Lola Amaria menggambarkan kehidupan berwarna tunanetra lewat film Jingga

Jajaran pemain Jingga, dari kiri ke kanan: Aufa Assagaf, Hifzane Bob, sutradara Lola Amaria, Hany Valery dan Qausar Harta Yudana dalam acara press screening Jingga di Kineforum, Jakarta (3/2/2016).
Jajaran pemain Jingga, dari kiri ke kanan: Aufa Assagaf, Hifzane Bob, sutradara Lola Amaria, Hany Valery dan Qausar Harta Yudana dalam acara press screening Jingga di Kineforum, Jakarta (3/2/2016). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Lewat film Jingga, produser sekaligus sutradara Lola Amaria ingin menekankan bahwa kehidupan kaum tunanetra tidak selalu gelap, namun justru berwarna-warni.

Jingga menceritakan perjalanan empat anak muda yang merupakan penyandang tunanetra di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Kondisi mata mereka berbeda-beda, juga penyebab mereka menyandang tunanetra. Kesamaan mereka satu: kecintaan pada musik. Keempatnya membentuk sebuah band yang mengincar dapur rekaman, namun tentunya beberapa tantangan harus dilalui terlebih dulu.

Dalam acara press screening film Jingga di Kineforum, Jakarta (3/2/2016), Lola mengatakan bahwa ia ingin filmnya menginspirasi dan juga memiliki nilai informatif. "Film mengenai penderita tunanetra sudah banyak, namun tidak banyak yang membahas tuntas seperti Jingga," ujar Lola.

Beberapa kondisi yang menyebabkan mata seseorang menjadi buta dijelaskan dalam Jingga. Misalnya karakter utama film ini yang bernama Jingga (Hifzane Bob).

Ia terlahir bisa melihat, namun menderita low vision setelah tertabrak sepeda motor sewaktu anak-anak. Beberapa tahun kemudian akhirnya mengalami kebutaan setelah berkelahi dengan teman sekolahnya.

Atau Nila (Hany Valery). Saat dalam kandungan, ibunya terkena virus sehingga Nila terlahir buta. Magenta (Aufa Assagaf) menjadi tunanetra sejak balita dikarenakan kasus malpraktek. Sedangkan Marun (Qausar Harta Yudana) menjadi tunanetra setelah kampungnya terkena paparan limbah merkuri.

Nama-nama karakter ini terinspirasi dari warna. Lola mengatakan alasannya adalah kehidupan kaum tunanetra tidak selalu gelap, melainkan berwarna-warni. Saat melakukan riset di SLB bagian A, Bandung, yang juga menjadi lokasi syuting Jingga, Lola memiliki kesimpulan demikian.

"Nama karakter utamanya adalah Surya Jingga, seperti matahari saat terbit yang berwarna jingga. Tidak ada matahari yang terbit tanpa tenggelam terlebih dulu. Hidup Jingga tidak berakhir setelah ia divonis buta. Ia masih bisa menginspirasi banyak orang," jelas sutradara berusia 37 tahun ini.

Mengenai target yang ingin dicapai melalui Jingga, Lola mengaku tidak muluk-muluk. "Saya bikin film tidak pernah muluk-muluk, apakah itu untuk festival, atau mengincar jumlah penonton. Saya hanya menyukai nikmatnya proses pembuatan film," jelas aktris utama Ca-Bau-Kan (2002) ini.

Jingga akan tayang pada tanggal 25 Februari. Selain empat anak muda yang menjadi karakter utama, film ini dibintangi oleh Ray Sahetapy, Keke Soeryokusumo dan Nina Tamam.

JINGGA trailer /Jingga Movie
BACA JUGA