FILM INDONESIA

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak mudik

Para pemain, sutradara, dan produser film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pada jumpa pers di CGV Cinemas, Grand Indonesia, Jakarta, Senin (25/9/2017).
Para pemain, sutradara, dan produser film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pada jumpa pers di CGV Cinemas, Grand Indonesia, Jakarta, Senin (25/9/2017). | Kania Luthfiani /Beritagar.id

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pulang kampung. Film garapan Mouly Surya ini bakal mulai tayang di tanah air secara serentak pada 16 November 2017.

Film ini memang tak lazim karena tayang di Indonesia setelah melanglang buana ke berbagai festival mancanegara. Salah satu yang bergensi adalah pemutaran Marlina di Festival Film Cannes, Prancis, pada Mei 2017.

Lantas sepanjang Agustus, Marlina diputar di Festival Film Selandia Baru dan Melbourne Film Festival (Australia). Sementara pada awal September, Marlina tayang di Festival Film Toronto (Kanada) dan disebut Mouly mendapat sambutan cukup meriah dari para penonton dan kritikus.

"Ada salah satu penonton mengatakan bahwa isu yang dibicarakan di film ini cukup berat, tapi filmnya tetap bisa dinikmati," ujar Mouly dalam jumpa pers di CGV Cinemas, Grand Indonesia, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Karena respon yang bagus, film ini pun mendapat kesempatan untuk beredar di 18 kawasan Amerika, Eropa, dan Asia. Selain kualitas film, Marlina kebetulan juga disokong oleh beberapa lembaga asing.

Film produksi Cinesurya dan Kaninga Pictures ini juga dikerjakan bersama Sasha & Co. Production (Prancis), Astro Shaw (Malaysia), Hooq Originals (Singapura), dan Purin Pictures (Thailand). Tidak ketinggalan pula dukungan Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Prancis melalui Cinemas du Monde dan pusat sinema Institut Prancis (CNC).

Mouly dan segenap pendukung film ini tak sabar melihat Marlina tayang di Indonesia. "Saya senang sekali karena bagaimana pun seindah-indahnya luar negeri tetap rumah sendiri lebih nyaman," kata Mouly soal Marlina yang bakal tayang di Indonesia.

Marsha Timothy, aktris utama film ini, berharap Marlina bisa diterima oleh penonton Indonesia. Aktris 38 tahun ini pun mengingatkan tak perlu khawatir pada genre Marlina.

"Banyak yang menilai film ini mengerikan. Padahal (film) ini drama banget, cuma ada pembunuhannya," istri aktor Vino G. Bastian ini dalam kesempatan yang sama.

Marsha memerankan Marlina, seorang janda asal Sumba (Nusa Tenggara Timur). Inti kisahnya adalah pembalasan dendam Marlina terhadap tujuh orang perampok.

Turut bermain dalam film ini adalah Egi Fredly, Dea Panendra, dan Yoga Pratama. Sedangkan kursi produser diduduki Parama Wirasmo (suami Mouly) dan Fauzan Zidni.

Satay Western

Marlina bukan film dengan gaya lazim di Indonesia. Mouly dkk. sengaja membuatnya dengan genre Satay Western alias film koboy. Apa maknanya?

"Film western, film koboy model film zaman dulu seperti Django. Tapi itu film dari Amerika. Ada juga genre Spaghetti Western, film western yang dibikin orang-orang Italia.

"Marlina ini juga film western tapi ala Indonesia. Makanan apa ya dari Indonesia? Ya Satay gitu istilahnya" tukas Mouly.

Menurut Rama, panggilan akrab Parama, ide Marlina juga melibatkan sutradara senior Garin Nugroho. Bahkan Garin pula yang mengusulkan agar film ini mengambil latar dan syuting di Sumba.

Pertemuan dengan Garin terjadi pada akhir 2014 dan saling berbagi ide cerita. Pada akhirnya Rama dan Mouly menyusun skenario.

"Ada big story-nya yang diberikan ke kami. Terserah kami mau mengembangkan ceritanya seperti apa. Lalu kami putuskan dan menulis ulang berdasarkan cerita mas Garin," ujarnya. Pengembangan cerita yang dilakukan Rama dan Mouly adalah bukan hanya kisah seorang perempuan Sumba.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR