FESTIVAL FILM

Madani Film Festival 2019 ambil tema rekonsiliasi

Kiri ke kanan, Inayah Wahid, Hikmat Darmawan, dan Sugar Nadia saat mengunjungi kantor Beritagar.id pada Jumat (18/10/2019).
Kiri ke kanan, Inayah Wahid, Hikmat Darmawan, dan Sugar Nadia saat mengunjungi kantor Beritagar.id pada Jumat (18/10/2019). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Tahun ini, Madani Film Festival kembali diadakan. Memasuki tahun kedua, festival berisi film-film yang mengangkat kehidupan umat Muslim sedunia ini mengambil tema Reconcile (rekonsiliasi).

Rekonsiliasi kerap dipandang memiliki arti sebagai penyatuan dua kubu yang bertentangan. Padahal, artinya bisa lebih luas dari itu.

"Reconcile nggak melulu tentang film-film yang ada dua kubu bertentangan, lalu ada rekonsiliasi. Mungkin bisa tentang Pak BJ Habibie dengan situasinya, ketika agama dan ilmu pengetahuan sering bertabrakan. Narasi reconcile bisa jadi sangat banyak,” ujar Inayah Wahid, seniman yang menjadi salah satu board dalam Madani Film Festival

Inayah mengunjungi kantor Beritagar.id pada Jumat (18/10/2019) bersama jajaran board lain, yaitu Hikmat Darmawan (kritikus film) dan Sugar Nadia (Program Director Madani Film Festival).

“Kalau dikembalikan pada makna kamus, setidaknya dalam bahasa Inggris, reconcile itu menjadikan yang terpisah jadi satu kesatuan yang harmonis,” tambah Hikmat Darmawan.

Lagipula, istilah “rekonsiliasi” sebenarnya tak asing bagi umat Muslim. Dalam bahasa Arab, kata yang mendekati “rekonsiliasi” adalah “islah”.

“Semacam upaya menjembatani dua atau lebih hal yang berbeda. Belum tentu bertentangan, tapi orang persepsinya selalu yang bertentangan. Itulah mengapa dekat pengertian rekonsiliasi dan konflik. Padahal, beda ya beda saja,” jelas Hikmat.

Ketakutan manusia dalam menghadapi perbedaan itu terekam dalam film Yomedinne (2018), sebuah karya sutradara A.B Shawky dari Mesir yang jadi pembuka Madani Film Festival 2019.

Film yang menjadi nomine Palme d’Or dalam Festival Film Cannes 2018 itu berpusat pada seorang penganut Koptik yang menderita penyakit lepra sebagai tokoh utama. Wajah yang rusak bikin ia dijauhi orang, tapi ia menemukan sosok keluarga dalam diri seorang bocah Muslim yatim piatu.

“Ada wajah yang rusak sebagai penyakit, secara harfiah itu orang yang kita selalu pejamkan mata jika melihat dia. Tapi dia ada di pusat kamera dan filmnya. Dan kita dipaksa menatap wajah itu. Itu salah satu yang kami embrace,” ujar Hikmat.

Penyampaian pesan dari pembuat film pada penonton senada dengan hal yang menjadi latar belakang Madani Film Festival. “Film adalah media yang tepat. Orang bisa menonton, orang yang membuat juga bisa menyampaikan apa yang dia pandang. Dari situ, terjadi dialog,” ujar Hikmat.

Sebagai sebuah medium audio-visual, film dapat memberi pengaruh kepada pemikiran orang. Ini diamini Sugar Nadia. Saat berkuliah, ia suka nonton di Kineforum, bioskop alternatif yang memberikan ruang untuk film-film non-mainstream.

Melalui film, Sugar merasa jadi lebih punya empati terhadap kaum yang termarjinalkan seperti LGBT, misalnya. “Film sangat berpengaruh untuk mengubah perspektif kita jadi lebih terbuka,” ujar Sugar.

Inayah menambahkan, “Menjadi terbuka tanpa sepakat juga bagian dari rekonsiliasi. Ada dunia Muslim yang belum pernah saya lihat sebelumnya dan mungkin saya enggak sepakat. Tapi ya sudah, itu ada.”

“Menyadari bahwa kita berbeda saja sudah merupakan salah satu langkah awal rekonsiliasi,” ujar Hikmat.

Madani Film Festival 2019 digelar selama tujuh hari (21-27 Oktober 2019) di delapan venue, yaitu XXI Epicentrum, CGV FX Sudirman, Binus JWC Senayan, Binus Alam Sutera, IFI Thamrin, @america, Goethe Institute, dan Indiskop.

Ada 29 film panjang, pendek, dan dokumenter yang akan diputar. Di antaranya dari luar negeri ada Yomeddine (Mesir), 3 Faces (Mesir), Bilal: A New Breed of Hero (UEA), He Named Me Malala (AS), Le Challat de Tunis (Tunisia), dan Beauty and the Dogs (Prancis-Tunisia).

Sementara, dari industri film nasional ada Habibie dan Ainun (2012), Para Perintis Kemerdekaan (1977), Uang Panai (2016), Kantata Takwa (2008), dan Jack (2019).

Selain itu, ada public lecture dari Akram Shilby, sineas dokumenter asal Amerika Serikat yang membuat Waiting at the Door, sebuah dokumentasi mengenai pengungsi Suriah.

Jadwal lengkap Madani Film Festival dapat dilihat di tautan berikut.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media Madani Film Festival 2019.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR