FILM INDONESIA

Love for Sale 2 bukan lagi hanya tontonan untuk dewasa

Sesi foto mereka yang terlibat dalam produksi Love for Sale 2 di Kantor Visinema Group, Cilandak, Jakarta Selatan (4/9/2019)
Sesi foto mereka yang terlibat dalam produksi Love for Sale 2 di Kantor Visinema Group, Cilandak, Jakarta Selatan (4/9/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Mengusung tema perihal cinta dan keluarga, film Love for Sale 2 (LfS 2) dipastikan bisa dinikmati oleh rentang usia penonton lebih luas.

Garansi tersebut diucapkan produser eksekutif Angga Dwimas Sasongko. Dalam jumpa pers peluncuran teaser dan pengumuman para pemain LfS 2 di Kantor Visinema Group, Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan (3/9/2019).

“Konsep film ini sengaja kami olah agar lebih gampang diakses oleh lebih banyak penonton. Kalau yang pertama dapat rating 21 plus, untuk sekuelnya ini kami turunkan batas minimal usia penontonnya,” terang Angga.

Respons Della Dartyan mendengar apa yang dikatakan Angga tak lain kecuali tertawa. “Kerjaan saya jadi lebih ringan. Ha-ha-ha,” kelakar Della yang tetap memerankan tokoh Arini.

Menandai debutnya bermain film dalam LfS yang tayang tahun lalu, Della diharuskan melakoni beberapa adegan mesra dengan Gading Marten, pemeran tokoh Richard Achmad.

Beberapa adegan mesra itu pula yang akhirnya membuat film ini mendapatkan stempel tontonan untuk umur 21 tahun ke atas dari Lembaga Sensor Film.

Dengan pangsa pasar yang sempit tadi, LfS total mendapatkan 156.774 penonton sejak pertama kali tayang di bioskop pada 15 Maret 2018.

Apresiasi lain yang didapatkan film datang dari beberapa ajang penghargaan, seperti Festival Film Indonesia, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan Festival Film Tempo.

Bukan semata ingin meraup lebih banyak penonton sehingga film LfS 2 tidak mengikuti jejak pendahulunya yang mengantongi cap “21+”, tapi juga karena materi ceritanya yang lebih menyentuh banyak orang.

Kendali utama penceritaan masih dilakukan Andibachtiar Yusuf bersama M. Irfan Ramli. Menghabiskan tujuh draft hingga mencapai titik yang dirasakan pas.

Richard yang dalam film pertama menjadi tokoh utama kini digantikan posisinya oleh Arini. Kehadiran Richard bahkan sama sekali tidak ada dalam film ini.

Sungguh pun cinta masih menjadi tema besar yang membungkus film ini, tapi unsur keluarga yang mengelilinginya sangat dominan.

Penggambaran ini sangat kontras dengan pendahulunya. Dikisahkan Richard yang kelar tutup toko tinggal seorang diri. Hanya ada kura-kura peliharaan bernama Kelun yang menemaninya menghabiskan malam.

“Tantangan yang kami hadapi dalam film ini adalah bagaimana caranya menghadirkan lebih banyak tokoh dan karakter, tapi tetap bisa memiliki rasa seperti yang dihadirkan Love for Sale pertama,” ungkap Ipang, sapaan akrab Irfan Ramli.

Mereka yang meracik cerita film ini bersepakat menghadirkan LfS 2 sebagai kisah yang mewakili banyak orang. Sehingga dengan demikian juga bisa kembali dirayakan oleh banyak orang. Bahkan diharapkan lebih banyak dibandingkan yang pertama.

Target meraup lebih banyak penonton di atas kertas seharusnya bisa tercapai saat film ini tayang yang direncanakan pengujung 2019.

Alasannya bukan hanya karena bisa ditonton lebih banyak rataan usia, tapi juga penceritaannya yang lebih universal, plus kehadiran lebih banyak pemain.

Mereka yang bergabung dalam film ini selain Della, antara lain Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Yayu Unru, Egy Fedly, Putri Ayudya, Taskya Namya, Abdurrahman Arif, Revaldo, dan Dayu Wijayanto.

Jangan lupakan aspek lain yang tidak kalah krusialnya dalam menggaet atensi penonton, yakni tim promo dan pemasaran. Visinema menggenjot masa kerja tim ini jauh lebih lama dibandingkan yang pertama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR