FILM INDONESIA

Marlina, semangat feminisme di tengah budaya patriarki

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak akan tayang pada 16 November 2017 di Indonesia.
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak akan tayang pada 16 November 2017 di Indonesia. | Cinesurya /Twitter

Tak mudah bagi perempuan sebatang kara mencari keadilan di tengah budaya patriarki. Namun itulah yang dihadapi Marlina, janda yang kehilangan anak dan suaminya, dalam Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts).

Film arahan Mouly Surya tersebut tayang perdana dalam Quinzaine des realisateurs --rangkaian Festival Film Cannes-- pada 24 Mei 2017. Setelah itu, film diputar di New Zealand Film Festival, Melbourne Film Festival, hingga Busan International Film Festival 2017.

Pada 16 November mendatang, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak akan diputar di Indonesia. Beritagar.id berkesempatan menyaksikan film pada hari Kamis (9/11/2017) di XXI Plaza Indonesia, Jakarta.

Di bawah rumah produksi Cinesurya, Kaninga Pictures, Shasha & Co Production, Astro Shaw, Hooq Originals, Purin Pictures, film mendapat ulasan positif dari kritikus.

Salah satunya Maggie Lee dari Variety.com, ia menyebut Mouly adalah pelopor film bergenre Satay Western atau film koboi Indonesia. Hal itu terlihat dari latar film di dataran gersang Sumba, Nusa Tenggara Timur, kekerasan, perampokan, penggunaan senjata tajam, hingga adegan menunggangi kuda.

Ketimpangan gender dan semangat feminisme

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak menggambarkan realisme sosial seperti ketimpangan gender dan semangat feminisme seorang perempuan. Mouly Surya dan Rama Adi sebagai penulis naskah serta ide cerita oleh Garin Nugroho, menghadirkan budaya yang sangat patriarki, di mana perempuan hanya berurusan soal dapur dan kasur, perempuan harus tunduk kepada laki-laki.

Ya, Marlina (Marsha Timothy) memang malang. Ia tinggal di rumah terpencil di tanah kering Sumba. Ia hanya peternak miskin, yang bahkan menguburkan suaminya pun tidak bisa. Sial, rumah Marlina kedatangan pentolan geng Markus yang mengendarai motor. Seolah punya kuasa, Markus (Egi Fedly) merampok semua ternak bahkan menyuruh Marlina memasak sup ayam karena enam orang teman Markus akan datang.

Tentu Marlina tak memiliki kekuatan melawan gerombolan rampok tersebut. Di sini, Mouly dan Rama menonjolkan semangat feminisme Marlina. Ia meracuni empat orang teman Markus, dua orang lainnya pergi membawa ternak. Ia tetap tenang. Tetapi tidak untuk Markus, lelaki kerempeng berambut gondrong itu justru memperkosanya. Tak butuh waktu lama, Marlina memenggal kepala Markus dengan sekali sabetan pedang.

Dari tragedi menuju komedi

Film dibagi empat babak. Babak pertama, perampokan. Babak kedua, perjalanan. Babak ketiga, pengakuan, dan babak terakhir adalah kelahiran. Pasca membunuh, Marlina membawa kepala Markus ke kantor polisi. Ia mencari keadilan karena Markus cs telah merampok ternak dan memerkosa dirinya. Dalam perjalanan menuju kantor polisi, MarlinaTimothy bertemu dengan temannya, Novi (Dea Panendra), yang hamil 10 bulan, supir truk, dan nenek yang akan menikahkan cucunya.

Dari babak pertama ke babak kedua, Mouly seperti mengajak penonton --setidaknya saya-- naik roller coaster. Ketegangan sangat terasa pada babak pertama, apalagi ketika Marlina memenggal kepala Markus sebagai tanda balas dendam. Meski demikian adegan tak memperlihatkan kucuran darah atau pengambilan gambar secara close-up. Adegan ini mengingatkan saya terhadap adegan film Quentin Tarantino (Kill Bill atau Django Unchained) namun versi ringan.

Babak kedua hingga pertengahan babak ketiga, sutradara Fiksi memberikan penyegaran melalui dialog antar perempuan yang menggelitik. Misalnya, Marlina tak merasa berdosa setelah membunuh atau anggapan ibu hamil sembilan bulan tetapi belum menunjukkan tanda-tanda melahirkan harus sering jongkok atau berhubungan seksual dengan suaminya.

Belum lagi, perasaan bersalah Marlina yang merasa diikuti tubuh tanpa kepala. Tak mudah menjaga mood penonton dari tragedi menuju komedi, tetapi Mouly melakukannya dengan baik.

Proses mencari keadilan

Mencari keadilan di tengah adat istiadat patriarki tidaklah gampang. Marlina hanya memiliki bukti kepala Markus. Namun jika ia melaporkan kepala tersebut, ia malah akan dituduh sebagai pembunuh meski ia hanya membela diri.

Akting Marsha Timothy sebagai perempuan pemurung nan tegar sangat terasa pada diri Marlina. Ia mampu berbagi emosi ketika melaporkan perampokan dan pemerkosaan. Tetapi polisi membutuhkan bukti dan ia tak memilikinya. Apalagi polisi memintanya visum dari dokter yang membutuhkan waktu sebulan, karena alat visum menunggu dana "turun" dari pusat.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (di Bioskop 16 NOVEMBER 2017) /cinesurya

Seperti kondisi sosial, Marlina merupakan gambaran korban yang jauh dari keberpihakan hukum. Namun akting memikat juga terlihat pada Egi, Dea, Yoga, sampai Indra Birowo.

Menyaksikan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak tak hanya melihat kisah sang tokoh utama. Lebih dari itu, sinematografer Yunus Pasolang memberikan tangkapan lensa alam yang luar biasa indah, seperti ingin membawa penonton merasakan atmosfer Sumba.

Tanah gersang berpadu dengan langit dan laut biru atau jalanan yang membelah padang savana atau sorot oranye matahari. Dan sentuhan musik Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani semakin mengukuhkan bahwa penonton sedang melihat film western, bukan di Collorado, Amerika Serikat, tetapi di Sumba, Indonesia. Ya, satay western.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR