi yang memberikan warna baru dalam industri musik pop Indonesia.

Lagu “Marlina” kan dari album Puspa Indah (1979). Berarti repertoar konser ini luas juga ya?

Iya. Soalnya waktu kami membedah perjalanan karier mereka bertiga, ada beberapa sosok lain yang sangat besar kontribusinya, seperti Guruh Soekarno Putra, kelompok Gipsy, atau Nasution bersaudara.

Adakah lagu ciptaan Yockie saat memperkuat God Bless yang akan dibawakan?

Tadinya kami pengin banget. Waktu itu pilihannya lagu “Menjilat Matahari”. Setelah kami mengulik aransemennya dan cari penyanyi yang pas, ternyata susah.

Akhirnya batal deh. Yang dibawakan nanti adalah “Musikku Adalah Aku” dari album Musik Saya Adalah Saya, tapi yang versi lebih pendek dari aslinya tanpa menghilangkan karakternya Mas Yockie.

Sebagai musisi, apa yang membuat Eros, Chrisye, dan Yockie tetap relevan hingga sekarang?

Konsistensi dan totalitas mereka dalam bermusik. Sepatutnya diteladani musisi sekarang. Bahwa menjadi musisi bukan sekadar bikin album, jual, lalu selesai.

Mas Chrisye bertengkar dengan ayahnya karena tidak mendapat persetujuan bermain musik. Mas Yockie bahkan harus melepaskan semuanya demi totalitasnya menjadi musisi. Menurut saya itu yang membuat mereka jadi legenda musik Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR