Kriteria novel untuk film layar lebar

Handoko Hendroyono, Salman Aristo, dan Salman Faridi dalam diskusi Dari Buku Ke Film.
Handoko Hendroyono, Salman Aristo, dan Salman Faridi dalam diskusi Dari Buku Ke Film. | Agustina NR /Beritagar.id

Film adaptasi dari novel atau cerpen bukan barang baru bagi pelaku perfilman maupun perbukuan. Praktik ini telah dimulai sejak 1927 hingga sekarang, sehingga ada lebih dari 200 judul film adaptasi --dalam hal ini disebut ekranisasi atau proses suatu karya diangkat dalam bentuk film-- dari novel dan cerpen yang laris di toko buku.

Menurut penulis skenario Laskar Pelangi dan Athirah, sejak pertama kali film diproduksi di dunia, ia telah mengadaptasi karya lain. Karena sebagai sebuah medium, film adalah karya baru dibandingkan medium seni lainnya. Alhasil pelaku perfilman meminjam karya seni lain untuk diadaptasi menjadi sebuah tontonan. Dan enkranisasi ini bukanlah tren, melainkan suatu proses yang telah lama dilakukan.

“Apakah semua buku bisa diadaptasi? Ya bisa, walaupun ada waktunya terkadang. Pertama kali Life of Pi diterbitkan, gue baca. Ini nggak bisa difilmkan buat gue. Ternyata butuh waktu untuk CGI muncul dan akhirnya bisa dibuat oleh Ang Lee,” kata Aris --sapaan Salman Aristo-- kepada peserta diskusi ‘Dari Buku Ke Film’ dalam acara Litbeat Festival, Senin (10/09/2018), di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Berbeda dari Aris, Handoko Hendroyono sebagai produser dan pemilik Filosofi Kopi melihat bahwa buku harus memiliki konten yang menarik. Menarik dari sisi produk (konten bisa dijadikan produk apapun) dan ekosistem yang mendukung.

Salman Aristo berbicara mengenai industri film dari novel.
Salman Aristo berbicara mengenai industri film dari novel. | Agustina NR /Beritagar.id

Handoko mencontohkan seperti Filosofi Kopi. Cerpen Dee Lestari tersebut tak hanya dikembangkan sebagai film, melainkan dikembangkan sebagai kedai kopi hingga clothing line. Di sisi lain, pihak Handoko mendukung komunitas penggemar dan pelaku industri kopi. Dengan demikian keberlangsungan bisnis tak hanya selesai pasca film selesai.

Research dan analisis menjadi sesuatu hal yang penting untuk novel diadaptasi atau tidak. Tentu saja segi kualitas juga menyertainya,” kata pria yang membuat furnitur berdasarkan novel Sang Raja.

Keyakinan praktisi branding tersebut diamini oleh Salman Faridi, CEO Bentang. Bagi Salman, sudah jamak jika sebuah rumah produksi memiliki novel populer atau best selling untuk diadaptasi menjadi film. Tetapi baginya, novel itu harus berkualitas sebagai tontonan. “Buku yang berkualitas itu akan memiliki pembaca.”

Litbeat Festival merupakan kegiatan bagi pelaku perbukuan dan pekerja kreatif untuk saling bertukar gagasan, pengalaman, berbagi ilmu, serta berjejaring. Festival menggelar berbagai acara, seperti seminar, diskusi, hingga master class mengenai transformasi buku ke media lain (film, digital, augmented reality), intellectual property, fenomena dana desa, teknologi percetakan terbaru, ilustrasi, komik, editing, dan masih banyak lagi. Litbeat Festival berlangsung pada 10-11 September 2018 di Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media acara Litbeat Festival.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR