Layanan pengaliran musik meningkat, lagu digital menurun

Spotify salah satu layanan pengaliran musik yang diminati di AS
Spotify salah satu layanan pengaliran musik yang diminati di AS | Rainer Jensen/EPA

Recording Industry Association of America (RIAA) merilis data penjualan musik semester pertama 2015 di Amerika Serikat, Senin (21/9). Hasilnya, pendapatan dari layanan pengaliran musik 'streaming' meningkat 23 persen. Sementara penjualan lagu digital dengan sistem unduh dari iTunes, Amazon, dan toko lagu digital lainnya menurun empat persen.

Meski secara keseluruhan penjualan musik mencapai USD3,18 miliar (Rp46 triliun) atau turun 0,5 persen dari periode yang sama tahun lalu, Ketua dan Pimpinan RIAA Cary Sherman dalam rilis pers menyatakan bahwa penjualan musik relatif stabil.

"Bisnis musik sedang mengalami transisi. Pun demikian, tetap ada banyak tanda positif seperti pendapatan distributor yang meningkat dan pendapatan dari layanan streaming musik terus tumbuh."

Transisi yang dimaksud Sherman adalah perubahan pola dalam mengonsumsi musik. Ini terlihat dari mulai meningkatnya pemasukan dari sektor pengaliran musik yang mencapai USD1,03 miliar alias menyumbang 33 persen dari total pemasukan industri musik di AS.

Penyumbang dari kategori tersebut datang dari layanan pengaliran musik berbayar (seperti Rhapsody, Spotify, dan lainnya), pengaliran radio daring (Pandora, SiriusXM, dan radio internet lainnya), serta layanan pengaliran musik dan video non-berbayar (YouTube, Vevo, dan Spotify versi gratis).

RIAA belum menghitung pemasukan dari Apple Music yang baru meluncurkan versi uji coba alias gratis mulai Juni 2015.

Meningkatnya konsumsi musik melalui streaming berimbas pada pendapatan di sektor unduh lagu tunggal 'single' yang mencatat pemasukan USD687,6 juta. Menurun dari pendapatan pada semester pertama tahun lalu yang mencapai USD759,3 juta. Beruntung sektor unduh album digital tidak ikut terseret turun, tapi justru meningkat dari USD548,3 juta menjadi USD571,5 juta.

Sementara itu, rak-rak yang memajang cakram padat alias compact disc (CD) dipastikan semakin berdebu seturut berkurangnya minat beli masyarakat. Hanya 41 juta keping CD yang terjual selama periode Januari hingga Juni, berbanding 56,6 juta keping pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pun penjualan lagu tunggal dalam format tersebut yang menukik tajam dari USD3,4 juta menjadi USD600 ribu.

Piringan hitam 'vinyl', saudara tua CD, justru semakin memperlihatkan peminat yang diiringi berkembangnya toko-toko piringan hitam independen. Penjualan di sektor ini meningkat 52% dibanding tahun 2014, alias USD221 juta berbanding USD145,8 juta.

Kenyataan bahwa pengaliran musik berbayar sangat diminati di AS berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia. Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Dailysocial (9/9) bekerjasama dengan JakPat terhadap 1003 responden di Indonesia, 88 persen mengaku ogah berlangganan jika harus berbayar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR