Kulminasi gerakan feminisme di Hollywood

Amanda Seyfried  (kiri) dan Ashley Judd tegas menentang diskriminasi berdasarkan gender
Amanda Seyfried (kiri) dan Ashley Judd tegas menentang diskriminasi berdasarkan gender | Hannibal Hanschke (Seyfried) dan Mike Theiler (Judd) /EPA

Feminisme secara sederhana bisa dimaknai sebagai gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sosial, politik, dan ekonomi dengan laki-laki. Meski gerakan ini sudah berdengung sejak akhir abad ke-18, praktik diskriminasi terhadap perempuan karena gendernya masih berlangsung hingga hari ini di segala sendi kehidupan, termasuk industri film dan televisi di Hollywood, AS, yang diklaim sangat profesional.

Selama bertahun-tahun pekerja seni di Hollywood, terutama perempuan, diam-diam mengalami perlakuan seksisme di lingkungan kerja, kesenjangan upah, kurangnya kesempatan kerja di depan dan belakang kamera, serta jadi korban perlakuan menyimpang lainnya.

Berangkat dari hal tersebut, beberapa aktris mulai berani membongkar praktik penuh diskriminasi yang terjadi di pusat perfilman dunia itu. Ada yang dengan lantang mengakui diri sebagai feminis, sementara yang lain tanpa harus melabeli diri, karena menjadi feminis tak perlu harus melabeli diri dan harus perempuan, menyuarakan hal yang sama.

Majalah Variety no. 47 (6/10/2015) dengan isu utama "Power of Woman" coba mewawancarai para artis yang pernah mengalami perlakuan tidak adil karena jenis kelaminnya dan merekam testimoni mereka.

Ashley Judd (47) menceritakan pengalamannya bertemu salah satu bos studio kenamaan di Hollywood saat membuat film Kiss the Girls (1997). Alih-alih membicarakan kemungkinan mendapatkan tawaran bermain dalam sebuah produksi film sembari menikmati makan malam, Judd malah diajak masuk ke dalam kamar hotel dengan modus memilihkan setelan pakaian yang pas bagi sang bos.

"Kemudian dia menawari saya untuk melihatnya mandi yang tentu saja saya tolak meski dengan dalih saya baru akan melakukannya jika memenangkan trofi Oscar dalam film yang diproduksinya."

Judd cukup lama acuh tak acuh dengan peristiwa tersebut hingga suatu saat tersadar bahwa dia baru saja dilecehkan. "Saya pikir sekarang saatnya mengatakan ini agar semua perempuan memawas diri. Jika diskriminasi terjadi padamu, cepatlah mengambil tindakan," pungkas Judd yang juga aktif dalam organisasi non-pemerintah Equality Now.

Upah yang tidak adil

Patricia Arquette winning Best Supporting Actress /Oscars

Tuntutan lain para aktris ini adalah menghapus kesenjangan upah dibanding yang diterima para aktor. "Tidak ada satupun aktris yang mendapatkan besaran bayaran seperti yang diterima Robert Downey Jr. saat ini. Tidak ada," kata Gwyneth Paltrow.

Mantan istri Chris Martin (vokalis Coldplay) itu mengomentari USD80 juta yang didapatkan rekan mainnya dalam waralaba Iron Man itu sepanjang 2015 versi Forbes. Bandingkan dengan Jennifer Lawrence, aktris berpenghasilan tertinggi sepanjang 2015, yang mendapatkan USD52 juta. Ada perbedaan mencapai USD28 juta.

"Sungguh menyebalkan ketika tahu bahwa pemain laki-laki mendapatkan bayaran lebih besar darimu sementara bobot pekerjaan kalian sama," tambah Paltrow.

Patricia Arquette (47) dalam pidato kemenangannya di ajang Oscar 2015 (22/2) dengan lantang menyerukan kesetaraan upah bagi perempuan di bidang pekerjaan apapun.

Amanda Seyfried (29) juga pernah mendapatkan diskriminasi serupa beberapa tahun lalu saat terlibat dalam sebuah produksi film berskala besar. Meski sama-sama berstatus pemeran utama, bayaran yang diterimanya sangat timpang dibanding aktor yang didampinginya. "Ini bukan tentang seberapa besar kau mendapatkan upah, tapi soal pembagian secara adil."

Kesempatan semakin sedikit

Our Brand Is Crisis - Official Trailer [HD] /Warner Bros. Pictures

Pengalaman Sandra Bullock dalam film Our Brand Is Crisis beda lagi. Sebelum bermain dalam film dengan jadwal tayang 30 Oktober 2015 itu, karakter protagonis yang kini diperankan Bullock (51) awalnya dalam skenario adalah laki-laki.

Karakter agen FBI Kate Macer yang diperankan Emily Blunt dalam film Sicario juga hampir bertransformasi menjadi laki-laki jika saja penulis naskah Taylor Sheridan mengikuti tekanan produser.

"Saya meyakinkan Sheridan untuk tidak mengubahnya karena ketakutan mereka (baca; petinggi studio) pada tokoh utama perempuan tidak beralasan," ungkap sutradara Denis Villenueve dilansir Indiewire.

Hasil studi American Civil Liberties Union yang dipublikasikan melalui Los Angeles Times (12/5) menunjukkan dengan jelas bagaimana kesenjangan besar terjadi karena gender di kalangan pekerja film. Dari 1.300 film yang beredar dan masuk kategori laris selama rentang 2002-2014, hanya ada 4,1% yang disutradarai oleh perempuan.

Jika dikerucutkan, dari 100 film kategori laris sepanjang 2013-2014 keterlibatan sutradara perempuan hanya 1,9%. Tahun lalu adalah periode di mana sineas perempuan paling sedikit mendapat kepercayaan dari studio untuk memegang kendali dalam sebuah proyek film. Disney Pictures dan Warner Bros. bahkan tidak memercayakan satupun film produksinya disutradarai perempuan.

Hasil identik juga ditemukan oleh Center for the Study of Women in Television and Film. Keterlibatan aktris sebagai pemeran utama dalam 100 film terlaris selama periode 2014 ternyata hanya menyentuh angka 12%. Bandingkan dengan tahun 2002 yang masih di kisaran 16%.

Dengan segala ketimpangan yang terjadi, wajar saja jika aktris Kristen Stewart mengaku kecewa jika tidak ada yang menuntut adanya perubahan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR