FESTIVAL FILM

Marlina siap bertarung di ajang Oscar 2019

Sebuah adegan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
Sebuah adegan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak | Cinesurya Pictures dan Kaninga Pictures

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak akan menjadi perwakilan Indonesia untuk ajang Academy Awards ke-91 yang digelar pada 24 Februari. Dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (18/9/2018), film garapan sutradara Mouly Surya ini dikirim untuk berpartisipasi dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Tentu saja tidak serta merta Marlina bisa langsung bersaing memperebutkan Piala Oscar. Marlina akan melewati proses screening lebih dulu. Dalam proses itu, para juri Academy akan menyortir ratusan film dari luar Amerika Serikat (AS).

Marlina dipilih oleh Komite Seleksi Film Indonesia yang dipimpin oleh aktris senior Christine Hakim. Mengapa Marlina terpilih, padahal film itu sudah lama dirilis dan tayang pada November 2017?

Ini berkaitan dengan salah satu syarat. Academy of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS) mewajibkan film yang diajukan harus sudah tayang selama tujuh hari di negara asal mulai 1 Oktober 2017 hingga 30 September 2018 sehingga Marlina tidak melanggar aturan main.

Christine menyatakan bahwa keputusan memilih Marlina sudah sesuai dengan pedoman Foreign Languange 2018 dan regulasi dari Academy. "Penting untuk digarisbawahi, ini bukan pemilihan film seperti festival, tapi kami memilih yang sesuai saja," ujar Christine.

Meski begitu, juri Academy menginginkan bahwa film yang diajukan harus sudah ditayangkan ke publik non-bioskop sebelum rilis secara komersil. Marlina memenuhi syarat ini karena tayang perdana dalam Festival Film Cannes pada Mei 2017.

Selain sesuai persyaratan, anggota Komite Seleksi Film Indonesia sepakat bahwa Marlina sesuai dengan tema dan isu sosial yang tengah hangat di AS.

Produser Fauzan Zidni mengatakan bahwa pergerakan #MeToo di negeri Paman Sam juga jadi bahan pertimbangan bagi komite.

Tagar tersebut bermula saat beberapa aktris mengaku telah dilecehkan oleh produser terkenal Harvey Weinstein. Kasus itu memicu penyebaran keberanian insan film di seluruh dunia untuk membuka diri atas persoalan gender dan rasial.

Marlina dianggap cocok dengan isu tersebut. Film ini mengisahkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) yang mencari keadilan.

Setelah suaminya meninggal, kawanan perampok menyerbu dan mengancam akan memerkosa Marlina. Ia melawan dan membunuh semua penjahat. Keesokan hari ia menenteng kepala pimpinan rampok (Egi Fedly) dan mengarungi perjalanan untuk mencari keadilan.

Terpilihnya Marlina sebetulnya tidak mengherankan. Bisa dibilang film berdurasi 93 menit ini merupakan salah satu film Indonesia paling berprestasi selama beberapa tahun belakangan ini.

Pertama, film ini berhasil menembus kategori Director's Forthnight dalam Cannes Film Festival di Prancis pada Mei 2017.

Lalu Marsha memenangi Aktris Terbaik dalam Sitges International Fantastic Film Festival ke-50 di Catalunya, Spanyol, Oktober 2017. Dalam Festival Film Wanita Internasional yang digelar di Sale, Maroko pada 25-30 September 2017, Marlina memenangi kategori Skenario Terbaik.

Film ini juga memenangi penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival (FFAFF) di Warsawa, Polandia, pada 15-22 November. Selain itu, Marlina tayang di berbagai festival seperti Toronto International Film Festival (TIFF), Melbourne International Film Festival, dan New Zealand Film Festival.

Kritikus luar negeri, terutama AS, pun menyukai film yang berlatar di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ini. Dalam situs pengepul ulasan Rotten Tomatoes, Marlina memperoleh rating 97 persen dengan nilai rata-rata 7,7 dari 10 poin. Dari 35 kritikus, hanya satu yang memberi nilai jelek.

Marlina vs Buffalo Boys

Film Indonesia yang akan bersaing untuk menjadi nomine Film Berbahasa Asing Terbaik pada Oscar 2019 tak hanya Marlina. Film Buffalo Boys yang tayang di Indonesia tahun ini juga turut serta. Namun, film garapan Mike Wiluan itu mewakili Singapura.

Maklum, Buffalo Boys merupakan proyek patungan Zhao Wei Films (Singapura) dan Infinite Frameworks (Indonesia). "Ini semua soal meningkatkan industri film agar tetap berkelanjutan, apakah film itu Indonesia, Thailand atau negara lain," ujar Ketua Komisi Film Singapura, Joachim Ng, kepada Strait Times (4/9).

Menurut Ng, itu tidak masalah sebab Buffalo Boys memberi nilai tambah pada Singapura dengan memberi kesempatan kepada warga untuk bekerja dalam proses produksi.

"Kami yakin film ini sealiran dengan para penonton, tak hanya di Asia tapi juga secara internasional, serta membuka jalan untuk film-film berikutnya yang dibuat oleh Singapura," tutup Ng.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR